Kemelut Petani Sawah di Palasa Yang Berkepanjangan

oleh -
Purwanto (60) seorang petani saat menyirami tanaman bawangnya di Desa Palasa Tangki. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

Indonesia adalah salah satu negara agraris terbesar di dunia, artinya sebagian besar penduduk Indonesia bekerja sebagai petani. Sektor pertanian menjadi penopang utama bagi kehidupan manusia khususnya di bumi Pertiwi.

Oleh : Miftahul Afdal

Namun yang jarang diketahui banyak orang bahwa kata ‘petani’ merupakan akronim dari Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Tentu saja, ini menjadi kebanggaan bagi petani, sebagai penyangga memiliki peran penting di negara Indonesia.

Sayangnya, ‘jauh panggang dari api’ meski begitu, perhatian terhadap petani masih jarang terlihat, terlebih lagi, bagi para petani yang berada jauh dari pusat pemerintahan baik kabupaten maupun kota.

Tak jarang akibat kurangnya perhatian dari pemerintah, banyak petani mengalami gagal panen. Bukan tanpa sebab, kekurangan air menjadi masalah paling intim untuk petani khususnya petani sawah.

Sebab, air menjadi sumber kehidupan bagi tanaman petani seperti sawah. Semua orang tahu bahwa sawah perlu pasokan air yang banyak, karena air merupakan unsur terpenting untuk padi yang dapat menentukan hidup dan matinya padi.

Seperti halnya yang terjadi di Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), yang memiliki ratusan petani dengan luasan sawah sekira 157 hektar yang dikelola oleh petani dari dua desa yakni Desa Palasa Tengah dan Palasa Tangki yang kini ladang miliki mereka tak lagi dialiri air.

Masalah irigasi menjadi kemelut Petani sawah yang berkepanjangan, karena perbaikan irigasi terus dilakukan bahkan sejak Tahun 2019 silam, hingga sampai Tahun 2021 sekarang, kerusakan irigasi terus terjadi.

Penyebabnya, ketika banjir bandang datang meterial pasir dan batu yang beriringan dengan arus air sungai akan menutupi pintu irigasi, sehingga air tak bisa lagi masuk dan mengalir ke areal persawahan.

Sebelumnya, Dinas Perumahan Rakyat dan Pekerjaan Umum (PUPR) Kabupaten Parimo sudah meninjau langsung lokasi irigasi tersebut, beberapa hari kemudian irigasi dipasangi pipa besi. Akan tetapi, tak membuahkan hasil, tak sedikitpun air mengalir ke areal persawahan.

Salah satu petani sawah, Purwanto (60) mengatakan, belum lama ini salah satu perusahaan yang bekeja di Desa Palasa Tangki dan di bantu pendonor dari Desa Palasa Tengah, menggunakan alat berat untuk menggali material batu dan pasir yang menimbun pintu irigasi dan air sempat mengalir ke areal persawahan. Namun debitnya kurang sehingga aliran air tidak seluruhnya sampai ke sawah petani.

Menurutnya, sudah sekira lima bulan lamanya air tidak lagi mengalir ke areal persawahan. Upaya dari petani secara swadaya untuk perbaikan irigasi dengan cara penanggulangan karung yang berisikan pasir dibentangkan di pintu irigasi agar air bisa masuk ke irigasi. Hanya saja, Purwanto menyebut, tanggul itu tidak bertahan lama, ketika disapu banjir bandang, maka kerusakan tanggul tak bisa dihindari.

“Hanya beken tanggul, jadi berapa saja kekuatannya kalau hanya tanggul manual begitu,”ucapnya..

Purwanto sendiri mengaku sudah cukup lama melakoni pekerjaan sebagai petani sawah, namun dirinya merupakan buruh tani bukan pemilik sawah.

Akan tetapi, dengan keadaan tanpa air yang masuk ke areal persawahan, dia seakan kehilangan gairah untuk kembali bertani sawah.

“Tapi sekarang siapa yang mau bakerja sawah begini ini, karena tidak ada air,”cetusnya.

Akibatnya, para petani sawah harus membeli alat pemompa air berupa alkon sebagai alternatif untuk merawat tanamannya dengan air seadanya dengan membuat sumur.

“Kami inisiatif pakai alkon. Alkon ini di sawah-sawah sekitar 20 buah mungkin ada, karena tidak bisa lagi diharap air dari irigasi,”kata Purwanto.

Kata Purwanto, alkon tidak bisa menjadi tumpuan petani sawah, karena air yang hanya sedikit dan bergantung pada bahan bakar. Jika bahan bakar habis, maka alkon akan berhenti menyedot air.

Purwanto masih mengharapkan adanya aliran air ke areal persawahan, tentunya dengan perbaikan irigasi atau bantuan penyedot air yang berkekuatan tinggi sehingga dapat menghasilkan air yang banyak mengalir secara menyeluruh di areal persawahan.

“Kami masih harapkan air mengalir ke sawah seperti dulu, karena kita masih harapkan itu terjadi,”harap Purwanto.

Ironisnya, petani kesusahan untuk membeli beras. Padahal, petani di Desa Palasa Tangki dan Desa Palasa Tengah sejak dulu tidak pernah membeli beras karena dapat menghasilkan beras sendiri dan dapat dijual.

“Dulu kitorang (kita) tidak ada beli beras, sekarang sudah hampir 6 bulan tidak kerja sawah, terpaksa harus beli dari luar kecamatan,”tutur Purwanto.

Akhirnya, saat ini banyak petani sawah mengalih fungsikan lahan sawah  tanaman bawang merah dan memanfaatkan lahan yang menganggur.

Purwanto mengungkapkan, sebelumnya dia sudah bercocok tanam bawang merah hampir 20 tahun lamanya, dengan pengalaman itu dia kembali memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami bawang sebagai mata pencaharian sehari-hari.

“Saya tanam bawang ini sudah hampir 20 tahun, jadi dengan pengalaman itu agak mudah untuk kelola bawang dan hanya ini yang bisa dilakukan, tapi dengan mengharapkan air dari mesin alkon,”tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *