Cargill dan Mercy Corps Serahkan Fasilitas Sanitasi Permanen Kepada Pemkot Palu

oleh -

Direktur Corporate Affairs untuk Cargill di Indonesia, Arief Susanto saat penyerahan program fasilitas sanitasi dan kebersihan di lingkungan sekolah kepada Pemkot Palu yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Ansyar Sutiadi. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.com – Cargill dan Mercy Corps Indonesia menyerahkan secara resmi fasilitas sanitasi permanen kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) sebagai bagian dari upaya pemulihan pascagempa.

Direktur Corporate Affairs untuk Cargill di Indonesia, Arief Susanto mengatakan, program ini terdiri dari program kesadaran higiene dan pembangunan 40 fasilitas sanitasi permanen baru pada 10 sekolah di Pantoloan Palu, yang merupakan salah satu daerah paling terkena dampak bencana.

Foto bersama dengan kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Kepala Sekolah dan para guru. FOTO : IST

“Secara total, ada 1.895 siswa mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah, bersama dengan 133 guru dan staf telah merasakan manfaat dari program ini,” ujar Arief Susanto dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi sultengnews.com, Jumat (1/11/2019).

Dikatakan, gempa bumi dan tsunami berkekuatan magnitudo 7,4 yang melanda Sulteng pada tanggal 28 September 2018 lalu, menyebabkan anak-anak sekolah di Palu berada disituasi yang sangat memilukan. Kendati sejumlah siswa sudah mulai belajar di sekolah atau di sekolah sementara, namun tidak terdapat fasilitas sanitasi di sekolah-sekolah tersebut.

Hal itu sesuai dengan identifikasi dari Tim Respons Sulteng yang menyebutkan bahwa kebutuhan mendesak terhadap fasilitas sanitasi air bersih dan kebersihan (Water Sanitation and Hygiene – WASH) di sekolah-sekolah, akibat kerusakan infrastruktur yang disebabkan gempa.

Cargill bersama dengan Mercy Corps Indonesia merespons dengan membentuk program kemitraan untuk membangun fasilitas sanitasi di sekolah. Program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, sehat dan bersih serta mencegah penyebaran penyakit- penyakit akibat kontaminasi air kotor ataupun melalui serangga (water-borne dieses dan vector-borne dieses) di sekitar sekolah yang terkena dampak di Palu.

Sebagai pelengkap fasilitas sanitasi, program ini juga memberikan pelatihan kebersihan kepada siswa dan mempromosikan mereka sebagai Duta Sanitasi sekolah. Hal ini untuk memastikan keberlanjutan program, mempertahankan fasilitas, mempertahankan kebiasaan sehat siswa sambil menyebarkan praktik yang baik ke komunitas mereka.

“Kami sangat senang bermitra dengan Mercy Corps Indonesia yang telah membantu siswa dan guru mengembalikan kegiatan sekolah menjadi normal setelah bencana, seraya melindungi kesehatan siswa,” ungkapnya.

Dia menambahkan, melalui kerja sama dengan warga setempat, pemerintah, guru, siswa dan masyarakat, dia sangat berharap program ini akan terus membawa manfaat bagi semua untuk tahun-tahun mendatang.

“Bersama-sama, kami dapat membantu siswa Palu berkembang melalui fasilitas sanitasi yang layak dan praktik kebersihan yang baik. Cargill berkomitmen membantu masyarakat tempat kami bekerja, juga memungkinkan memenuhi tujuan kami, yakni memberi pangan kepada dunia,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SD Karya Thayyibah Sudjono yang merupakan salah satu sekolah yang paling terpengaruh di Palu mengaku sangat senang dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Cargill dan Mercy Corps Indonesia yang telah membantu kami,” katanya.

Sudjono juga menggambarkan situasi setelah musibah. Dalam lima bulan terakhir, para siswa sering harus pulang di sela-sela pelajaran (untuk buang air kecil/ besar), karena tidak memiliki toilet di sekolah.

Situasi ini tidak hanya menjadi perhatian pada masalah kesehatan dan keselamatan, tetapi juga memengaruhi proses pembelajaran siswa lain, karena selain mengajar, guru harus memeriksa keberadaan siswa, sehingga hal itu sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Adanya fasilitas baru, memungkinkan siswa untuk belajar secara efektif, sementara pada saat yang sama menjaga kondisi kesehatan di sekitar sekolah.

“Sekarang kami memiliki toilet yang tepat dan nyaman. Ditambah lagi, guru dapat fokus pada pengajaran tanpa merasa khawatir dengan keberadaan siswa,” tutup Sudjono. FUL*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *