Dua Anggota Sipil Bersenjata di Poso Menyerahkan Diri

oleh -
Kapolda Sulteng, Irjen Polisi Drs. Syafril Nursal, SH.MH saat wawancara dengan sejumlah wartawan saat tiba di Bandara Sis Al-Jufri, Jumat (20/03/2020), pukul 16.30 Wita. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

POSO, SULTENGNEWS.COM – Merasa terdesak, dua Daftar Pencarian Orang (DPO) anggota sipil bersenjata yang tergabung dalam Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, akhirnya menyerahkan diri ke pihak kepolisian.

Hal itu disampaikan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Tengah, Irjen Polisi Drs. Syafril Nursal, SH.MH saat wawancara dengan sejumlah wartawan saat tiba di Bandara Sis Al-Jufri Palu dari Kabupaten Poso, Jumat (20/03/2020), pukul 16.30 Wita.

“Pada 16 Maret sampai 17 Maret 2020, dua DPO yang berinisial FN dan UD, menyerahkan diri karena yang bersangkutan merasa tidak kuat, sebab kita mengepung dan kemudian ke dua DPO menyerahkan diri,” ujar Kapolda.

DPO yang berjumlah 10 orang itu, dari adanya ketambahan anggota baru yang masuk sebanyak 8 orang menjadi 18 orang, namun 2 orang diantaranya telah menyerahkan diri. Saat ini DPO yang berada di atas gunung biru Poso sekitar 16 orang yang semuanya berasal dari Poso.

Ke dua DPO yang menyerahkan diri kata Kapolda, masih sangat muda berumur di bawah 20 tahun.

“Kita sayangkan anak-anak muda seperti ini, sudah bergabung dengan kelompok yang sesat dan mendapatkan doktrin-doktrin yang salah,” ujar Kapolda.

Menurut Kapolda, ke dua DPO memiliki peran cukup signifikan, karena FN merupakan satu diantaranya tukang antar orang-orang yang akan bergabung ke atas gunung. Sementara UD juga begitu sebagai penghubung ke atas gunung dan penghubung dukungan logistik serta berperan merekrut orang-orang yang ada di bawah untuk bergabung dengan kelompoknya.

Kapolda Sulteng menghimbau, kepada seluruh DPO yang masih ada di gunung biru Poso untuk segera turun dan menyerahkan diri kepada kepolisian, agar kepolisian dapat mengakhiri Operasi Tinombala dengan baik.

“Sekarang yang ada di atas gunung itu berdasarkan analisa dan data-data yang kita miliki ada sekitar 16 orang,” lanjut Kapolda.

Kapolda juga menjelaskan, dalam Operasi Tinombala tidak hanya mengejar DPO yang ada di gunung, tetapi juga melakukan kegiatan pembinaan terhadap masyarakat di bawah.

“Saya juga menghimbau kepada masyarakat yang dibawah, untuk tidak terpengaruh dengan ajaran-ajaran yang tidak benar itu dan doktrin-doktrin tidak benar pula yang kemudian merugikan kita semua,” tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *