Begini Penjelasan Kapolda Sulteng Terkait Kasus Qidam

oleh -
Kapolda Sulteng (tengah), Ketua Komisi I DPRD Sulteng (kanan), Anggota DPRD Sulteng (kiri). FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Pol. Drs. Syafril Nursal, SH, memberikan penjelasan terkait kasus terbunuhnya Qidam di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

“Untuk kasus Qidam sudah 15 orang di periksa, semua tim yang terlibat disitu termasuk juga polsek. Semua diurut mulai dari kronologisnya, itu tentu semua di periksa oleh tim investigasi untuk mendapatkan kejelasan persesuaian antara keterangan satu dan yang lain,” kata Kapolda Irjen Pol. Drs. Syafril Nursal, SH saat konferensi pers dengan sejumlah wartawan selesai RDP bersama Komisi I DPRD Sulteng di ruang utama DPRD Sulteng, Kamis (02/07/2020).

Dia menerangkan, terhadap insiden yang terjadi pada Qidam dan ada dua lagi korban, Polda Sulteng sudah membuat tim investigasi yang di ketuai Irwasda Propam.

Dia juga mengatakan, pihaknya sudah melakukan investigasi untuk mencari tau kejadian ini sebenarnya, kemudian tim investigasi sudah melakukan pemeriksaan terhadap semua tim yang bertugas waktu kejadian berlangsung termasuk saksi-saksi.

Menurut kapolda, penyidik lebih memahami terkait dengan pemeriksaan kasus yang terjadi terhadap Qidam, karena penyidik tidak hanya mendengar satu orang saja, sebab harus ada persesuaian antara yang satu dengan yang lainnya.

Perkara kasus Qidam kata orang nomor satu di Polda Sulteng itu, telah ditarik Mabes Polri untuk melakukan menangani secara langsung.

Dia mengungkapkan, kasus Qidam akan ditangani angkum yang berada di Mabes Polri yang merupakan pasukan BKO.

“Jadi, angkum itu adalah atasan mereka (pasukan BKO) di Mabes Polri yang berhak memberikan hukuman,” terangnya.

Berkaitan dengan luka sayatan kepada Qidam, kapolda mengatakan, itu tidak benar, karena sudah ada visum, karena itu sudah berdasarkan visum dan hasil visum sudah di serahkan kepada Mabes Polri.

“Saya ingin mengatakan kejadian itu adalah keadaan yang tidak normal, maka membutuhkan kajian, banyak faktor-faktor dengan kondisi yang tidak normal,”ujarnya.

Dia menyebutkan, bagaimana pun kasus Qidam harus diluruskan dan perlu mendapat kebenaran, kalau ada yang salah harus diberikan hukuman .

“Yang lebih paham mengenai luka sayatan itu ahli forensik tapi hasil dari visum itu tidak benar, mungkin saja saat dilakukan pemeriksaan untuk mengeluarkan peluru, kemudian di sayat,”sebutnya.

“Yang jelas tidak dilakukan penganiayaan kepada dia (Qidam), karena memang kondisi kejadian seperti itu,” tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *