Irwan Lahace Pensiun, Ini Capaian dan Harapannya Kepada Kadis Penggantinya

oleh -
H Irwan Lahace yang bersiap untuk berpisah bersama jajarannya saat ditemui di ruang kerjanya di Disdikbud Sulteng. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Sulawesi Tengah (Sulteng), Irwan Lahace resmi pensiun dari jabatannya. Irwan Lahace dipilih menjadi Kadisdikbud Sulteng sejak tahun 2017 sampai 2021 oleh Gubernur Sulteng, Longki Djanggola waktu itu.

Selama menjabat sebagai Kadisdikbud, Irwan Lahace telah memberikan berbagai capaian dalam lingkup pendidikan. Selama kepemimpinannya, dunia pendidikan sangat terdampak dengan terjadinya bencana gempa bumi pada tanggal 28 September 2018 silam. Selang satu tahun, Kota Palu dihadapkan lagi dengan Corona Virus Desease 2019 (COVID-19).

“Saya jadi kepala dinas ini lima tahun kurang empat bulan dan kurang enam hari. Disaat saya menjabat, yang normal saya jadi kepala dinas hanya 1 tahun 8 bulan dari tahun 2017. Masuk di tanggal 28 September 2018 bersamaan dengan bencana, sampai recovery bencana itu 2019,”ujar Irwan Lahace kepada sultengnews.com, Minggu (30/08/2021) lalu.

Akibatnya, anggaran yang awalnya diprioritaskan untuk pembangunan dipotong untuk penanganan bencana alam maupun non alam tersebut. Hal itu terjadi mulai dari tahun 2019 sampai 2020 hingga sekarang.

“Di tahun 2019, pemotongan anggaran recovery untuk penanggulangan bencana. Kemudian masuk di tahun 2020, kita dihadapkan dengan COVID-19, disitu terjadi lagi recofusing anggaran sampai sekarang,”ucap lelaki kelahiran 1961 itu.

Menurut Irwan Lahace, dampak dari bencana itu berakibat terganggunya penyelenggaraan pendidikan dan pastinya akan berdampak terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

“Saya yakin dan percaya karena itu, sarana prasarana manusianya terganggu,”sebutnya.

Pria berusia 61 tahun ini pensiun tepat pada bulan kelahirannya yakni tanggal 8 Agustus 1961. Selama menjabat Kadisdikbut Sulteng, Irwan Lahace telah memberikan kontribusinya dengan melakukan penertiban aset pendidikan.

“Pertama yang saya kerjakan dan saya capai di Dinas Pendidikan ini adalah menertibkan aset. Karena aset ini adalah bagian yang tidak kalah pentingnya dengan hal-hal lain,”tuturnya.

Irwan Lahace memiliki tiga tugas yang ia emban sebagai Kadisdikbud Sulteng. Dan menjadi tanggungjawabnya.

“Karena tugas saya ini ada tiga pengembangan, pembinaan sumber daya manusia, pelaksanaan anggaran dan pengamanan aset,”jelas Irwan Lahace.

Bagi Irwan Lahace penertiban aset pendidikan ini sangatlah penting. Sebab, nilai aset pendidikan mencapai miliaran rupiah.

“Agar diketahui bahwa aset Pemda (Sulteng) ini bilangannya itu kurang lebih 3,8 triliun, kemudian 1,3 triliun itu berada dalam tanggungjawab saya,”jelasnya.

“Pak Longki saat menjadi gubernur, salah satu yang menentukan untuk pertanggungjawaban dia adalah aset dari pendidikan. Jadi kalau aset pendidikan itu disclaymer pasti akan berpengaruh terhadap laporan pertanggung jawabannya selaku kepala daerah,”sambung Irwan Lahace.

Dari hasil penertiban aset Pemda Sulteng yang diantaranya berada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sulteng, pada masa jabatan Gubernur Longki Djanggola, dalam laporan keuangan, Provinsi Sulteng tujuh kali berturut-turut menyandang Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Kemarin itu kalau tidak salah Pak Longki mendapatkan WTP 7 kali berturut-turut, itu salah satu pekerjaan yang betul-betul menyita dan menguras tenaga karena untuk menertibkan aset. Belum lagi dengan persoalan guru-guru kita,”terangnya.

Meski demikian, Irwan Lahace juga menyadari masih banyak permaslahan yang belum terselesaikan dalam lingkup pendidikan di Sulteng khususnya terhadap guru. Apalagi, pemeratan guru-guru di sejumlah daerah di Sulteng sampai sekarang belum bisa tertangani dengan baik.

“Tentu saja untuk pemerataan guru-guru ini, belum bisa kami penuhi agar semua sekolah terpenuhi gurunya. Misalnya dalam satu sekolah, ASN-nya itu cuma satu yang lainnya itu cuma honorer,”ungkapnya.

“Olehnya itu, sekarang ini yang menjadi permasalahan adalah kita membiayai dari APBD besar sekali untuk menggaji guru honorer,”tambah Irwan Lahace.

Dia berharap, semoga kedepannya pendidikan di Sulteng lebih baik lagi dari sebelumnya. Selain itu, dia juga berharap agar pengantinya nanti lebih energik dan cerdas serta lebih memperhatikan kualitas guru-guru di Sulteng.

“Saya berharap pendidikan lebih baik lagi. Mudah-mudahan saya punya penganti nanti lebih energik, lebih cerdas, kemudian lebih memperhatikan infrastruktur dan kualitas guru-guru,”tutupnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.