Inilah Kabar Sesungguhnya TKW Dari Hongkong Yang Tidak Mau ke Rumah Sakit

oleh -
FOTO ILUSTRASI PENANGANAN VIRUS CORONA

PALU, SULTENGNEWS.COM – Kabar terkait adanya Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang baru saja pulang dari Hongkong, lalu mengalami demam tapi tidak mau di rawat di Rumah Sakit, sempat menggegerkan Kota Palu dan Sulteng secara umum.

Betapa tidak, Hongkong adalah negara pandemik virus corona atau covid 19, sehingga siapa pun yang baru pulang dari negara itu harus di karantina dulu selama 14 hari untuk diobservasi untuk diperiksa kondisi kesehatannya apakah ada gejala virus corona atau tidak.

Munculnya kabar TWK dari Hongkong yang mengalami demam tinggi, namun tak mau di rawat di rumah sakit, sontak saja membuat Kota Palu dan Sulteng geger, sampai – sampai Gubernur Sulteng Drs. Longki Djanggola, M.Si mengeluarkan instruksi untuk mencari TKW itu sampai ketemu. Sebab satu saja ada warga Sulteng yang terjangkit virus corona, maka warga lainnya terancam terjangkit juga, karena virus corona cepat sekali mewabah melalui kontak langsung atau melalui benda yang disentuh oleh penderita virus mematikan itu.

Setelah keluarnya instruksi Gubernur, Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Kesehatan bersama pihak kelurahan di Kota Palu langsung bergerak cepat mencari kebenaran informasi TKW asal Hongkong itu.

Lurah Tatura Utara, Kota Palu, Firman HN

Kelurahan yang begitu sungguh – sungguh mencari kebenaran TKW itu adalah Kelurahan Tatura Utara, karena informasi awal yang beredar TKW dari Hongkong itu tinggal di Jalan Anoa, Kelurahan Tatura Utara.

Lurah Tatura Utara, Firman HN saat ditemui sultengnews.com mengatakan, TKW yang disebutkan baru pulang dari Hongkong dan tinggal di Jalan Anoa 1 bukan warga Tatura Utara, namun warga dari Kabupaten Poso.

“Kemarin beredarnya pemberitaan bahwa ada warga Tatura Utara di duga terpapar covid-19 atau virus corona. Sebenarnya, itu warga dari Kabupaten Poso,” kata Lurah Tatura Utara, Kota Palu, Firman HN saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (18/03/2020).

Firman mengaku, saat ditelusuri keberadaannya sesuai dengan informasi dari Herda yang merupakan tante dari TKW tersebut, yang bersangkutan dari Hongkong transit Jakarta, terus ke Palu. Setibanya di Palu, TKW itu datang ke rumah Herda yang beralamat di Jalan Anoa 1 pada tanggal 4 Maret 2020, sekira pukul 10.00 Wita.

“Sampai di Bandara, dia dijemput ibu dan adiknya. Karena mengingat ada keluarga di Palu (Herda), sehingga mereka memilih menginap semalam saja di rumah tantenya bernama Herda di jalan Anoa,” terang Lurah Tatura Utara itu.

“Kemudian pukul 08.00 pagi, mereka sekeluarga pulang mendarat ke Poso,” tambah Lurah Tatura Utara itu.

Sementara Herda kata Lurah, merupakan karyawan di salah satu laundry di Jalan Rajamoili.

“Mungkin karena Herda tidak nyaman di tempat kerjanya akibat banyaknya pakerjaan, maka Herda meminta izin kepada majikannya dengan alasan pamit melihat ponakannya yang sakit di kontrakan, karena baru pulang dari Hongkong,” terang lurah.

Alasan Herda ke majikannya ini kata lurah, akhirnya memicu kabar yang beredar bahwa ada TKW dari Hongkong yang sakit, tapi tidak mau dirawat di Rumah Sakit. Sebab Hongkong menjadi salah satu negara pademik covid-19 atau virus corona.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr.Husaema yang dikonfirmasi sultengnews.com menerangkan, awal mulanya informasi itu dari pernyataan teman sejawatnya yakni dr.Ardi yang juga Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Palu.

Menurut dr. Husaemah, dr Ardi menyampaikan kepada dirinya bahwa ada karyawan yang bekerja di sebuah laundry meminta izin kepada majikannya mau membesuk kemanakannya di kontrakan yang dalam keadaan sakit karena baru pulang dari Hongkong.

“Dari pernyataan itulah, majikan Herda menyikapi karena kemanakan karyawannya itu baru pulang dari Hongkong, sehingga majikan Herda lalu menelfon dokter Ardi, sebab Hongkong menjadi negara pandemik covid-19 atau virus corona,” terangnya dr. Husaemah.

Kadis Kesehatan Palu ini menyebutkan, pada saat itu juga dr.Ardi turun tangan berkomunikasi dengan Herda Tante TKW tersebut, semula Herda menerima komunikasi. Tetapi setelah, diminta kemanakannya mengontrol kondisinya di rumah sakit untuk diperiksa, saat itu langsung ditutup telvon di kontak kembali tidak di angkat.

Kadis Kesehatan Palu ini menuturkan, majikan Herda tidak tau alamat rumah Herda, sehingga penjelasannya sekedar mengatakan rumah karyawan itu di jalan Anoa 1 berdekatan dengan penjual sayur.

“Sampai itulah, saya bicarakan di pertemuan di Kantor Walikota,” katanya.

Saat ditemukan di kontrakan kata dr. Husaema, tidak satupun ada yang mengaku, sebab pada saat itu Lurah Tatura Utara belum mengetahui nama Tante dari TKW itu, sehingga saat diberitahu nama tante TKW yakni Herda, barulah Lurah Tatura Utara menemui tante TKW itu dan berbicara langsung.

Kepada Lurah Tatura Utara itu, Herda mengakui bahwa benar pernah ada kemanakannya di awal Maret lalu bermalam, namun dalam satu malam saja, sebab pagi hari melanjutkan perjalanan ke Poso.

“Jadi keberadaan TKW itu benar adanya, bukan hoaks. Pernyataan hoaks itu salah, hoaks itukan pembohongan publik,” tegasnya.

Kadis Kesehatan Palu ini menegaskan, apakah TKW itu sakit atau tidak, kalau pulang dari Hongkong itu pasti orang dalam pemantauan, pasti dipantau apalagi daerah yang pandemik virus corona.

“Kita tanggapi keluhan masyarakat untuk mendeteksi secara dini sekecil apapun keluhan, jangan – jangan itu benar,” lanjut dia.

“Ini adalah langkah – langkah kami sebagai ujung tombak Pemkot Kota Palu dalam hal penanganan kesehatan, tentu merespon semua apapun yang disampaikan masyarakat. Apalagi yang sampai kan ini teman sejawat yang juga dokter, tentu validitasnya bisa di uji,” tekannya.

Jika informasi itu dibiarkan lanjutnya, bisa terjadi seperti di Italia, sudah 75 persen penduduknya kena covid-19 atau virus corona baru disikapi.

Hal inilah yang membuat dirinya langsung merespon cepat informasi dari teman sejawatnya itu, jangan sampai terlena. Apalagi memandang remeh persoalan covid-19 atau virus corona.

“Ini kan sebagai bentuk pencegahan sedini mungkin. Jangan sampai sudah terjadi dari satu orang jadi dua orang, kemudian dua orang jadi tiga orang dan begitu seterusnya, karena virus corona kehebatannya yakni kecepatan penyebarannya,” tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *