Ibu Menyusui Cenderung Terabaikan Dalam Penanganan Bencana di Sulteng

oleh -

Pakar nutrisi dan gizi, dr Wiyarni Pambudi SpA, IBCLC saat menyampaikan materi pada kegiatan work shop yang dilaksanakan Save the Children atau Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) di salah satu hotel di Kota Palu, Selasa (6/8/2019). FOTO : MAHFUL/SN

PALU, SULTENGNEWS.com – Pakar nutrisi dan gizi, dr Wiyarni Pambudi SpA, IBCLC dari satuan tugas (Satgas) Air Susu Ibu (ASI) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan, ibu menyusui dan anak cenderung terabaikan dalam penanganan bencana di Sulawesi Tengah (Sulteng) khususnya di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) yang terjadi pada 28 September 2018 lalu.

Hal itu disampaikan dr. Wiyarni Pambudi, saat menjadi narasumber pada kegiatan work shop yang dilaksanakan Save the Children atau Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) di salah satu hotel di Kota Palu, Selasa (6/8/2019).

Menurut dr. Wiyarni Pambudi, ketidak seriusan penanganan ibu menyusui dan anak terlihat jelas di tempat-tempat pengungsian yang tidak menyediakan tenda khusus bagi ibu menyusui agar mereka merasa tenang dan nyaman menyusui bayinya.

Selain itu, kesehatan anak juga tidak mendapat perhatian karena hampir semua dapur umum yang didirikan, tidak ada yang membuat khusus makanan anak-anak.

“Saat turun melihat langsung tenda pengungsian, hampir tidak ada kami dapatkan tenda khusus ibu menyusui. Bahkan dapur umum juga tidak ada yang mengurus makanan khusus anak,” ujar dr. Wiyarni Pambudi.

Untuk itu, pakar gizi dan nutrisi itu menyampaikan bahwa dalam penanganan bencana yang harus diperhatikan bukan hanya logistik kebutuhan orang dewasa atau masyarakat umum, tapi juga kebutuhan asupan makanan bayi pendamping ASI di pengungsian.

“Agar hal itu dapat terlaksana, perlu mendapat dukungan dari semua sektor pemerintah,” kata dr Wiyarni.

Secara khusus pakar gizi itu menyampaikan, beberapa rekomendasi respon siaga bencana sebagai bentuk dukungan terhadap ibu menyusui diantaranya; menyediakan tenda khusus ibu dan bayi yang tersedia di dekat tenda pengungsian atau huntara, mengusahakan akses bantuan praktis bagi ibu dengan keluhan menyusui seperti konseling saat ANC atau hamil, pendampingan IMD atau melahirkan, asesmen dan manajemen laktasi.

Memenuhi kebutuhan ibu menyusui seperti asupan nutrisi dan cairan, tempat istrahat, dukungan menyusui dari semua pihak, serta melakukan advokasi pentingnya menyusui disituasi bencana.

“Mengapa menyusui penting disituasi bencana; karena ASI selalu tersedia dan siap diberikan tanpa menunggu bantuan datang, Antibodi ASI melindungi bayi terhadap pajanan air terkontaminasi dan penurunan resiko kematian akibat infeksi pneumonia, diare dan OMA serta menyusui sama dengan hemat dan ramah lingkungan, tidak ada sampah kemasan sufor atau botol dot,” terang dokter ahli gizi ini.

Olehnya, dr Wiyarni Pambudi sangat menyayangkan belum adanya upaya pendirian tenda laktasi bagi ibu menyusui, belum adanya upaya penugasan petugas kesehatan dengan kompetensi konseling menyusui, belum adanya tindakan tegas untuk menyikapi donasi formula bayi seperti botol-dot yang dilakukan secara massif dan dibagikan tanpa pengetahui Dinas Kesehatan di daerah terdampak bencana.

“Akibat penanganan bencana kita yang kurang baik terhadap ibu menyusui dan anak, akhirnya kita mendapat penilaian yang kurang baik dari lembaga dunia yang memantau khusus masalah ibu menyusui dan kesehatan anak,” tegasnya. FUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *