Bertaruh Hidup Ditengah Ombak Besar Demi Empat Anaknya

oleh -
Sulima, Nelayan Perempuan di Teluk Palu

“Hidup ini keras. Yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan tergilas dan hidup sengsara” inilah ungkapan yang benar – benar dialami salah seorang nelayan perempuan di Teluk Palu, tepatnya di Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara.

Oleh : Miftahul Afdal

Sulima, itulah nama nelayan perempuan di Kelurahan Memboro yang hingga kini, masih setia dengan pekerjaannya sebagai nelayan meski usianya saat ini sudah 67 tahun.

Profesi sebagai nelayan, sudah dilakoninya sejak dirinya belum menikah. Sulima, biasanya melaut seorang diri. Meski ombak besar menerjang perahu, Sulima tidak pernah mundur dan kembali ke tepi pantai. Dengan penuh keberanian, Sulima bertahan ditengah terpaan ombak disertai angin untuk memasang jala agar mendapatkan ikan.

“Biar ombak kencang, saya pasang jala,” ujarnya tegar.

Sulima mengaku, dia relah menerjang besarnya ombak agar tetap mendapatkan ikan, karena hanya dengan mendapatkan ikan dia bisa menjualnya untuk menghidupi empat orang anaknya. Bahkan kata Sulima, hasil tangkapan ikan yang dia dijual, dapat menyelesaikan sekolah salah satu anaknya yang berhasil lulus di tingkat SMA.

“Kalau melaut itu, saya mendayung dari Mamboro sampai ke Tondo dan saya juga sudah sampai ke bagian Donggala sana. Semua itu saya lakukan, untuk anak – anak saya,” ujarnya lirih.

Selain sebagai nelayan, Sulima mengaku pernah membuka kios di depan rumahnya. Namun pengeluaran tidak sesuai dengan pendapatan, sehingga dia memutuskan lebih baik tetap menjadi nelayan, karena penghasilannya cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya.

“Kalau melaut pake perahu, siang malam ada ikan. Bisa buat makan hari – hari, ada juga yang bisa dijual,” ujarnya

Dia mengaku, setiap kali selesai melaut, dia meminta bantuan kepada kemenakannya untuk menjualkan ikannya, karena dia harus memperbaiki lagi jaring pukat yang digunakannya. Sebab setiap kali selesai mengangkat ikan, pukat itu robek sehingga harus diperbaiki lagi, dan begitu seterusnya.

Namun dalam beberapa hari terakhir, Sulima belum melaut karena perahu yang biasa dia gunakan banyak bocor, sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan.

“Ini perahu hanya saya tempel sendiri,” ujarnya.

Sulima sangat berharap, Pemerintah Kota Palu atau NGO bisa memberikan bantuan perahu kepadanya, agar dia bisa kembali lagi melaut.

“Pernah ada salah satu anggota DPRD Kota Palu, menjanjikan bantuan perahu. Namun sampai saat ini, papan perahu saja belum diberikan oleh anggota dewan itu. Saya sudah nekat, kalau anggota DPRD Kota Palu itu datang kemari, saya akan marahi dia,” geramnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *