Bersilaturahmi di Tempat Berbeda, Rusdy-Ma’mun Soroti Huntara Korban Pasca Bencana Palu-Donggala

oleh -

PALU, SULTENGNEWS.COM – Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat duka pada 28 September 2018, pukul 18.02 wita. Hari itu merupakan hari duka mendalam bagi masyarakat Sulteng, karena terjadi bencana gempa bumi dan tsunami.

Pusat gempa berada di 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km. Guncangan gempa bumi dirasakan di Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Mamuju bahkan hingga Kota Samarinda, Kota Balikpapan dan Kota Makassar. Gempa memicu tsunami hingga ketinggian 5 meter di Kota Palu.

“Kalau memang masih banyak saudara-saudara kita yang selamat jadi punya hidup tidak jelas, kemudian masih tinggal di Hunian Sementara (Huntara). Dua tahun bagaimana siksanya hidup kehilangan pekerjaan dan segala-galanya mereka punya trauma melihat anak istrinya masuk tanah,” kata Rusdy Mastura di Desa Tandaigi, Siniu, Parigi Moutong.

Sebelumnya Calon Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Rusdy Mastura menemui masyarakat Pantai Selfie di Desa Tandaigi. Dalam kunjungannya pria yang akrab disapa Cudy mengajak warga untuk mendoakan para korban gempa. Tidak terbendung air mata Rusdy Mastura saat jatuh membasahi pipinya.

Kondisi tersebut terjadi saat Rusdy bercerita mengenang tragedi bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa Kota Palu dan daerah sekitarnya di Sulteng.

Ditempat berbeda saat bersilaturahmi ke Desa Lenyek dan Solodik di Luwuk Utara, Ma’mun Amir, Calon Wakil Gubernur (Cawagub) pasangan Rusdy Mastura, juga berharap para penghuni Huntara bisa dapat tempat tinggal yang layak dan lebih baik.

“Saya dan Pak Rusdy Mastura punya program Melakukan Bedah Rumah Tidak Layak Huni Sebanyak 2.000 Unit Rumah / Tahun, ini bisa kita fokuskan kepada para korban bencana yang masih tinggal di hunian sementara, untuk itu saya dan pak Rusdy berkomitmen menyelesaikan persoalan ini,” tegas Ma’mun Amir dalam sosialisasinya di Luwuk Utara.

Perlu diketahui Sulteng merupakan Wilayah Rawan Bencana (Ring of Fire): yang dilalui dua patahan sesar yaitu Palu-Koro dan Sesar Matano. Sehingga perlu adanya prioritas pembangunan dalam rangka penguatan ketahanan bencana dan pemulihan pascabencana di Sulteng.

“Kita punya tanggung jawab secara Undang-Undang dan aturan kita jelas harus diselesaikan. Tidak kita berleha-leha dengan kita membangun apa-apa yang tidak dibutuhkan yang sebenarnya masih bisa kita tunda. Jangan terus menunggu ada bantuan dari pemerintah pusat. Seharusnya pemerintah daerah juga punya tanggung jawab untuk persoalan itu,” Kata Rusdy Mastura.

Dua tahun sudah bencana berlalu, namun sayang tidak ada perkembangan pembangunan yang signifikan dalam proses pemulihan. Karena sebenarnya untuk menyelesaikan permasalahan yang berlarut-larut itu perlu pemimpin yang berani eksekusi dan kerja cepat.

“Penyelesaian permasalahan korban bencana itu harus segera ditangani, jangan terus mereka tinggal ditempat hunian sementara, kita harus bantu juga meningkatkan perekonomian keluarganya,” jelas Ma’mun Amir. RED

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *