Cerita Pengungsi di Huntara Pombewe Selama Puasa

oleh -

Sahur Apa Adanya, Berharap Segera Dapatkan Huntap

Tak pernah terpikir sebelumnya jika bulan puasa tahun 2019 ini, Nurhidayah (27) warga Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi bersama ratusan warga lainnya akan berpuasa dan berlebaran di pengungsian hunian sementara (Hantara) Desa Pombewe, Kabupaten Sigi.

Laporan : Mahful Haruna

Siang tadi, Rabu (29/5/2019) matahari terasa begitu sangat menyengat saat penulis mendatangi lokasi Hunian Sementara (Huntara) tempat dimana ratusan pengungsi korban likuifaksi Desa Jono Oge bermukim. Panasnya sengatan matahari, tak menyurutkan semangat penulis untuk bertemu para pengungsi untuk mengetahui seperti apa suka duka mereka menjalani ibadah puasa di pengungsian.



Nurhidayah (27) warga Desa Jono Oge, adalah salah satu dari ratusan pengungsi korban likuifaksi yang berhasil penulis temui di huniannya. Saat penulis tiba, Nurhidayah sedang mengupas bawang merah untuk keperluan di dapur. Gimana kabar bu..? Tanya saya membuka pembicaraan. Alhamdulilah baik pak..!! Jawabnya menyambut dengan hanyat.

Nurhidayah mengaku, tak pernah berfikir sebelumnya bahwa tahun ini, dia bersama keluarganya menjalani puasa dan lebaran di hunian sementara tempat mereka mengungsi saat ini. Bahkan selama bulan puasa ini, ia nyaris tak melakukan kegiatan apapun kecuali mengurus anak serta memasak untuk makan sahur dan buka puasa.

“Saya cuma di rumah saja pak memasak. Pokoknya apa yang ada, ya itu yang saya masak. Biasa sayur terong, kelor, biasa juga cuma supermie. Ya kita sukuri saja apa yang ada,” kisahnya kepada penulis.

Nurhidayah mengaku, suaminya hanyalah buruh bangunan lepas sebelum bencana 28 September 2018 terjadi. Profesi buruh lepas itulah yang menjadi sumber penghasilan keluarga Nurhidayah. Namun setelah tinggal di pengungsian, Nurhidayah mengaku suaminya kini mengambil kayu bakar lalu diolah menjadi arang.

“Selama bulan puasa ini, suami saya baru bisa mengumpulkan empat karung arang. Untuk satu karung, dihargai Rp80.000 oleh pembeli. Ya tinggal bapak hitung saja berapa harga empat karung itu,” katanya.

Walau pendapatan suaminya sangat minim, namun Nurhidayah masih bersukur karena bantuan sembako dari para relawan masih lancar datang, sehingga penghasilan suaminya bisa digunakan untuk keperluan lainnya. Apalagi, dia memiliki dua orang anak yang masih kecil – kecil.



Meski huntara yang mereka tinggali bukanlah bantuan dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) seperti banyak pengungsi pada umumnya, namun Nurhidayah sudah merasa bersukur mendapatkan huntara yang berbentuk rumah kebun dengan atap rumbiah itu.

Nurhidayah bersama ratusan pengungsi lainnya dari Desa Jono Oge yang saat ini menghuni Huntara di Desa Pombeve, Kecamatan Sigi Biromaru itu sangat berharap agar kiranya segera mendapatkan Hunian Tetap (Huntap), mengingat Huntara mereka tidak akan bisa bertahan terlalu lama.

“Kita minta kapada pemerintah agar segera membangunkan kita Huntap, agar bisa segera pindah ke huntap, karena di Huntara ini panas dan sangat tidak nyaman jika berlama – lama,” harapnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *