Ini kata Kadinkes Sulteng Terkait Hasil Swab Mantan Danrem 132 Tadulako dan Ratna Dewi Petalolo

oleh -
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Reny Lamadjido, Sp.PK, M.Kes. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Kadis Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Reny Lamadjido, Sp.PK, M.Kes, menyebutkan Labkes atau laboratorium medis dalam mengerjakan sampel serta interpretasi hasil sudah berpedoman pada Center for Disease Control (CDC), Litbangkes, dan Insert Reagen.

Setelah itu, kata dr.Reny, 6 hari kemudian akan kembali, tapi untuk meyakinkan kesembuhannya maka harus dilakukan swab kembali dan bila hasilnya tetap negatif, maka pasien bisa dinyatakan sembuh.

“Sebagai contoh kasus Pak Agus Sasmita dan keluarga pada waktu swab pertama tanggal 5 Juni, dinyatakan konfirmasi positif. Kemudian setelah 6 hari di swab kembali, ternyata hasilnya sudah negatif, itu karena kondisi kesehatan beliau yang memang sudah membaik,” ujarnya.

Begitu juga dengan hasil swab Ratna Dewi Pettalolo. Menurut dr.Reny, kemungkinan virus covid 19 yang ada pada pasien sudah lama, tetapi melemah dan akan hilang sehingga yang bersangkutan sembuh.

“Tapu pada waktu dilakukan swab, virus yang melemah tersebut masih terdeteksi pada hasil lab, sehingga pasien tersebut masih terkonfirmasi positif,” jelasnya.

Menurut dr.Reny, setelah 6 hari diobati, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi olahraga yang cukup, sehingga dapat mempercepat kesembuhan pasien.

“Pasien yang sebelumnya positif, bisa menjadi negatif dalam beberapa hari sangat bergantung pada asupan makan, dan konsumsi vitamin,” terangnya.

Sesuai dengan hasil penelitian, rata-rata pasien mengalami perbaikan dalam waktu 5 hari, meski begitu setiap individu berbeda-beda.

Disamping itu juga, dr.Reny mengungkapkan, akurasi standar laboratorium semuanya sama, termasuk kualitas hasil Laboratorium Dinkes Sulawesi Tengah.

“Terkait dengan hasil swab Agus Sasmita dan Dewi Pettalolo, pemeriksaan swabnya ada jeda waktu 6 hari. Wajar kalau hasil swab terakhirnya sudah negatif, tetapi sesuai SOP covid harus dilakukan swab sebanyak 2 kali,” ungkapnya.

Selain itu, dr.Reny menuturkan, untuk membuka lab PCR banyak persyaratannya dan harus mendapatkan izin dari Litbangkes pusat dengan hasil evaluasi ruangan, metode jenis alat sebelum melaksanakan running pemeriksaan wajib dilakukan optimasi alat dan reagen serta hasil kurve dan CT.

Sebelum melaksanakan pemeriksaan harus mengikuti standar operasional (SOP) antara lain harus kontrol positif dan negatif dari reagen.

Olehnya kata dr.Reny, akurasi hasil lab tersebut sangat akurat, tetapi untuk pemulihan pasien Covid-19, bisa saja cepat tergantung dari kondisi pasien itu sendiri.

“Dalam mengerjakan sampel serta interpretasi hasil kami berpedoman pada Center for Disease Control (CDC), Litbangkes, Insert Reagen dan semua laboratorium yang ada harus memakai standar dimaksud termasuk Labkes Provinsi Sulteng,” tutupnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *