Kepala BKKBN Ajak Masyarakat Rubah Mindset Dari Prewedding Jadi Prakonsepsi

oleh -
Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo saat mengunjungi Rumah Sakit Dokter Sindo Trisno Senin (27/09/2021). FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo mengajak masyarakat untuk merubah mindset dari prawedding menjadi prakonsepsi sebagai upaya dalam mengatasi stunting di Indonesia khususnya di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Hal itu disampaikan dr.Hasto Wardoyo saat mengunjungi Rumah Sakit Dokter Sindo Trisno disampingi Kepala BKKBN Perwakilan Sulteng, Maria Ernawati, Senin (27/09/2021).

“Strateginya begini saya sudah hitung-hitungan sama Bu Erna (BKKBN) Perwakilan Sulteng, disini jumlah penduduknya berapa itu harus dihitung, disini penduduknya hampir 3 Juta, saya sudah bilang setiap 1 juta yang hamil itu 12 ribu (perempuan hamil), kemudian kali 3 itu sudah 36 ribu (perempuan hamil) . Jadi 36 ribu ini harus betul-betul kita kejar, kita dampingi jangan sampai melahirkan anak dengan panjangnya kurang dari 48 centimeter dan berat badannya 2 setengah,”ujar dr.Hasto Wardoyo kepada sultengnews.

Sebab, menurut dr. Hasto Wardoyo,sumber stunting dikarenakan anak yang lahir lebih awal dan kelahir anak yang tidak memenuhi standar BKKBN. Dr. Hasto Wardoyo juga menghintung jika angka perempuan hamil sebanyak 36 ribu penduduk, maka dalam setahun terdapat 18 ribu perempuan yang melakukan pernikahan di Sulteng. Dari  18 ribu yang menika itu, 80 persen yang mengalami kehamilan.

“Karena sumber stunting mereka yang lahir yang belum waktunya, mereka yang lahirnya kurang standar, itu bisa dicegah luar biasa. Itu di Sulteng kalau lahir 36 ribu itu yang nikah setahun 18 ribu. Saya bukan dukun tapi hafal sedikit, saya belum liat data statistik tapi saya tau yang nikah itu 18 ribu dan yang hamil 80 persen,”jelasnya.

Sehingga, dr. Hasto Wardoyo mengatakan, presentase 80 persen itu, ada 14 perempuan hamil di Sulteng. Hanya saja, kata dia, dalam pernikahan juga tidak sedikit perempuan yang mengalami anemi. Akibatnya, seorang remaja puti melahirkan anak dalam kondisi stunting.

“Kira-kira yang hamil sebesar 14 ribu, saya bisa melihat di Sulawesi Tengah ini yang hamil 14 ribu kurang lebih, ini kalau yang baru saja mau nikah ini banyak yang anemi. Remaja putri itu mereka akhirnya melahirkan anak stunting,”kata dr. Hasto Wardoyo.

Olehnya itu, dr. Hasto Wardoyo mengajak masyarakat untuk merubah mindset dari prewedding menjadi prakonsepsi untuk mendapatkan penegtahuan soal reproduksi dan melakukan pemeriksaan kesehatan.

“Saya mengajak kampanye rubahlah mainsetnya dari prewedding yang habis puluhan juta kita jadikan prakonsepsi bagaimana menyiapkan ketemunya sperma sama telur. Kan murah menyiapkan sperma sama telur itu, 3 bulan sebelum nikah periksa Hb, berat badan. Kan bisa ketahuan,”terangnya.

“Istri suami kalau periksa sperma boleh kalau tidak juga tidak apa-apa, tapi ngerokoknya di kurangi, harus memperbaiki gizinya,”lanjut dr. Hasto Wardoyo

“Kita rubah mainsetnya yang murah tapi penting,”tandasnya.DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.