Curhat Pasien Positif Corona Yang Memilukan, Inilah Isi Curhatan Lengkapnya..!!

oleh -
Inilah Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) tempat dikarantina pasien corona di Tolitoli. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.COM – Jagad maya khususnya para pengguna Facebook (FB), dikejutkan dengan munculnya status seorang pasien yang dinyatakan positif corona berdasarkan hasil swab di Kabupatan Tolitoli yang dia unggah melalui akun FB miliknya Saiful Ipul.

Dalam curhatannya, Saiful Ipul mengeluhkan perlakuan petugas kesehatan yang datang kerumahnya dengan menggunakan mobil ambulance dan dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD) tanpa memberi kabar atau informasi terlebih dulu kepada dirinya. Padahal dia sangat rutin melakukan pemeriksaan setelah pulang dari makassar.

Dia juga mengeluhkan tidak adanya pemeriksaan rutin dari dokter selama mereka menjalani karantina di SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa selama masa karantina, mereka akan diperiksa secara rutin oleh dokter.

Selain itu, dia pun mengeluhkan fasilitas di SKB yang sangat minim seperti toilet yang sangat terbatas, sementara mereka ada beberapa orang yang dikarantina.

Dia juga menuliskan kondisi keluarga yang dia tinggalkan selama menjalani massa karantina yang begitu sedih dan memilukan.

Berikut isi curhatan lengkapnya yang disadur dari akun FB milik Saiful Ipul :       

Bapa2 yg sdh saya telfon tadi malam, secara pribadi saya mohon maaf atas suara saya yg besar dan cenderung ke arah emosi, Sya besar suara bukan karena menyesali atau marah karena saya positif cov 19. Karena saya memiliki keyakinan hal ini bukanlah suatu aib yg harus saya sembunyikan, dan ini terjadi kpd saya karena Allah ingin menguji ke imanan saya kpadaNya.

Saya besar suara karena saya tidak mau apa yg saya alami sekarang ini terjadi kpd orang lain. Perlu anda semua tau, saya bukan termaksud orang yg lari atau menghindar ketika saya mau di periksa. Dan perlu Anda semua tau saya tiba dari Makassar tanpa ada yg suruh 3 kali saya berturut turut dalam waktu 15 hari saya selalu cek keadaan diri saya, sampai akhirnya saya di berikan surat keterangan klau sya bebas dari covik 19.

Empat minggu berlalu saya merasa diri saya sdh aman, karena klau dihitung hitung saya sdh melewati 2 kali masa karantina. Seingat saya selama 4 minggu itu petugas kesehatan hanya datang 3 kali, pertama cek suhu badan, ke dua saya di kasi obat batuk, ktiga minta foto untuk dokumentasi. Dan in dilakukan hanya dalam waktu 1 minggu kurang lebih. Selebihnya tdak ada lagi pengecekan rutin. Tiba2, kalau bukan tanggal 3 atau tanggal 4 bulan ini ada rombongan mobil dari puskes datang kerumah tanpa ada pemberitahuan dulu kepada saya. Padahal bisa saja saya di telfon untuk disuruh datang ke Puskes, toh selama ini saya selalu datang tanpa harus di panggil, apalagi klo saya di panggil sdh pasti saya datang.

Kedatangan rombongan puskespun tanpa di dampingi aparat desa setempat bahkan mungkin tanpa sepengetahuan aparat desa setempat. Ini menjadi tanda tanya besar buat sya kenapa ini barang modelnya seperti ini, kata salah satu petugas puskes klo bisa ini pengambilan rapid tes ndak usah dicerita sama orang. Saya jadi bingung barang ini di sembunyikan untuk apa? Trus klo memang mau disembunyikan knp tdak dilakukan di puskes saja biar tdk ada orang tau.

Masyarakat skarang klo liat mobil puskes ada di depan rumah tetangganya ditambah lagi ada petugas yg pakai alat APD lengkap itu mereka pasti bertanya tanya dan timbul pikiran2 yg menakutkan di kepala mereka.

Menurut saya, jika ada penindakan seprti ini harusny aparat desa harus mengetahui, agar mereka bisa menyampaikan kpd masyarakat kegiatan apa yg terjadi dirumah saya dan tidak menimbulkan pikiran yg macam2 dikepala masyarakat. Dan jujur pengambilan rapid tes ini mebingungkan saya, knp bisa rapid tes ini dilakukan setelah kami para jama ah tablig sdh berada di toli2 kurang lebih 40 hari? Knp bkn di awal2 kami sdh datang dari Goa hal ini dilakukan.

Dan apa kabarnya dengan warga toli2 yg terhitung dari tanggal 22 sampai sekarang yg datangnya dari kota Zona merah apakah mereka sdh di rapid tes seperti kami ? Jawabannya, saya yakin belum tapi sdhlah saya tdak mau membahas itu.

Setelah tau hasil rapid tes saya positif saya tdk heran karena saya dalam keadaan batuk, kemudian istri saya menyusul di rapid tes dan alhamdulillah hasilnya negatif. Awalnya saya diputuskan untuk dikarantina dirumah karena ada beberapa alasan seprti istri saya hanya sendiri dan keadaan seprti ini susah mau mencari orang yg mau menemaninya, kedua saya seorang peternak dengan memiliki 8 ekor ternak, tentunya susah bagi istri saya untuk mengurusi ternak2 saya dan saya susah mencari pengurus ternak saya klo saya di karantina di SKB.

Jujur saya pun sebenarnya tidak mau di karantina di rumah karena pasti membahayakan orang yg ada dirumah dan yg ada  di sekitar say. Disinilah sebenarnya peran pemerintah di butuhkan jangan hanya ingin aturan anda saya ikuti tapi ketika aturan saya ikuti anda tidak memperhatikan kebutuhan dan masalah yg akan timbul jika saya mengikuti aturan kalian.

Akhirnya saya beranikan diri untuk keluar rumah guna mencari orang yg mau membantu mengurusi kambing saya, dan alhamdulillah saya mendapatkannya dengan cara menjelaskan apa yg sebenarnya yg terjadi pada diri saya. Dan saya katakan ini hanya rapid tes dimn hasilnya belum tentu positif corona sehingga dia mau membantu saya. Dan saya beranikan diri untuk menyampaikan kpd tetangga terdekat saya tentang apa yg terjadi kpada saya, sekaligus saya pamit untuk  pergi d karantina dan saya meminta tolong kpd mereka untuk melihat dan memantau keadaan rumah saya dan istri saya.

Dan saya juga mendatangi salah satu aparat desa dan pamit sekaligus minta tolong agar selalu menenangkan situasi jika ada satu hal yg tidak di inginkan terjadi. Alhamdulillah saya mendapatkan perlakuan yg sangat mengharukan dari tiap orang yg sya dtangi. Mereka mensuport dan mendoakan saya walaupun itu di lakukan dari jarak jauh. Saya tidak membayangkan klau saya harus mengikuti saran dari salah satu petugas puskes untuk merahasiakan hal ini, saya yakin hasilnya tdak seperti ini.

Jujur lebih baik dari pada harus menutpi hal2 yg bisa menimbulkan kepanikan. Dan saya bangga bisa melakukan itu. Selanjutnya saya dan ke empat teman saya melakukan Swab di RS mokopido dan menunggu hasilnya dikarantina yg sdh di sediakan. sampai tanggal tujuh ini akhirnya kami mendapatkan hasil swab yg sdh kami tunggu dan hasilnya seprti teman2 ketahui kami berempat positif covik 19 tentu berat bagi kami dan tentunya lebih berat lagi yg di rasakan masyarakat toli2.

Saya pribadi mewakili teman saya mengucap permohonan maaf kpd teman2 seklian khususnya warga toli2 atas kejadian ini, saya pun tidak ingin terjadi seprti ini saya pribadi sdh berusaha semaksimal mungkin untuk hal ini. Namun tolong untuk pemerintah, dalam penanganan virus corona sya sarankan harus lebih hati2 lagi dan harus memperhatikan beberapa aspek jangan sampai niat pemerintah ingin mengurangi atau menghilangkan covik 19 malah terjadi sebaliknya dan bahkn jangan sampai menimbulkan masalah baru lainnya.

Misalkan adanya  terjadi pengucilan terhadap keluarga pasien yg sedang di nyatakan positif cov 19, seperti yg terjadi kpd salah satu teman saya dia dinyatakan positif rapid tes namun karena tdk adanya aparat setempat yg memantau dirinya akibatnya ke empat anaknya dan istrinya di kucilkan masyarakat. Dan yg paling penting bapa2 sekalian, penanganan di tempat karantina itu harus lebih profesional dan harus memenuhi standar.

Bagaimana mungkin toilet 2 kamar sedangkan pasien yg menghuni karantina semntara 8 orang. Harusnya pasien memiliki masing2 1 fasilitas baik itu kamar tidur ataupun kamar mandi serta fasilitas lainnya. Klo di campur kayak begini kasian teman kami yg baru tiba bisa jadi mereka negatif akhirnya mereka menjadi positif, karena sdh menggunakan fasilitas yg sdh kami gunakan duluan. Dan yg lebih parahnya lagi maslah informasi yg sangat merugikan kami yg dikarantina dan masyarakat toli2 umumnya.

Kok bisa informasi tentang positifnya kami berempat tidak di tanggapi secepat mungkin, apakah bapa2 tidak berpikir kami ini di tempatkan di dalam Satu ruangan. Dan melakukan kegiatan olah raga pun kami bersama sama tanpa memperhatikan jarak. Kasian teman kami, harusnya kami sdh dipisahkan dari mereka tapi kami di biarkan masih bersama sama dengan mereka.

Informasi tentang positifnya kmi berempat sdh  ada dari soreh hari tapi saya dan teman2 mengetahuinya nanti jam stengah sepuluh mlam disaat kami kumpul2. Itupun nanti saya membuka akun facebook saya, saya melihat ada postingan tentang hasil swab kami ditpilkan beserta nama, umur dan alamat kami yg tentunya aturannya tdak seperti itu.

Kami kaget knp hasilnya sdh ada tapi kmi tdak cepat di tindaki. Bapa2 sekalian kami pun awalnya di beritahu klo dilarantina itu akan ada pemeriksaan dari dokter, tapi yg kami alami tidak ada pemeriksaan dan tdak ada dokter, kami hanya di beri obat batuk dan vitamin selma 3 hari kmi berada disini dan tdak ada efekya buat diri saya, malah batuk saya hanya tambah parah.

Pak kami ada dikarantina ini karena kami orang yg mau di atur, tolong tangani kami dengan sebagaimana mestinya. Tidak perlu hotel untuk kami pa, kami hanya mau tempat yg layak untuk kesembuhan kami. Klau kami saja  yg sdh 40 hari disini masih ada yg positif, bagaimana dengar warga toli2 yg lolos dari perbatasan terhitung mulai tanggal 22 maret lalu. Dan untuk teman2 marilah kita sling mendukung dan sling mmbantu dalam menyelesaikan masalah ini. Ndak usah saling menyalahkan karena itu tdak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah baru.

Tidak semua dari kami tdak mau di atur, buktinya sdh sebagian besar kami mau di rapid tes. Yg lainnya memang belum karena blum mendapat kesempatan. Adapun teman kami yg kalian anggap berbohong, tolong maafkan dia karena ada satu hal yg membuat dia seperti itu. Dan memang klo penanganan pemerintah seperti ini tdak heran klo banyak orang yg menghindar atau cenderung bebohong karenanya.

Sekali lagi sy mohon maaf, saya menulis ini bukan karena saya ingin menjatuhkan beberapa pihak tapi saya ingin semua warga kab. toli2 terbebas dari pandemi virus ini dan  penanganan pasien di karantina bisa lebih baik lagi. Saya sadar resiko yg saya hadapi jika menebar tulisan ini. Saya hanya tawakkal kpd Allah Subhana WaTa Ala..***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *