Ketua Pospera Sulteng Tanggapi Kasus Hoax Yahdi Basma

oleh -

PALU, SULTENGNEWS.com – Kasus penyebaran berita hoax yang melibatkan Anggota DPRD Sulteng Yahdi Basma, mendapat perhatian dari berbagai pihak, tak terkecuali Pos Perjuangan Rakyat (Pospera) yang merupakan organisasi perjuangan rakyat.

“Kasus Penyebar Hoax yang disangkakan kepada Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah Yahdi Basma (YB), adalah situasi yang tidak bisa terhindarkan pada situasi saat sekarang. Informasi atau gambar hoax di media sosial akan selalu muncul dalam kondisi apapun dan siapapun dapat mengalami atau melakukan hal serupa,” ujar ketua DPD Pospera Sulteng, Aim Ngadi melalui rilis yang dikirim ke redaksi sultengnews.com pada Minggu (7/7/2019).



Menurut Aim Ngadi, dalam suasana politik yang memanas pasca Pemiliahn Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) pada 17 April 2019 lalu, tentu sensitifitas informasi yang beredar sulit untuk dihindari.

Melihat sampel atau bukti yang di sebar oleh YB di media sosial dan beberapa grup WA, merupakan bentuk provokatif nyata oleh oknum yang tidak bertanggungjawab yang hanya menginginkan konflik ditengah masyarakat. Dan sekarang oknum tersebut merasa menang karena sudah membuat kedua pejabat publik berseteru ditengah masyarakat.

“Untuk merespon situasi tersebut, kami memintah kepada masyarakat umum maupun para nitizen untuk tidak memperkeruh suasana. Kelompok – kelompok yang ada di kedua belah pihak, agar menahan diri untuk tidak memanas – manasi situasi ini,” katanya.

Aim Ngadi meminta kepada semua pihak, agar menyerahkan sepenuhnya masalah ini kepada pihak kepolisian untuk membuktikan dan mengungkapkan siapa dalang dibalik dari editan judul berita “Longki Djanggola Membiayai People Power di Sulteng”.

Dia berharap agar semua pihak memberikan keleluasaan kepada pihak kepolisian untuk fokus mengusut siapa orang yang pertama kali memposting dan menyebarkan editan judul berita tersebut, yang telah mengganggu ketentraman masyarakat umum secara luas.

“Agar situasi dan polemik ditengah masyarakat kembali normal, ada baiknya kedua belah pihak dengan kerendahan hati membuka diri untuk saling memafkan agar tidak larut dan berkepanjangan. Sebab situasi masyarakat di sulawesi tengah, masih belum stabil pasca bencana 10 bulan lalu,” harapnya. FUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *