Inilah Kebutuhan Para Pengungsi di Sulbar Setelah Empat Hari di Pengungsian

oleh -
Lokasi pengungsian di stadion Manakara, Sulbar yang saat ini menjadi pusat pengungsian warga terdampak gempa bumi di Mamuju. FOTO : MAHFUL/SN

SULBAR, SULTENGNEWS.COM – Setelah empat hari berada di pengungsian, para korban bencana masih mengeluhkan beberapa kabutuhan dasar yang belum terpenuhi selama di pengungsian.

Hasil assesment langsung di lokasi pengungsian di stadion Manakara, Sulawesi Barat (Sulbar) pada Senin (18/01/2021), beberapa pengungsi yang ditemui menyebutkan, kebutuhan yang sangat mereka butuhkan diantaranya terpal, sembako (beras, mie instan, minyak goreng), minyak angin, popok bayi dan orang dewasa, pembalut, pakaian dalam, selimut, daster untuk ibu hamil, susu bayi, pakaian bayi, senter dan obat-obatan (diare dan gatal – gatal)

Para pengungsi saat berada di tenda pengungsian di stadion Manakara, Sulbar. FOTO : MAHFUL/SN

“Biasa kalau ada bantuan, warga baku rampas sehingga kadang tidak cukup terutama sembako, popok bayi, susu bayi dan kebutuhan ibu hamil,” ujar Haris, salah seorang pengungsi di stadion Manakara, Sulbar.

Dia berharap, kiranya jika ada bantuan lagi yang datang bisa dibagi secara merata, sehingga semua pengungsi bisa dapat bantuan.

Hal yang sama juga disampaikan Siti Hadamia, yang juga pengungsi di stadion Manakara, Sulbar.

Sebagai seorang ibu, dia menyampaikan kebutuhan yang sangat diharapkan selain sembako yakni popok bayi, selimut, tikar gulung, minyak telon serta kebutuhan bayi dan ibu hamil.

“Ada bantuan dari pemerintah dan relawan, tapi selalu tidak cukup, sehingga kami masih sangat membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Kementrian Sosial yang ada di pengungsian stadion Manakara, Sulbar jumlah pengungsi di lokasi itu berjumlah 600 Kepala Keluarga (KK) dan sekitar 1.500 jiwa.

Pantauan sultangnews.com di lokasi pengungsian, kebutuhan mencuci, mandi dan buang air besar (BAB) bagi para pengungsi sangat memprihatinkan. Hanya ada 6 unit sarana WC yang tersedia, sementara jumlah pengungsi mencapai 1.500 jiwa.

Para pengungsi memgaku, jika mau BAB mereka terpaksa ke hutan dan sungai yang jaraknya kurang lebih 3 kilo meter dari lokasi pengungsian.

“Warga pengungsi sangat butuh sarana MCK, karena jika mau BAB terpaksa harus ke hutan dan sungai yang jauh jaraknya pak,” tandas salah seorang pengungsi lainnya. FUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *