Debat Pamungkas, Rusdy: Pendidikan Bahasa Daerah Menjadi Prioritas untuk Pertahankan Adat Istiadat Sulteng

oleh -
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura - Ma'mun Amir saat mengikuti debat terbuka sesi terakhir. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Calon Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, memukau peserta Debat karena Cudy menjawab dengan lugas pertanyaan panelis Debat Publik Ketiga terkait budaya sebagai perekat bangsa dalam bingkai NKRI.

Cudy menyebutkan bahwa ia sebelumnya pernah menggagas di Kota Palu terkait pendidikan budaya dan bahasa Kaili.

“Saya dulu pernah menggagas di Kota Palu ini Pendidikan Bahasa Kaili yang terdiri dari enam bahasa di Kota Palu ini,” ucap Cudy.

Untuk itu, menurut Cudy, ia akan mengembangkan Pendidikan Bahasa Daerah tersebut di Sulawesi Tengah kelak setelah ia terpilih menjadi Gubernur Sulawesi Tengah.

“Jadi saya harapkan kedepan untuk budaya kita berkembang kedepan dari segi bahasa terutama, bahwa di kabupaten-kabupaten bahasa kepada anak kita itu kita ajarkan supaya anak-anak kita kedepan tidak kehilangan bahasa ibu,” kata Cudy.

Cudy menyebutkan bahwa Bahasa Daerah adalah bagian dari peradaban bangsa yang mengantarkan kita menuju bangsa besar yaitu bangsa Indonesia dengan bahasanya bahasa Indonesia. Namun menurut Cudy bagaimanapun juga kita tidak boleh meninggalkan budaya dan bahasa daerah.

“Itu adalah bagian dari peradaban bangsa ini, lahirlah suatu bangsa yang besar, bahasa Indonesia. Tapi kita terdiri dahulu kala dari masing-masing daerah, kemudian kita menyatakan diri masuk dalam NKRI, tapi kebudayaan daerah tidak boleh kita matikan, tidak boleh kita nafikan, itu harus tetap menjadi bagian dari beradaban kita,” tegas Cudy.

Cudy menyebutkan bahwa gagasan yang ia bawa adalah gagasan yang kongkrit. Cudy lalu menutup dengan menegaskan bahwa Pendidikan Bahasa Daerah adalah Pendidikan Budaya yang mutlak harus dilakukan di Sulawesi Tengah.

“Kita sama-sama ingin membangun apa yang ada di negeri yang unik ini karena sekian banyak bahasa. Bayangkan saja, bahasa Kaili itu ada dua belas macam, bahasa Banggai ada tiga, bahasa Poso itu ada Bare’e, banyak sekali bahasa yang merupakan aset bangsa, kita harus masukan pendidikan bahasa dearah dalam pendidikan lokal kita, itu kongkrit saya,” tutur Cudy. RED

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *