Bangkit Dari Bencana Dengan Agribisnis

oleh -

Agribisnis menurut Bungaran Saragih (2010) merupakan suatu konsep pertanian yang mengintegrasikan sistem agribisnis dari hulu sampai jasa penunjang agribisnis.

Sub sistem terdiri dari sub sistem agribisnis hulu, sub sistem produksi/usahatani, sub sistem agribisnis hilir, dan sub sistem lembaga penunjang. Salah satu sub sistem yang menjadi kendala dalam proses pengembangan agribisnis pertanian ditingkat petani adalah lemahnya daya dukung kelembagaan, khususnya dalam aspek pembiayaan proses produksi hasil pertanian.

Hal tersebut menjadikan posisi tawar petani dalam menentukan harga produksi pertaniannya lemah, biaya produksi relatif tinggi untuk produk yang sangat besar, dan perilaku petani pada umumnya masih pada aspek budidayanya saja.

Produk petanian belum sampai pada industri olahan, seperti bawang merah varietas lembah Palu menjadi bawang goreng siap saji. Bagian hilirnya kemudian dikelola oleh kelompok usaha industri yang mempunyai modal (capital), membeli umbi bawang dari petani serta dapat mempengaruhi struktur pasar bawang merah Sigi.

Hal yang perlu dilakukan oleh semua pihak sekarang terkhusus untuk sentra-sentra produksi pertanian yang terkena bencana adalah mendorong petani lokal kita sampai pada sub sistem pengolahan (processing), industri rumahan (home industry) harus bisa tumbuh memberdayakan masyarakat lokal pasca bencana.

Penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani, keterampilan (life skill) menjadi tujuan pemulihan sosial ekonomi masyarakat setempat. Proses pemulihan seperti itu telah dilakukan kelompok usaha kripik pisang di Desa Walatana Kabupaten Sigi. Rusaknya beberapa areal pertanian membuat sekelompok orang ibu rumah tangga mengelola kripik pisang sebagai produk unggulan usaha mereka, menyambung perilaku pertanian yang sempat terputus pasca gempa ke industri rumahan yang berbentuk produk (product oriented).

Sifat produknya lebih karena faktor bahan baku pisang tersedia cukup besar, biaya pembelian bahan baku sangat terjangkau, dan proses produksi relatif mudah. Setiap harinya produksi kripik pisangnya ini menghasilkan 30 – 34 pak atau 750 sampai 850 bungkus per hari, dengan omset penjualan 600-680 ribu per hari. Pendapatan bersih diluar biaya produksi per minggu ibu rumah tangga bisa mencapai 150 sampai 200 ribu rupiah per orang, dengan beban kerja hanya mencapai satu sampai dua jam.

Dari sudut pandang pembiayaan dan pemasaran produk relatif mudah dilakukan oleh ibu rumah tangga di Desa Walatana Kabupaten Sigi.
Konsep agribisnis berbasis lokal di Desa Walatana seperti ini dapat dijadikan model pendampingan pasca bencana. Seperti yang telah dilakukan oleh Bapak Mahadin di Sigi pasca gempa, likuifaksi dan banjir bandang yang telah melanda masyarakat setempat beberapa waktu lalu.

Konsep tersebut seharusnya diterapkan dalam membangun ekonomi masyarakat dan dapat membantu peran pemerintah dalam membangkitkan perekonomian setempat.Konsep ini harus terus dipacu untuk terus berkelanjutan dari aspek ekonomi, mandiri, dan sumber daya yang dipakai dalam proses produksi sesuai potensi lokalitas daerah tersebut.

Konsep dan fungsi agribisnis dapat menyentuh kondisi sosial ekonomi warga, menaikan nilai produk dan memberikan nilai tambah bagi petani. Hal inilah yang dimaksud Saragih ( 2010), bahwa sub sistem agribisnis hilir harus tumbuh di sentra – sentra penghasil bahan baku pertanian. Wilayah yang bahan hasil pertaniannya melimpah, terjangkau, serta memperdayakan tenaga kerja lokal.

Agribisnis berbasis lokal adalah pola usaha rumah tangga, yang berbentuk produk (product oriented) siap saji. Tanpa memutus rantai produksi dari hulu yang secara turun temurun menjadi produsen usahatani, tapi lebih mengembangkan usahatani lebih kompetitif, inovatif dan bervariasi dari aspek hilirnya. Sehingga petani kita sebagai penyuplai bahan baku hasil pertanian mendapatkan keuntungan secara langsung dari proses industri, memotong rantai pasar, serta posisi tawar petani dalam menentukan harga sangat kuat.

Kelembagaan ekonomi harus mampu melindungi Petani untuk masuk sebagai pelaku pasar, ikut mengambil bagian di industrinya dan membentuk struktur pasar alternatif yang lebih efisien bagi petani. Dari sistem pemasaran yang panjang, dan model pasar monopolistik beberapa pedagang besar dan industri besar yang mempunyai kekuatan pasar (market power) mempengaruhi harga komoditi pertanian.

Seperti halnya analisis pangsa pasar bawang merah varietas lembah Palu di Sigi. Hasil penelitian ternyata ada empat industri besar yang menguasai 77.3 persen pembelian bahan baku bawang merah varietas lembah Palu. Faktor yang mempengaruhi dan membentuk harga ditingkat petani, petani hanya penerima harga saja (price taker) dari rantai pasar yang ada (Arman Yamin, 2017).

Peran agribisnis di sub sistem hilirnya ini bisa membentuk kemandirian secara keberlanjutan bagi petani, pasca gempa dan likuifaksi di daerah Sigi yang merusak beberapa areal persawahan dan komiditi pertanian lainnya. Membina dan mengembangkan industrinya untuk komoditi pertanian yang masih ada sebagai produk unggulan yang kompetitif, kompetitif dari segi harga murah dan animo masyarakat setempat untuk membuat produk itu bertambah.

Sebagaimana apa yang dilakukan oleh Bapak Mahadin di Desa Walatana yang membina kelompok ibu rumah tangga yang tadinya sebagai petani penggarap sawah dan hortikultura pasca gempa kemudian masuk sebagai pelaku usaha industri rumahan produk kripik pisang. Sebab ketersediaan bahan baku kripik pisang di daerah tersebut besar, murah, dan terjangkau dari mobilisasinya ke tempat industri kripik pisang tersebut.***

(Penulis adalah dosen tetap UT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *