Gunung Siopu’ndulung Kompas Bagi Para Nelayan

oleh -
Hamparan alang-alang di gunung Siopu'ndulung, kompas bagi para nelayan. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PARIMO, SULTENGNEWS.COM – Gunung selalu menghadirkan sebuah keindahan yang tak terkira, meski memang nyatanya untuk mendapatkan keindahan itu perlu usaha dan perjuangan keras mendaki hingga ke puncak pegunungan.

Penampakan keindahan alam di Indonesia tak kalah hebatnya dengan gunung-gunung yang berada di benua Amerika ataupun benua Eropa.

Misalnya saja, gunung Rinjani, gunung Semeru, gunung Prau, gunung Bromo, dan masih banyak lagi. Bagi para pendaki yang sudah menginjakan kakinya disana, pasti telah melihat jelas anugerah dari Tuhan.

Namun, sebagian gunung tak hanya memberikan keindahannya. Akan tetapi, gunung juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat khususnya yang berada di pedesaan.

Secara pengetahuan lokal masyarakat pedesaan, gunung akan dimakanai secara berbeda bagi masyarakat yang memiliki keyakinan berlainan secara adat istiadat.

Seperti halnya masyarakat di Desa Sidoan, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mereka yang berprofesi sebagai nelayan, melihat gunung Siopu’ndulung bukan hanya dari keindahannya yang memang tak bisa ditawar ketika momen matahari terbit dan tenggelam terjadi. Sebab, bagi para nelayan gunung Siopu’ndulung menjadi arah pulang mereka selepas melaut.

Jika pada penjajahan kolonialisme, para pelaut menandai tempat yang dituju saat belayar dengan cara membangun Mercusuar di lokasi tertentu. Maka, orang-orang lokal kita juga memiliki pengetahuan yang lebih tradisional dan akrab dengan alam, dimana, gunung menjadi sebuah penanda kedaratan.

Salah satu anggota Kelompok Pencinta Alam (KPA) Sioupu’ndulung Kecamatan Sidoan, Abdul Musyafif mengatakan, penamaan gunung Siopu’ndulung berasal darai bahasa Lauje yaitu nene gunung atau leluhurnya para gunung di Desa Sidoan. Karena, gunung Siopundulung merupakan gunung yang pertama ada di Desa Sidoan.

Dia menyebut, bahwa berdasarkan penuturan dari masyarakat setempat, jika nelayan pergi memancing di laut. Meskipun nelayan mendayung perahunya sejauh mata memandang bahkan hilang dari pandangan mata, gunung Siopu’ndulung akan tetap terlihat oleh nelayan tersebut.

“Menurut orang tua disana, kalau orang yang pergi turun ba pancing di laut, biar dia (nelayan) so jauh kaya apa dia ka bawah itu gunung tetap dapa liat,”ujar Apip panggilan akrabnya.

Bahkan, setinggi apapun gunung yang mengapit, hanya gunung Sioupu’ndulung itulah yang dapat terlihat oleh nelayan saat berada di lautan lepas. Olehnya itu, gunung Siopu’ndulung menjadi kompas para nelayan ketika melaut untuk mencari ikan sebagai mata pecharian sehari-hari menghidupi keluarga.

“Jadi, gunun itu (Siopu’ndulung) kata dorang (mereka) nelaya, dijadikan sebagai kompas kalau mau pulang ke darat,”ucap Apip.

Tak hanya itu saja, Apip mengungkapkan, di gunung Siopu’ndulung sering ditemukan benda-benda pusaka bahkan tanaman di tempat tertentu, padahal tidak satu pun masyarakat di Desa Sidoan, bercocok tanam ditempat tersebut.

“Waktu itu, orang yang mendaki di gunung Siopu’ndulung menemukan kebun bawang merah, dia ambe (ambil) hanya beberapa saja. Terus dia turun pulang ke rumahnya, tapi setelah dia balik kembali ke tempat pertama dia temukan kebunbawang, tiba-tiba itu kebun bawang hilang,”ungkapnya.

Gunung Siopu’ndulung juga, kata Apip, cerita dari mulut ke mulut di gunung itu terdapat portal untuk tembus ke negeri Uwentira.

“Katanya disitu (gunung Siopu’ndulung) juga salah satu pintu masuk ke Uwentira,”tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *