Dosen Program Studi Sosiologi Beri Pelatihan Pengembangan Potensi Desa

oleh -
Proses pembuatan tepung terigu di Desa Sipi. FOTO : IST

DONGGALA, SULTENGNEWS.COM – Sejumlah dosen yang aktif di Lab Study Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Universitas Tadulako (Untad) memberikan pelatihan pengembangan potensi desa di Desa Sipi, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala.

Pelatihan itu, mengusung tema tentang pemanfaatan potensi lokal bagi Desa Sipi.

“Saya bikin pelatihan di desa, pembuatan tepung pisang di Desa Sipi, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Sigi,”ujar Kordinator Pelatihan, Hasan Muhamad atau akrab di sapa Aba kepada sultengnews.com, Kamis (22/07/2021).

Aba mengatakan, hampir setiap rumah yang menanam pisang, dan saat panen, tidak termanfaatkan dengan baik, oleh karena itu dianggap perlu dilakukan pelatihan Teknologi Tepat Guna (TTG). Jika ini dilakukan oleh masyarakat (Ibu-Ibu) tentunya dapat meningkatkan pendapatannya

“Teutama hasil tepung pisang dapat dibuat berbagai olahan, kue, makanan bayi dan lain sebagainya. setidak-tidaknya dapat mengganti tepung terigu dengan tepung pisang. peluang pasar sebenarnya menjanjikan jika dikelola dengan baik terutama soal perizinan maupun label halal,”terang Aba.

“Kalau orang Bandung bilang pisang kepok, pisang itu kita olah dan kita rubah jadi tepung pisang,”tambahnya.

Aba juga mengungkapkan, nilai pasaran tepung pisang di pulau Jawa mencapai Rp 80 ribu perkilo. Olehnya, kata Hasan, jika pengelolaan dan manajemen pemasaran tepung pisang di Desa Sipi bisa memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam satu tandang pisang dapat menghasilkan 8 sampai 10 kilo tepung pisang, jika sekilo tepung pisang dapat dijualkan di pasar tradisional maupun supermarket yang ada di Kabupaten Donggala dan Kota Palu dengan harga Rp 30 ribu, maka dengan hasil 10 kilo tepung pisang masyarakat bisa memiliki pengahasilan Rp 300 ribu.

“Tepung pisang ini di daerah Jawa satu kilo Rp 80 ribu. Kalau disini satu tandang Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu itu bisa menghasilkan delapan sampai sepuluh kilo, kalau kita jual di Palu sini satu kilo Rp 30 ribu, maka jika di jual sebanyak 10 kilo sudah sekitar Rp 300 ribu,”jelasnya.

Paling tidak, kata Aba, masyarakat bisa memanfaatkan potensi lokal. Bahkan, tepung pisang ini menurut hasil riset aman di konsumsi bagi orang yang diabetes.

Pelatihan yang dilakukan di Desa Sipi sebenarnya mengharapkan pengurus
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Hanya saja, bagi Aba BUMDes di desa mati segan hidup segan.

“Maka yang saya libatkan Ibu-ibu PKK, saya selaku Ketua pelatihan dan anggota Pak Dr.Surahman Cino, M.Si dan Dr.Roslinawati,M.Si,”ucap Hasan.

Aba mengharapkan kedepannya adalah dengan adanya kesepakatan kerjasama antara Kepala Desa Sipi dengan Ketua Program Studi Sosiologi akan ada pelatihan susulan sehingga di Desa Sipi tepung pisang menjadi Prudes (Program Unggulan Desa).

Lebih lanjut, Aba mengatakan, setelah pelatihan pembuatan tepung pisang terlaksana, akan diupayakan masyarakat dapat menanam pisang melalui Peraturan Desa (Perdes) setiap rumh tangga baru salah satu syaratnya adalah kebun pisang.

“Ketika ditanyakan Kades ke saya, maka saya bilang bapak punya kekuatan, bikin peraturan desa untuk setiap laki-laki yang akan menikah persyaratannya memiliki kebun pisang,” tandasnya.DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *