Kepala BI Sulteng Beri Pemahaman Ekonomi Kepada Jurnalis

oleh -

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah (Sulteng), Miyono saat menyampaikan materi dihadapan para jurnalis dalam kegiatan Capacity Building Ekonomi dan Keuangan di salah satu Kafe Wilayah Kalora, Kabupaten Sigi, Selasa (16/7/2019). FOTO : MAHFUL/SN

PALU, SULTENGNEWS.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah (Sulteng), Miyono memberikan pemahaman ekonomi dan keuangan kepada para Jurnalis di Kota Palu melalui kegiatan Capacity Building Ekonomi dan Keuangan di salah satu Kafe Wilayah Kalora, Kabupaten Sigi, Selasa (16/7/2019).

Kegiatan ini, diikuti puluhan jurnalis yang terdiri dari Pemimpin Redaksi (Pemred) dan wartawan peliputan ekonomi dari cetak, radio dan online yang biasa meliput kegiatan BI Perwakilan Sulteng.

Dalam kegiatan ini, Miyono menjelaskan banyak hal berkaitan dengan masalah ekonomi mulai dari perbankan, pasar modal, investasi hingga ekspor dan impor.

“Ini kalau kuliah, bisa beberapa semester untuk membahasnya,” kata Miyono dengan nada bercanda.

Menurut Miyono, permasalahan ekonomi dan keuangan penting untuk diketahui dan dipahami para jurnalis, sehingga dalam menyampaikan informasi terkait ekonomi, bisa dipahami oleh masyarakat luas.

Ada empat hal pokok yang dijelaskan Miyono dalam kesempatan itu yakni masalah perbankan, pasar modal, investasi serta ekspor dan inpor. Keempat masalah itu, dijelaskan secara tuntas oleh Kepala BI Sulteng yang tidak lama lagi akan segera pindah ke Daerah Istimewah Yogyakarta (DIY) ini.

Pertama, Masalah Perbankan. Menurut Miyono, perbankan terdiri dari tabungan, deposito dan kredit pinjaman kepada masyarakat. Semua bank, mendapatkan keuntungan dari tiga jenis produknya itu. Tabungan adalah dana yang dihimpun dari masyarakat yang bisa diambil kapan saja. Sementara deposito adalah tabungan berjangka waktu dari masyarakat yang bisa diambil setelah jangka waktunya selesai. Sedangkan kredit, merupakan pinjaman kepada masyarakat yang dibayar setiap bulan ke pihak bank.

“Nah semua urusan perbankan itu, keuntungannya dari suku bunga,” jelas Miyono.

Kredit lanjut Miyono, juga terbagi tiga yakni kredit kerja, kredit usaha dan kredit konsumsi. Kredit kerja adalah plafon anggaran yang disipkan bagi para pekerja untuk kegiatan proyek. Kredit usaha adalah kredit yang digunakan untuk pengembangan usaha dan kredit konsumsi biasanya untuk kegiatan belanja.

“Semua kredit yang dikeluarkan bank, akan diawasi secara ketat sehingga bisa terlihat mana bank yang sehat dan mana bank yang bermasalah karena kreditnya macet,” jelasnya.

Kedua, Pasar Modal adalah kegiatan yang berkaitan dengan perdagangan umum bursa efek yang meliputi obligasi dan bursa saham.

“Intinya jika di perbankan keuntungannya dari suku bunga, sementara di pasar modal ada perdagangan saham,” katanya.

Ketiga, Investasi adalah kunci dari maju dan tidaknya daerah. Menurut Miyono, jika di sebuah daerah ada investasi yang masuk, maka daerah itu akan maju dan berkembang. Namun jika investasinya lesuh, maka daerahnya juga tidak akan bisa berkembang cepat.

“Biasanya masalah investasi ini, berkaitan dengan sarana infrastruktu dan kemudahan yang didapatkan investor di daerah itu. Sebab investor tidak akan mau masuk menanamkan investasi, jika infrastruktur dan perizinannya tidak siap. Itulah sebabnya, pemerintah sangat getol membangun sarana infrastruktur dan mepermudah perizinan,” terang Miyono.

Keempat, Ekspor dan Inpor juga merupakan kunci kemajuan sebuah daerah. Ekspor adalah proses penjualan barang ke luar Negeri, sehingga ekonomi bisa tumbuh dengan pesat. Sementara impor, juga bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekonomi dalam Negeri.                       

“Sebenarnya semua kebijakan ekonomi di Negara ini, induknya hanya dua yakni kebijakan fiskal di Kementrian Keuangan dan kebijakan Moneter dari Bank Indonesia. Dari dua kebijakan itulah, turun kebijakan–kebijakan ekonomi lainnya,” terang Miyono. FUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *