Ibrahim A Hafid : Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Menjadi Tanggungjawab Negara

oleh -
Anggota DPRD Sulteng, Ibrahim A Hafid. FOTO : MIFTAHUL AFDAL/SN

PALU, SULTENGNEWS.COM – Anggota DPRD Sulteng Komisi IV yang membidangi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, Ibrahim A Hafid menyebutkan kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi tanggungjawab negara.

“Yang berada dalam rumah merupakan warga negara Indonesia, sehingga jika terjadi kekerasan hal ini menjadi tanggungjawab negara,”ujar Ibrahim A Hafid saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/07/2020).

Ketua Fraksi NasDem DPRD Sulteng itu mengatakan, karena ini menyangkut hak atas dirinya sebagai warga negara untuk mendapatkan perlindungan, maka semua warga negara wajib mendapatkan perlindungan juga dari negara.

Dia menyatakan, pemerintah harus bisa menjalankan secara tegas peraturan daerah dan perundang-undangan berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Akar masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak, disebabkan faktor ekonomi, kondisi sosial dan lingkungannya serta sumberdaya manusia.

Dia menerangkan, soal angka kesejahteraan erat kaitannya dengan ekonomi, karena menjadi salah satu faktor penunjang terhadap kekerasan.

“Jadi jika dilihat kasus pembunuhan suami kepada istri, itu disebabkan uang rokok, sehingga menurut saya pemicunya pada sumber ekonomi,” terangnya.

Dia menjelaskan, pembagian peran antara istri dan suami dalam rumah tangga juga perlu diperhatikan, karena jika hal itu tidak dapat di manajemen secara baik akan menimbulkan sebuah masalah.

“Hubungan sosial harus dibangun, karena ketika tidak terjadi interaksi dalam lingkungannya, secara tidak langsung akan menjadi keluarga yang tertutup dan akan menjadi pemicu yang besar karena tidak bisa bersosialisasi dengan keluarga dan tetangganya,” urainya.

Dia mengungkapkan, sumber daya manusia juga harus dibangun dan diberikan dengan muatan pengetahuan serta edukasi yang diberikan langsung kepada masyarakat.

Ibrahim Hafid berharap, dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak setiap tahun dapat menargetkan penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak lebih dari 50 persen.

“Angka kekerasan yang ada pada saat ini yang mencapai 174 kasus, sudah luar biasa dan harus di targetkan untuk tahun depan menurun secara drastis, bahkan kalau bisa zero kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tutupnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *