Irigasi Tak Kunjung Diperhatikan Pemerintah, Produktivitas Petani Palasa Turun Drastis

oleh -
Inilah Irigasi di Desa Palasa yang rusak dan sampai saat ini belum diperbaiki. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PARIMO, SULTENGNEWS.COM – Kerusakan irigasi tidak pernah alpa terhadap petani sawah di Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, sejak tahun 2019 hingga tahun 2020, petani terus dipusingkan dengan kerusakan irigasi tersebut.

Pasalnya, irigasi itu telah dijanjikan oleh pemerintah setempat di Kecamatan Palasa untuk segera diperbaiki, bahkan pernyataan itu telah dilontarkan sejak tahun 2019, bahwa perbaikan irigasi akan direalisasikan pada tahun 2020 ini.  Namun, hingga kini irigasi tak kunjung di perhatikan pemerintah, akibatnya produktivitas petani sawah di Kecamatan Palasa menurun drastis.

Tawakal (50) profesi sebagai petani sawah sudah dia geluti 40 tahun lamanya, sebab pekerjaan sebagai sawah merupakan satu-satunya pekerjaan yang dia lakukan untuk menghidupi keluarganya.

Dia mengaku sejak tahun 2019 sudah sering menyuarakan ke pemerintah desa dan pemerintah kecamatan sekaitan kekeringan air yang tidak lagi mengalir ke areal persawahan yang diakibatkan kerusakan irigasi.

Pintu air irigasi di Desa Palasa terlihat kering karena tidak ada air lagi yang masuk. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

“Gagal panennya petani sawah di Kecamatan Palasa, bukan di akibatkan penyakit hama, akan tetapi karena kekeringan air, habis menanam bibit padi langsung kering, obat jenis apapun yang digunakan, rumput liar di sekitaran padi tidak akan mati,”akuhnya kesal.

Tawakal menyebut, kekeringan air diakibatkan kerusakan irigasi yang tidak kunjung mendapatkan perhatian dari pemerintah, yang ada hanyalah janji terus diberikan kepada petani untuk di perbaiki di tahun 2020.

Sebelumnya, kerusakan irigasi pernah di perbaiki, bahkan sudah empat kali, namun semua itu atas inisiatif dari petani mengumpulkan uang secara swadaya untuk membeli karung yang dimasukan pasir untuk digunakan sebagai bentangan untuk masuknya air sungai ke pintu irigasi.

“Sempat air masuk ke irigasi, tapi berselang dua Minggu kemudian terjadi banjir, sehingga karung beserta pasir itu hanyut,”,”ucap Tawakal.

Tidak sampai disitu saja, Tawakal pergi menemui Danramil Kecamatan Palasa untuk meminta arahan, bahkan Danramil sendiri ikut serta membantu petani sawah dalam kerjabakti dan pengadaan karung dan ada juga dari petani sawah langsung.

“Danramil juga memberikan bantuan berupa karung dan ada juga dari petani sawah. Namun, tidak sampai satu kali panen penangkal itu hanyut disapu banjir,”tuturnya.

Mirisnya, petani sawah saat ini hanya mengharapkan curah hujan sebagai sumber air untuk persawahan, jika tidak ada air, maka sawah akan kering.

“Beberapa bulan lalu petani sawah sempat merasakan hasil panen dengan mengharapkan air hujan, karena pada saat itu curah hujan cukup tinggi dan berlangsung lama, tapi sampai kapan petani harus mengharapkan terus curah hujan,”tegasnya.

“Saat curah hujan yang cukup tinggi dan berlangsung lama, saya menghasilkan beras 1 ton lebih, Sekarang hanya bisa dapat 590 kilo saja, sangat turun sekali produktivitas petani sawah di Kecamatan Palasa ini. Padahal sebelum rusaknya irigasi itu hasil pertanian dari 1 hektar sawah bisa mencapai 3 ton lebih,”tambahnya.

Tawakal mengungkapkan, sebagian beras ada yang dijual dan ada juga yang dikonsumsi, biasanya dalam dua bulan sebelum menggarap sawah petani sudah menyimpan beras sesuai kebutuhan dan selebihnya di jual.

“Untuk harga beras sekarang yang jenis impari dan bramo seharga 500 rb perkarung (50 kilo), sementara beras seperti gedi dan PB harganya hanya mencapai kisaran 47 rb dan 48 rb,”ungkapnya.

Sementara itu, Pemuda Kecamatan Palasa, Alfath Dirgantara sangat prihatin dengan kondisi pertanian di Kecamatan Palasa khususnya persawahan dikarenakan kekeringan air.

Dia menerangkan, seharusnya pemerintah hadir di tengah-tengah permasalahan yang mendera petani sawah, bukan hanya diam saja melihat persoalan ini.

Dirga menyampaikan, sekitar sebulan lalu dia telah menemui pihak Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Rumah (PUPR) perwakilan Kabupaten Parigi Moutong yang menaungi Kecamatan Palasa, bahwa permasalahan kerusakan irigasi telah disampaikan pada atasannya di PUPR Kabupaten Parigi Moutong.

Akan tetapi, bantuan untuk pembentang arus sungai yang permanen terkendala dengan luasan sawah, sebab luasan sawah Kecamatan Palasa hanya 230 hektar, sementara bantuan diperuntukkan untuk luasan sawah 500 hektar.

“Jadi memang air sungai Palasa begitu deras, terlebih lagi saat banjir, jika hanya boronjong atau keranjang dari kawat yang membungkus batu sungai, bisa hilang dihantam banjir, untuk di kucurkan anggaran yang besar luasan sawah harus 500 hektar, sementara itu, luas sawah di Kecamatan Palasa 200 hektar,”ungkap Dirga.

Dia menyatakan, masyarakat Kecamatan Palasa membutuhkan sawah untuk bisa terus di garap, karena kalau tidak ada sawah tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan petani khususnya petani sawah.

“Saya tekankan agar pihak pemerintah tidak hanya melihat luas wilayah persawahan, karena kita butuh padi yang menjadi beras untuk dikonsumsi dan dijual sebagai mata pencaharian, kalau tidak ada padi apakah kita akan makan rumput,”paparnya.

Dirga mengatakan, beras dari petani sawah di Kecamatan Palasa menjadi penyangga bagi Kecamatan lainnya, sesuai penyampaian dari petani dari Kecamatan Tinombo yang merupakan kecamatan tetangga akan membeli beras dari Kecamatan Palasa.

“Bahkan, dari masyarakat Kecamatan Tinombo ingin membeli beras dari Kecamatan Palasa, karena memang disana tidak ada sawah, itu artinya Kecamatan Palasa menjadi penyangga pangan bagi kecamatan lainnya. Maka pemerintah harus lebih perhatikan terkait masalah ini,”pungkasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *