Inilah Rahasia Kepercayaan Diri dan Kemenangan Timnas Indonesia Hingga Tembus ke Final Piala AFF 2021

oleh -
Salah satu sosok penting di skuat Timnas Indonesia Witan Sulaeman saat menggiring bolah kearah gawang Singapura pada tantandingan lag kedua piala Suzuki AFF Cup 2021. FOTO : IST

JAKARTA, SULTENGNEWS.COM – Timnas Indonesi berhasil melenggang ke babak final Suzuki AFF 2021 berhadapan dengan tim kuat Thailan, setelah melalui perjuangan luar biasa dan menegangkan.

Sempat tak diunggulkan pada turnamen piala AFF kali ini, Timnas Indonesia berhasil membuktikan diri bahwa mereka tim kuat yang tak bisa diremehkan. Kini Timnas Indonesia tengah bersiap menatap pertandingan final melawan timnas Thailan pada 1 Januari 2022 mendatang.

Lalu apa rahasia kepercayaan diri dan kemenangan Timnas Indonesia diajang piala Suzuki AFF tahun ini..? berikut ulasan yang disampaikan seorang pengamat sepak bola Yusran Darmawan.

Menurut Yusran Darmawan, kunci kepercayaan diri dan kemenangan Timnas Indonesia, tidak hanya ada pada sosok pelatih Shin Tae Yong yang berhasil membangkitkan semangat Timnas Garuda Muda. Namun ada sosok lain dibalik itu semua yakni Lee Jae Hong, pelatih fisik yang dibawa Shin Tae Young.

Dia ikut mendampingi Shin Tae Yong sebagai pelatih fisik Timnas Korsel di Piala Dunia Rusia, tahun 2018. Lee Jae Hong menjelaskan kelemahan fisik timnas Indonesia.

Dia mengamati banyak pertandingan. Timnas hanya sanggup bermain selama satu babak. Di babak kedua, stamina mulai turun. Mental juang sudah hilang. Selain itu, timnas selalu kalah duel. Sekali disenggol, langsung tumbang.
Menurut Lee Jae Hong, kecepatan pemain Indonesia dan Korea hampir sama. Yang membedakan adalah kekuatan (power), body balance, & endurance (daya tahan).

Indonesia lemah di banyak sisi. Lee Jae Hong melihat mental para pemain Timnas Indonesia terlalu baik dan pasrah. Padahal dalam sepak bola, kebaikan itu tidak berguna.

“Anda harus melihat setiap pertandingan seperti perang. Di situ, anda harus punya semangat menang dan mengalahkan. Harus siap bertarung. Kalau perlu membunuh,” kata Lee Jae Hong seperti dikutip melalui tulisan Yusran Darmawan.

Lee Jae Hong melihat secara holistic. Menurutnya, fisik dipengaruhi oleh tiga hal yakni gaya hidup pemain, budaya, serta pola hidup.

Dia menyoroti pemain yang suka makan gorengan dan nasi. Menurutnya, budaya makan mempengaruhi fisik pemain. Untuk kuat dan berotot butuh makan protein yang banyak.

Di level klub, pemain tidak mengonsumsi makanan bergizi. Tanpa banyak makan protein dan makanan bergizi, maka kebutuhan energi tidak akan cukup. Otot tidak bisa terbentuk. Padahal, sepakbola adalah olahraga fisik. Pemain harus siap berduel, siap main keras dengan kaki.

Lee tidak memahami kalau pemain di Indonesia kebanyakan berasal dari masyarakat dengan kategori ekonomi menengah ke bawah. Mereka bermain bola di tengah desakan ekonomi. Bola adalah malaikat yang memberi harapan bagi diri & keluarga.

Setelah identifikasi, pelatih Shin & Lee membuat daftar latihan. Porsi utama latihan adalah fisik. Rapor semua pemain dipantau. Mereka ditargetkan bisa bermain keras dan tahan banting saat di lapangan.
Para pemain diberikan weight training. Postur tubuh membesar. Kemampuan juga terus membaik.
Pemain timnas diminta kurangi karbohidrat, perbanyak makan sayuran dan protein. Pemain juga dilarang makan gorengan, sebab di situ ada lemak – trans yang tidak baik bagi tubuh. Idealnya, pemain bola hanya memiliki persentase lemak tubuh sebesar 6 – 12 %.

Saat Training Center (TC) di Kroasia, fisik pemain mulai membaik. Rata-rata lemaknya sudah di kisaran 6-12%, mirip dengan pemain Korea.

Saat itulah, pelatih Shin mulai mengajarkan filosofi bermain bola, juga strategi menang, sesuatu yang hilang di timnas Indonesia selama bertahun-tahun.

Di ajang Piala AFF, timnas ini ikut bertanding. Datang sebagai pasukan muda, tim ini tak punya target. Bahkan mantan pemain senior Malaysia, Safee Sali, sempat memandang remeh tim muda yang minim pengalaman ini. Tim ini diprediksi hanya akan menjadi sasaran tim-tim besar di babak penyisihan.

Siapa sangka, tim ini justru menggila. Kekuatan pemain muda itu malah menggulung permainan Malaysia dan menahan imbang Vietnam yang fisiknya dilatih para juru latih Korea selama bertahun-tahun.

Timnas Indonesia sanggup bermain selama 90 menit, dengan mental yang terus membaik. Dalam pertandingan melawan Singapura, penjaga gawang Nadeo, yang disebut netizen seperti Kepa, malah bisa menggagalkan penalti di menit krusial.

Kini, timnas itu mulai menatap final. Mereka yang tadinya dianggap zero, kini mulai menjadi hero. Berkat para Ahjusi atau pria paruh baya Korea, yakni jajaran pelatih di bawah Shin Tae Young, mereka siap untuk bermain di final.

Shin Tae Young mulai dicintai banyak orang. Kehadirannya di Indonesia mirip drama Korea. Setelah memegang Timnas Korea, dia bersedia melatih TimNas Indonesia demi membantu ekonomi keluarga. Kini dia mulai dicintai publik Indonesia. Banyak yang menyapa “Jamsahammida” hingga “Saranghaeyo”.

Demikianlah rahasia kepercayaan diri dan kemenangan Timnas Indonesia menurut pengamat sepak bola Yusran Darmawan. Bravo Timnas Indonesia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.