Dugaan ‘Persekongkolan’, Indikasi Penyebab Pembangunan GOR Parigi Moutong Mangkrak

oleh -
Mega Proyek Pembangunan GOR miliaran rupiah yang masih terkatung-katung. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PARIMO, SULTENGNEWS.COM – Dugaan adanya ‘persengkongkolan’  dalam sejumlah proses pengadaan pembangunan GOR Kabupaten Parigi Moutong. Seakan jadi indikasi asal-muasal, penyebab ‘mangkraknya’ mega proyek bernilai belasan miliar rupiah, yang dikelola Dispora Kabupaten Parigi Moutong.

Mega proyek pembangunan Gelanggang Olahraga (GOR), yang bertempat di Desa Jono Kalora, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Berbanderol pundi-pundi rupiah dengan nilai mencapai Rp11 miliar, dengan sumber anggarannya dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun 2019.

Bangunan GOR dengan nilai miliaran rupiah yang kini mangkrak. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

Meski upaya pengerjaan pada mega proyek pembangunan GOR ini terlaksana selama dua tahun terakhir. Sayangnya, hal tersebut seakan tidak membuat cukup waktu bagi dua perusahaan yang menjadi kontraktor pelaksana dalam proyek tersebut, untuk dapat menyelesaikan proses pengerjaannya sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.

Parahnya lagi, tahapan pengerjaan mega proyek pembangunan GOR tersebut yaitu, pada Tahun 2019 dan Tahun 2020 disinyalir telah menghabiskan anggaran sekitar 9 miliar.

Dalam pemberitaan media ini sebelumnya. Saat ini, kondisi bangunan itu memperihatinkan. Pasalnya, beberapa bagain gedung bangunan GOR tersebut, baru samapai dalam tahapan plester semen saja. Bahkan, bagian dalam yang merupakan inti GOR, masih menyisakan ratusan bambu berserakan dilantai dan besi beton tribun penonton masih menjulur. Selain itu, juga terlihat satu buah rangka besi berukuran besar yang diduga merupakan bagian penyangga atap, masih membentangi pada hampir setengah badan bangunan dan nyaris tak terurus lagi.

Dispora Kabupaten Parimo Tidak Belajar Dari Pengalaman

Dispora Kabupaten Parimo seakan tidak  belajar dari pengalamannya yang pernah ‘kecolongan’ dalam menjalankan tanggungjawabnya sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis terhadap proyek pembangunan GOR Parimo tersebut.

Pada awal pembangunan gedung itu Tahun 2019 silam, Pemimpin Dispora Kabupaten Parimo masa itu, dijabat oleh Zulfinachri Ahmad, yang merupakan Kepala Dinas (Kadis) Dispora Kabupaten Parimo.

Bahkan, Zulfinachri, masih menjabat sebagai Kadis Dispora Kabupaten Parimo, ketika proyek tersebut sempat mangkrak di tahun 2019, yang kemudian proses pengerjaannya kembali berlanjut pada Tahun 2020.

Kegagalan pengerjaan proyek itu pada Tahun 2019 lalu, seakan tidak menjadi pengalaman Dispora Kabupaten Parimo dalam menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya, selaku OPD teknis yang bertanggung jawab terhadap kelancaran penyelesaian proyek tersebut.

Padahal, dalam upaya pengerjaan mega proyek pembangunan GOR itu, telah melibatkan dua perusahaan kontraktor pelaksana yang berbeda.

Tapi sayangnya, seakan jauh panggang dari api. Sebab, lagi-lagi pekerjaan pembangunan gedung mengalami keterlambatan Tahun 2020 kembali mangkrak. Bahkan, Hal ini seakan nyaris memberi penegasan, jika Dispora Kabupaten Parimo saat itu telah lalai dalam melaksanakan tanggungjawabnya terhadap pembangunan GOR tersebut.

Akibat kelalaian dari Disporapar Kabupaten Parimo itu, membuat kerugian negara yang nilainya ditaksir bisa mencapai miliaran rupiah pun, tidak dapat terhindarkan.

Dugaan adanya ‘persekongkolan’ pada sejumlah tahapan proyek tersebut, mencuat kepermukaan pasca media ini, mendapatkan sejumlah informasi terkait keterlibatan beberapa perusahaan yang turut berkontribusi untuk mensukseskan pembangunan GOR yang sebelumnya disebut-sebut bakal menjadi salah satu bangunan primadona pada wilayah perkotaan Kabupaten Parimo.

Nyatanya, dalam hal keterlibatan oknum perusahaan kontraktor pelaksana pada proyek tersebut, merupakan orang yang sama dengan oknum perusahaan kontraktor yang membuat proyek pembangunan GOR ini sempat mangkrak di tahun sebelumnya.

Menariknya, hal itu, ‘muncrat’ dari pengakuan, pemilik toko bangunan UD Afiki, Haslun yang juga merupakan suplayer pembangunan GOR tersebut.

Saat bertemu media ini, di salah satu rumah makan wilayah Kota Parigi, Selasa (09/3/2021) malam. Haslun membeberkan, langsung hak itu ke hadapan sejumlah tim media ini.

“Karena pekerjaan pada tahun sebelumnya sudah mangkrak. Tapi anehnya, orang yang bekerja pada tahun berikutnya masih merupakan orang yang sama, dengan tahun sebelumnya. Hanya saja, nama perusahaannya yang berbeda,” bebernya.

Dia merasa prihatin dengan kondisi gedung GOR yang masih terkatung-katung sampai saat ini, padahal dirinya berharap dengan adanya gedung GOR di Kabupaten Parimo dapat memberdayakan anak-anak daerah yang memiliki hobi dalam bidang olahraga.

“Saya merasa terpanggil karena daerah sendiri, padahal kalau itu GOR ada anak-anak punya gedung olahraga bisa bermain bola disitu,”ucapnya.

Bahkan, Hasrul mengatakan, dirinya juga dirugikan sebagai suplayer, karena pengadaan barang darinya tidak dibayar oleh perusahaan kontraktor pelaksana dengan besaran sekitar Rp 60 juta. Sehingga, untuk menutupi dana yang telah dia keluarkan, Hasrul pun menarik sejumlah barang tersebut.

“Masih ada sisa bahan yang belum terpakai saya tarik, untuk menutupi utang itu,”tandasnya. TIM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *