Jika Partisipasi Pemilih Rendah, Pilkada Sulteng Harus Dievaluasi

oleh -
Ketua Umum Tim Pemenangan AS, Ikbal Andi Maga. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Ketua Umum Tim Relawan Anwar Hafid dan Sigit Purnomo Said (AS), Ikbal Andi Maga menyebutkan jika partisipasi pemilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) rendah karena kurangnya opsi pilihan kandidat di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sulawesi Tengah (Sulteng), maka penyelenggaraan pilkada perlu di evaluasi.

“Kalau angka partisipasi pemilih di TPS menjadi rendah karena kurangnya opsi kandidat, maka perlu kita melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pilkada,”ungkap Ikbal Andi Maga saat ditemui di cafe Kapeo miliknya, Senin (20/09/2020).

Dikatakan, evaluasi bisa berupa pembatasan jumlah maksimal parpol pengusung atau fleksibilitas parpol yang memiliki jumlah kursi lebih di parlemen atau suatu regulasi khusus yang perlu diatur untuk memperbanyak jumlah kandidat agar rakyat punya banyak pilihan calon dan tingkat partisipasi rakyat memilih juga jadi tinggi.

Meski demikian, Ikbal juga berharap angka partisipasi pemilih tetap tinggi dengan situasi seperti ini. Dinamika politik Sulteng di pilkada situasinya masih dalam taraf wajar. Hadirnya hanya 2 paslon di Pemilihan Gubernur (Pilgub), memaksa masyarakat untuk memilih berdasarkan opsi yang terbatas.

“Kalau melihat komposisi kursi Parlemen Sulteng harusnya ada 3 sampai 5 paslon gub yang bisa berkompetisi. Namun fakta hanya 2 cagub ini juga menyulitkan masyarakat menentukan pilihan,”ujarnya.

Mantan Ketua DPRD Kota Palu itu menambahkan, politic finansial atau pembiayaan politik dalam pilkada itu hal yang lumrah. Tahapan pembiayaan event politik memang panjang, mulai dari mahar partai, biaya sosialisasi, biaya konsolidasi, biaya kampanye, biaya timses, biaya saksi dan biaya mobilisasi pendukung memang harus disiapkan oleh Pasangan Calon (Paslon).

Diterangkan, konsekwensi dari pilihan negara melakukan direct politik pada suksesi kepemimpinan, maka rakyat tidak bisa berharap semua free atau gratis. Rakyat belum siap untuk melakukan partisipasi sukarela melakukan kerja-kerja politik. Bahkan parpol juga belum siap untuk melaksanakan ideal of term untuk menentukan calon-calon kepala daerah yang akan diusung.

Ikbal menjelaskan, politik finansial sedang dan sudah berjalan dan kalau yang dimaksud politik finansial adalah money politik election atau populer dengan sebutan serangan fajar, nah itu mungkin saja terjadi tapi akan terbatas.

“Kenapa terbatas? karena masyaraka tidak punya banyak opsi untuk menentukan pilihan. Jadi tidak ada money politik pun tidak akan berpengaruh banyak terhadap pilkada kali ini,”jelasnya.

Disebitkan, memang saling rebutan pendukung (Parpol) itu juga bagian dari usaha politik untuk memenangkan Pilkada.

“Sebagai ketua umum tim relawan AS, kami juga akan melakukan hal yang sama bila terbuka peluang untuk mengumpulkan seluruh parpol dibarisan kekuatan kami untuk menang,” ujarnya.

Dia menyampaikan, dinamika itu biasa terjadi dimana mana di Indonesia ini. Makanya ada biasa paslon melawan kotak kosong sebagai bentuk kekuatannya mengumpulkan seluruh parpol dibarisannya.

“Hanya memang dinamika itu kurang demokratis menurut saya. Karena akhirnya memaksa rakyat untuk hanya memilih yang terbatas dan juga tidak melahirkan kompetisi yang sehat di masyarakat, tidak terjadi adu gagasan untuk mensejahterakan rakyat secara ketat,” tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *