BAZNAS SULTENG MENGAJAK MEREKA TERSENYUM

oleh -

Oleh: Prof. DR. Dahlia Syuaib, SH.,MA

Ketua BAZNAS Provinsi Sulawesi Tengah

Jika kita berjalan mengenali dan memahami kehidupan saudara-saudara kita, nampak diantara mereka berkehidupan yang kurang layak tidak persis sama dengan kehidupan kita dan sebagian saudara-saudara kita. Hampir setiap hari kita menjumpai ibu-ibu lansia keliling kantor menjajakan dagangan kecil berupa cemilan mulai dari kacang goreng hingga kerupuk. Jika kita memperhatikan kondisi tubuhnya nampak bahwa ibu-ibu Lansia dengan postur tubuh yang ramping bukanlah pemilik sebanarnya. Hal ini dibenarkan ketika tim BAZNAS Sulteng  mencoba menelusuri kehidupannya dan ternyata dagangn milik tetangga dan kenalan yang hanya memberikan bonus sesuai penghasilan. Ibu-ibu Lansia menerima lima puluh ribu rupiah saja sudah senang, namun bila dibanding dengan usahanya berjalan kaki ditengah terik matahari dan kebutuhannya masih jauh dari cukup. Akankah kita tega membiarkannya tanpa mau mengulurkan tangan membantu ????

Beragam cerita lain seputar kehidupan orang miskin yang diperoleh melalui wawancara dan pengamatan langsung, kesemuanya menggambarkan bagaimana kehidupan saudara-saudarakita yang tergolong dhu’afa, harus membagi nasi dari satu porsi menjadi dua atau tiga bagian agar semua anggota keluarga bisa mendapat bagian makan walau seadanya, pendidikan anak harus menjadi korban karena tidak mampu membeli kebutuhan sekolah termasuk pakaian seragam sekolah, anak-anak mereka harus mencari kayu bakar, ada yang ikut orang tuanya mengais-ngais sampah mencari koran bekas dan lainnya untuk kemudian di jual di loakan, menjajakan ikan hasil tangkapan nelayan di kala pagi sampai siang

hari yang hasilnya cukup untuk menambah penghasilan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pokok.

Berbeda dengan kehidupan kita yang dipenuhi dengan cita-cita untuk menjadi lebih sukses dan berusaha meraihnya dengas fasilitas yang tersedia, makanan cukup bahkan mungkin berlebihan, akses sangat mudah untuk memperbesar jenis usaha demi meraih keuantungan yang lebih besar, pendek kata pendapatan hari ini harus lebih besar dari hari kemarin, mungkin itulah yang terlintas dalam benak kita.

Dari waktu ke waktu gap atau kesenjangan kehidupan antara orang kaya dan orang miskin semakin tajam, diperparah ketika masa Pandemi Covid-19 mewabah di negeri ini. Kenyataan pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi dimana-mana hingga saat ini kondisi mereka diantaranya ada yang belum pulih. Rupanya minyak goreng sebagai bahan baku jualan gorengan juga menjadi alasan untuk tidak bejualan lagi sekalipun dalam kesehariannya keutungan yang dioperoleh dari dagangan gorengan ketika kondisi normal dapat disisihkan setiap hari untuk pembeli beras dan bayar listrik.

Pandangan lebih menyedihkan ketika tim BAZNAS Provinsi Sulawesi Tengah mencoba menjajaki dan mendata mereka yang tergolong Lanjut Usia. Ternyata disekitar kita terdapat lansia dhu’afa yang hidup di rumah sederhana hanya ditemukan balsem atau minyak gosok di sekitar tempat tidur mereka, makan seadanya yang seharusnya mereka masih bisa produktif namun kesengsaraan hidup menjadikan wajah dan perawakannya nampak sudah sangat tua. Apa yang ada dalam benak pikiran mereka??? Rupanya mereka juga masih punya cita-cita untuk bersoalisasi dengan sesamanya tapi semua dibatasi oleh kondisi fisik yang lemah. Mereka adalah mahluk Allah yang mungkin pernah berjasa di negeri yang kita huni bersama ini. Ada yang sakit, tidak sedikit yang strock, kurus tak terurus atau terurus seadanya, bahkan beberapa orang datang dengan menggunakan dua tongkat penyanggah dan minta pada jasa ojek diantar ke kantor BAZNAS provinsi, ada pula yang dipapah oleh cucunya dengan tangan gemetar minta dibelikan beras dan uang lauk. Lebih memprihatinkan lagi orang tua Lansia  ditempatkan ditempat yang kurang layak karena tak ada yang mampu mengurus untuk buang air kecil dan besar. Di bidang kesehatan lainnya, rupanya  tumbuh kembang anak secara menyeluruh masih sulit tercapai. Data menunjukkan bahwa kota Palu masih terdapat 18 % stanting anak lahir dalam kondisi tubuh yang tidak normal, kurang gizi sejak dari kandungan.

Apakah mereka masih pantas hidup dengan kondisi memprihatinakan ???.

Senyum mereka merekah ketika tim BAZNAS Provinsi Sulawesi Tengah datang dengan membawa amanah atau titipan dari para Muzakki berupa kebutuhan pokok (beras, gula, minyak goreng, susu, teh). Khusus untuk Lansia selain sembako ada sarung plekat, obat2an, dan uang.

BAZNAS adalah perpanjangan tangan dari para Muzakki (ASN dan Non ASN), melalui zakat penghasilan yang telah dititipkan ke BAZNAS. Secara bertahap dan terorganisasi bantuan tersebut telah disalurkan kepada mereka yang berhak menerima. Keterlibatan para Muzakki menyalurkan zakatnya melalui BAZNAS dapat dipastikan sebagai dorongan aktualisasi iman, percaya atas keMahabesaran Allah bahwa semua berasal dari Allah dan kembali kepada Allah.

BAZNAS PROVINSI SULAWESI TENGAH MENUNGGU ZAKAT, INFAK/SEDKAH ANDA YANG DAPAT KAMI SALURKAN KEPADA MUSTAHIQ SESUAI SYARI’AH, DAN PERTANGGUNGJAWABANNYA JELAS.

VISI BAZNAS –RI  2025 : “ Menjadi Lembaga Utama Menyejahterakan Ummat”

Visi BAZNAS Provinsi Sulawesi Tengah 2020-2024 “Unggul Dalam Pengelolaan Zakat Menuju Pembangunan Kesejahteraan Umat  Lahir Bathin”.

 

TUNAIKANLAH ZAKAT ANDA MELALUI BAZNAS PROV SULTENG (Jln. Bantilan 23)

REKENING : Bank Sulteng: Zakat  0080201005835, Infak 0010106230198

Bank Syari’ah Indonesia: Zakat 7128794403, Infaq 7128794788

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.