Ekspor Nikel dan BBM Masih Jadi Unggulan Sulteng

oleh -
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Luar Negeri, Fajar Setiawan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (09/09/2021). FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng)  memastikan di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) aktivitas ekspor tidak terganggu.

“Kalau ekspor sendiri sesungguhnya tidak ada pengaruh dengan PPKM,”ujar Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Luar Negeri, Fajar Setiawan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (09/09/2021).

Bahkan, menurut Fajar sejak tahun 2020 sampai 2021 ekspor Sulteng mengalami kenaikan cukup drastis. Dia menjelaskan, pada 2020, ekspor Sulteng mendapatkan 6.127,19 Juta USD dan mengalami kelonjakan di 2021 senilai 7.480,65 Juta USD.

“Kalau kita lihat data BPS terakhir Bulan Juli ini, bisa kita lihat ekspor dari Sulawesi Tengah sendiri sangat melonjak cukup drastis. Kemarin kita berada di 6.127,19 Juta USD sepanjang tahun 2020 tetapi terakhir di bulan Juli 2021 kita sudah sampai di 7.480,65 Juta USD, secara nominal uangnya justru ada peningkatan yang signifikan,”ucapnya.

Januari sampai Desember 2020, kata Fajar, ekspor Sulteng berada di 6.127,19 Juta USD hingga Juli 2021 berdasarkan data BPS sudah mencapai 7.480,65 Juta USD. Itu berarti ada pertumbuhan ekspor yang signifikan.

“Jadi kita masih menyisakan Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember masih 5 bulan lagi artinya bisa tembus di angka 8.000.00 Juta USD,”sebutnya.

Fajar menjelaskan, nikel dan Bahan Bakar Mineral (BBM) masih menjadi produk unggulan ekspor Sulteng. Dan Kabupaten Morowali serta Banggai menjadi penopang utama.

“Secara ekspor kita masih tetap tinggi memang masih ditopang dari Morowali dan Banggai untuk ekspor, artinya ekspor kita masih banyak dari olahan nikel pertambangan dan BBM di Banggai,”jelasnya.

Bahkan, kata Fajar, Sulteng mendapat pengakuan dari Kementrian Perdagangan Republik Indonesia karena pernah penyumbang defisit perdagangan Indonesia dan China sebanyak 14 miliar. Untuk Sulteng sendiri, menurut Fajar menyumbang sekitar 7 sampai 8 miliar.

“Dan dari Kementerian Perdagangan itu akui kita, tahun kemarin itu khusus dari Morowali saja kita bisa menyumbang defisit perdagangan Indonesia-China itu 14 miliar. Kita sumbangsi dari Sulawesi Tengah sekitar 7 sampai 8 miliar jadi kita pangkas setengahnya dari ekspor kita,”ungkapnya.

Meski demikian, Fajar menerangkan, antara ekspor dan impor di Sulteng saling beriringan. Hal itu dikarenakan, banyaknya pembangunan smelter.

“Tapi ekspor kita tahun ini juga memang tinggi tapi impor juga tinggi. Impor kita tinggi, setelah kita lihat karena banyaknya pembangunan konstruksi smelter jadi ini bisa menopang pertumbuhan ekonomi kita,”terangnya.

“Ekspor tinggi produksi tinggi berarti ada pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Kalau kita lihat data yang sampai Juli kemarin itu berarti hampir setengah dari 6.127,19 Juta USD itu keluar dan impornya tinggi 3.000.00 Juta USD, tapi secara perdangan bersih kita masih surplus 3.000.00 Juta USD”tandasnya.DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.