Kabalai Permukiman Sulteng Targetkan Pembangunan Untad Selesai Tahun 2021

oleh -
Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulawesi Tengah, Ferdinan Kanalo. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Kepala Balai (Kabalai) Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sulawesi Tengah (Sulteng), Ferdinan Kanalo menargetkan pembangunan semua gedung yang rusak di Universitas Tadulako (Untad) selesai semua dikerjakan tahun 2021 mendatang.

“Pembangunan di Universitas Tadulako, ditargetkan selambat – lambatnya tahun 2021 sudah selesai. Kita akan atasi dulu segera ruang kuliah, baru gedung – gedung lainnya,” ujar Kabalai, Ferdinan Kanalo saat ditemui wartawan di kantornya, Sabtu (4/5/2020).

Dikatakan, kerusakan di Untad terbagi tiga kategori yakni rusak ringan, sedang dan rusak berat. Dari semua jenis kerusakan itu, prioritas yang dikerjakan dulu yakni rusak ringan meliputi gedung perkuliahan.

“Untuk ruang serba guna, kita akan percepat pembangunannya. Ini sudah dilelang semua,” ujarnya.

Inilah salah satu gedung perkiliahan di Untad yang sedang dikerjakan. FOTO : IST

Ferdinan Kanalo mengaku, jika ada sedikit keterlambatan dalam pembangunan Untad, itu semua karena memang dalam proses pengerjaan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi kemampuan rektor, hanya sebatas meminta. Rekotor tidak punya kewenangan lebih untuk mengintervinsi supaya bisa dikerjakan cepat dan yang didahulukan sesuai permintaan rektor.

“Saya sendiri sebagai orang balai, tidak bisa langsung kerja. Ada mekanisme yang harus dilalui. Contoh ada perencanaan, begitu kita ajukan ke world bank tidak bisa. Harus ada uji forensik dulu bahwa yang kita rehab ini, layak untuk direhab. Jangan sampai ada gempa rubuh lagi. Ini salah satu masalah. Jadi uji forensik dulu, sehingga semua tahapan demi tahapan sudah kita lalui,” jelas Ferdinan Kanalo.

Saat ini kata Ferdinan Kanalo, pekerjaan di Untad sudah mulai berjalan yang dimulai dari rehab. Yang tender sebelumnya juga sudah dikerjakan, sehingga rehab rekon sudah mulai di Untad. Sementara pembangunan gedung serba guna, sudah dalam proses lelang.

“Untuk gedung serba guna, satu ada sekitar 8 unit dengan nilai hampir Rp80 Miliar. Satunya lagi 20 miliar, sehingga untuk gedung serba guna jumlahnya 10 unit. Kita juga akan mepercepat untuk gedung – gedung yang lain,” jelasnya.

Ferdinan Kanalo menjelaskan, pihak balai juga masih terbelenggu, karena konsultan yang ada lingkupnya terlalu luas. Namun sudah dicarikan konsultan baru, semoga bisa dipercepat.

Kendala lainnya, master plan Untad sudah tidak ada, sehingga rencananya balai akan membuat master plan baru bersama – sama dengan konsultan baru yang sudah kita kontrak.

“Nah sekarang sudah ikat kontrak, tapi kontraknya tidak bisa juga kita berlakukukan secara efektif, karena uang yang dialokasi dalam DIPA belum cukup. Kemarin hanya dikasih Rp2 miliar untuk cantol aja, karena itu persoalannya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Begitu kita teriak, langsung bisa dibangun,” tambahnya.

Menurut Ferdinan, pembangunan Untad menggunakan dana dari world bank, sehingga berbeda dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang digunakan membangunan sekolah – sekolah yang memang sudah diusulkan dari tahun sebelumnya. Sehingga begitu ada bencana, bisa langsung ditangani karusakannya.

“Kalau NGO, ini beda lagi mekanismesnya. Mereka suka – suka dia bangn. Kalau kita ini menggunakan dana world bank, ini tidak mudah. Jadi kasus Tadulako sama dengan kasus tanah Huntap di Tondo dan Talise. Secara hukum tanahnya sudah clear, tapi kan ada perseoalan sosial,” terangnya.

Ferdinan Kanalo menegaskan jika ada yang mengatakan pengerjaan di Untad tidak jalan, itu sangat keliru karena sekarang sudah jalan. Satu tahun sebelumnya semua buntu, karena mau membangunan amdal tidak ada, begitu juga master plannya juga tidak ada.

“Saya rasa untuk Untad pasti punya master plan, karena kalau tidak ada bagaimana dulu mereka bisa membangun. Seharusnya kita hanya merevisi saja master plan yang ada. Namun kenyataannya tidak ada master plan, sehingga akan dibuatkan master plan baru,” katanya.

“Master plan tidak ada, mau salah kan siapa sekarang, mau salahkan pejabat sekang tidak mungkin, karena master plan bukan urusan pejabat sekarang, tapi urusan pejabat lama. Jadi kompleks sekali masalahnya untu hal – hal seperti ini, karena kita perlu meyakinkan pihak world bank supaya kita diizinkan sambil proses fisik, kita urus juga master planya. Sebab Untad ini banyak sekali bangunannya yang rusak, rumah sakitnya, rektoratnya dan hampir semua fakltas hancur,” jelasnya.

Semua kendala yang muncul, perlahan – lahan bisa diselesaikan sehingga pekerjaan sudah jalan. Roktor Untad juga sangat pro aktif bersama Kabalai menghadap ke Kementrian PUPR, juga ke Satgas. Namun persoalan buntunya, bukan disini.

“Kalau murni uang rupiah yang kita digunakan bangun Untad, mungkin tidak lama. Yang kita pakai ini, dana pinjaman luar negeri. Ada aturan – aturan yang diminta, ada dokumen lingkungan, harus ada forensik kalau rehab. Kan tidak mudah memilah mana yang rusak ringan dan sedang, kita juga sudah minta bantuan ke fakultas teknik, kurang apa orang fakultas teknik tadulako,” tandasnya. FUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *