Hasil Survei MSI di Pilkada Kota Palu, Elektabilitas Paslon Bersaing Ketat

oleh -
Direktur MSI, Asep Rohmatullah di dampingi Moderator, Mahmudin Ahmad saat memaparkan hasil survei MSI terhadap Pilkada Kota Palu. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Hasil survei yang dilakukan Media Survei Indonesia (MSI) untuk elektabilitas Pasangan Calon (Paslon)  Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Palu pada November 2020, para paslon bersaing ketat.

Dalam survei tersebut, tidak ada calon Walikota dan Wakil Walikota Palu yang dominan. Singkatnya, semua kandidat masih memiliki kesempatan yang sama untuk menang.

Hal itu disampaikan Direktur MSI, Asep Rohmatullah saat konferensi pers di Careto Cafe & Resto, Jalan Pemuda, Besusu Tengah, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (03/12/2020).

Survei MSI Pilkada Kota Palu dilakukan pada 13 sampai 18 November 2020 terhadap 600 responden di seluruh kecamatan di Kota Palu.

Survei menggunakan metode Multistage Random Sampling (sampel acak bertingkat), dengan margin of error sekitar +-4.1 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. Wawancara dilakukan secara tatap muka. Guality control melalui monitoring dan spotcheck 20 persen dari total sampel.

Menurut Direktur MSI Asep Rohmatullah, elektabilitas calon Walikota dan Wakil Walikota bersaing sangat ketat. Selisih suaranya bahkan tidak lebih dari dua persen.

“Hasil survei terakhir MSI, Hadi-Reny 24.3 persen, Aristan-Wahyuddin 22.8 persen, dan Hidayat-Habsa 22.0 persen. Hanya Imelda-Arena yang berjarak cukup jauh, angkanya baru 13.2 persen. Kita bisa lihat semua kandidat masih berpeluang yang sama,”ujarnya.

Tak hanya itu, tambah Asep, angka yang belum menentukan pilihan sekitar 17 persen.

“Masih ada undecided voters yang jumlahnya 17.7 persen. Angka ini akan diperebutkan oleh semua paslon,”tambahnya.

Mantan peneliti LSI Denny JA itu mengatakan, jika dilihat dari tren dukungan, paslon nomor 01 mengalami lonjakan suara yang signifikan. Nomor 02 dan 03 juga naik. Sedangkan, nomor 04 cenderung stagnan.

“Aristan-Wahyudin meningkat dari 10.9 persen menjadi 22.8 persen. Pasion no 2 naik dari 20 persen ke 24.3 persen, paslon no 3 juga naik dari dari 18.8 persen. Sementara, paslon no 4 stagnan, 13.5 persem ke 13.2 persen,”katanya.

Asep mengungkapkan, untuk pengenalan dan kedisukaan kandidat Walikota, Hidayat dikenal 91.9 persen, disukai 46 peraen, Aristan dikenal 82.3 persen dan disukai 51.7 persen, Hadianto Rasyid dikenal 81.6 persen dan disukai 54,50, serta Imelda Liliana 75.596, disukai 47.2 persen.

“Popularitas semua kandidat belum ada yang maksimal, bahkan tiga calon Walikota Palu masih di bawah angka 90 persen. Sementara, tingkat kesukaan yang sudah di atas 50 persen baru Aristan dan Hadianto. Harus ada kerja ekstra dari para kandidat mengenalkan diri mereka dan bikin warga Kota Palu makin menyukainya di injury time,”ucapnya.

Survei ini juga mendeteksi keinginan dan ketidakinginan memilih kembali petahana.

“Warga yang tidak ingin memilih incumbent Walikota Palu Hidayat sebesar 49.3 persen. Berbanding terbalik dengan angka yang ingin memilih kembali, 25.8 persen. Ini alarm untuk petahana,”ungkapnya.

Lebih lanjut, Asep menjelaskan alasan masyarakat yang ingin dan tidak ingin incumbent terpilih kembali.

“Untuk yang tidak menginginkan kembali, sebanyak 79.190 menilai Hidayat tidak mampu menyelasaikan masalah yang ada di Kota Palu,”jelasnya.

Dia menerangkan, terkait berapa banyak warga Kota Palu yang mengetahui dan akan ikut serta memilih pada 9 Desember nanti.

“Sebanyak 96.8 persen masyarakat Palu tahu jadwal voting day. Dari mereka yang tahu, 97.7 persen mengaku akan datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya,”sebutnya.

Asep kembali menerangkan, saat ditanya apakah warga Kota Palu percaya bahwa pilkada memberikan dampak bagi kehidupan mereka? Sebanyak 81.2 persen mengatakan sangat/cukup percaya, 10.3 persen tidak/kurang percaya. Sisanya tidak tahu/tidak jawab.

“Sebagian besar warga berharap melalui perhelatan pilkada Kota Palu ini melahirkan pemimpin yang bisa memperbaiki nasib mereka,”tutupnya.

Media Survei Indonesia atau disingkat MSI merupakan lembaga survei yang didirikan di Kota Tangerang Selatan, berdasarkan Akta Notaris Nomor 1, tertanggal 22 Februari 2012 dan SK Kemenkumham No. AHU-29207.AH.01.01. Tahun 2012.

MSI telah terdaftar di KPU Pusat sejak tahun 2014, dengan nomor: 013/LS-LHC/KPURI/II/2014. MSI juga terdaftar di KPU Provinsi Sulawesi Tengah sebagai lembaga survei pemilihan tahun 2020.

MSI tergabung dalam Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi). DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *