Inilah Penyebab Kekalahan Petahana di Pilkada Sulteng Menurut Pengamat Politik

oleh -
Pengamat Politik Sulteng, Dr. Slamet Riady Cante. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sulawesi Tengah (Sulteng) yang dihelat lima tahun sekali baru seja selesai dilaksanakan pada 9 Desember 2020.

Meskipun, belum ada penetapan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), baik provinsi maupun kabupaten/kota, nampak hasil quick count atau hitung cepat dilaman resmi https://pilkada2020.kpu.go.id/ sejumlah petahana mengalami kegagalan di Pilkada Sulteng.

Sekiranya terdapat tujuh kabupaten dan satu kota yang mengikuti Pilkada Sulteng 2020, yakni Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Laut, Kabupaten Morowali Utara, Kabupaten Poso, Kabupaten Sigi, Kabupaten Tojo Una-una, Kabupaten Toli-toli, dan Kota Palu.

Dari ketujuh daerah tersebut, ada lima kabupaten dan satu kota, petahana mengikuti kontestasi Pilkada Sulteng. Di Kabupaten Banggai Herwin Yatim-Mustar Labolo (Bupati dan Wakil Bupati), Kabupaten Banggai Laut Richard Brynwerd Schwaner Manuas (Wakil Bupati).

Selanjutnya, Kabupaten Poso Darmin Agustinus Sigilipu (Bupati), Kabupaten Sigi Mohammad Irwan (Bupati) bertarung dengan Paulina (Wakil Bupati), Kabupaten Tojo Una-una Mohammad Lahay (Bupati) melawan wakilnya Moh.Badhawi A.Abdullah, Kabupaten Tolitoli Abdul Rahman Hi.Budding (Wakil Bupati) dan Kota Palu Hidayat (Walikota Palu).

Dari sejumlah petahana tersebut, Bupati Sigi Mohammad Irwan salah satu petahana yang tidak mengalami kegagalan, diketahui untuk sementara Mohammad Irwan mendapatkan perolehan suara teratas dari lawannya yang merupakan Wakil Bupati Sigi, Paulina. Berdasarkan hitung suara dilaman https://pilkada2020.kpu.go.id/ Mohammad Irwan unggul dengan presentase suara 55.0 persen, sementara pesaingnya Paulina dengan 45.0 persen hingga malam ini.

Kemudian, Petahana Kabupaten Banggai, Herwin Yatim-Mustar Labolo dapatkan perolehan dengan presentase 31.1 persen, sementara pesaingnya Amirudin-Furqanuddin Masulili dengan hasil 46.0 persen, dan Sulianti Murad-Zainal Abidin 23.0 persen.

Petahana berikutnya di Kabupaten Poso, Darmin Agustinus-Amjad Lawasa dengan perolehan presentase 42.3 persen, kemudian lawannya Vergan G M Ingkiriwang-Yasin Mangun mendapatkan perolehan presentase 49.2 persen, dan Samsuri-Tony Sowolino dengan 8.5 persen.

Selain itu, terdapat petahana Kabupaten Toli-toli, Abdul Rahman Budding-Faisal Bantilan dengan perolehan 16.1 persen, kemudian Amran Yahya-Moh Besar Bantilan dapatkan perolehan presentase 44.3 persen, serta pesaingnya Muchtar Deluma-Bakri Idrus peroleh 39.6 persen.

Selanjutnya, petahana Kabupaten Tojo Una-una, Mohammad Lahay-Ilham memperoleh presentase 34.7 persen, sementara pesaingnya Afandi Lamadjido-Hasan Lasiata dengan perolehan 36.1 persen, kemudian Suprapto Dg Situru-Afnan Rachmat dengan 20.9 persen, selanjutnya, Admin As Lasimpala-Moh Baedhawi Abdullah peroleh 8.3 persen.

Petahana lainnya di Kabupaten Banggai Laut, Tuty Hamid-Richard Brynwerd Schwaner Manuas dengan perolehan presentase 26.0 persen, kemudian lawannya Sofyan Kaepa-Ablit mendapatkan perolehan presentase 35.5 persen, kemudian Wenny Bukamo-Ridaya La Ode Ngkowe dengan 27.1 persen dan Rusli Banun-Basri 11.4 persen.

Petahana terakhir di Kota Palu, Hidayat-Habsa Yanti Ponulele memperoleh presentase 18.6 persen, sementara pesaingnya Hadianto Rasyid-Reny Lamadjido dengan perolehan 40.4 persen, kemudian Imelda Liliana Muhidin-Arena JR Parampasi dengan 23.8 persen, selanjutnya, Aristan-Muhammad Wahyuddin peroleh 17.2 persen.

Kegagalan petahana di enam kabupaten dan kota Pilkada Sulteng tersebut, mendapat tanggapan dari Pengamat Politik Sulteng, Slamet Riadi Cante yang menguraikan penyebab kegagalan sejumlah petahana di Pilkada Sulteng 2020.

“Menjadi fenomena menarik ini beberapa daerah yang kalau tidak salah saya, hanya satu petahana yang memiliki elektoral yang relatif bagus yaitu Bupati Sigi,” ujarnya.

Menurut Slamet Riadi, kegagalan petahana menjadi pelajaran politik ke depan yaitu memelihara basis massa, sehingga petahana memiliki tingkat elektoral yang stabil.

“Menurut saya, secara teori petahana seharusnya memiliki tingkat elektoral yang bagus dibandingkan yang bukan petahana, selama petahana itu punya komitmen dalam konstitusi dalam memelihara basis massa,”ucapnya.

Padahal kata dia, lima tahun petahana menyelenggarakan pemerintahan melaksanakan semua program-program yang punya kaitan dengan basis massa. Tapi rata-rata pertahanan tumbang.

Bagi Slamet Riadi, petahana yang tumbang itu kecenderungannya tidak mampu memelihara basis masanya selama lima tahun, terutama menjalankan program-program yang di kembangkan itu cenderung tidak memenuhi harapan pada basis massanya itu sehingga mereka beralih pilihan politiknya ke paslon lain.

Seharusnya petahana yang lebih eksis dalam Pilkada, karena jelas memiliki basis massa yang real, jika saja petahana menjaga basis massanya, terutama mencermati apa yang menjadi harapan-harapan masyarakat selama ini, maka pilihan-pilihan politik masyarakat tetap kepada petahana.

Slamet Riadi menerangkan, hal itulah yang menyebabkan pemilih beralih, karena menganggap petahana tida bisa memenuhi harapan selama menjabat.

“Menurut saya mesin politik dan pengusung yang harus bekerja dengan baik, saya melihatnya kecenderungan mesin politik partai yang tidak bekerja secara maksimal, karena yang bekerja hanya pasangan calon, padahal seharusnya konsekuensi sebagai partai pengusung harus bekerja dengan baik untuk memenangkan calonnya itu,”terangnya.

Slamet Riadi menilai, rata-rata partai politik hanya sekedar menjadikan partai politik sebagai kendaraan politik saja setelah di tetapkan sebagai pasangan calon, kecenderungannya tidak bekerja dengan baik, yang berjuang mati-matian hanya pasangan calon saja.

“Mana ada ketua partai yang menggalang masa di tingkat level bawah atau gressroots, saya belum melihat seperti itu,”pungkasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *