Angka Perceraian di Sulteng Mencapai 2.000 Kasus

oleh -
Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Sulteng, Tasri saat ditemui di ruang kerjanya, di kantor PTA Sulteng. FOTO : MIFTAHUL AFDAL

PALU, SULTENGNEWS.COM – Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Sulawesi Tengah (Sulteng), mencatat total pencairan di Sulteng sebanyak 2.000 kasus dari Januari hingga Juli 2020.

Dalam catatan itu, terdapat perkara cerai talak sebanyak 456 kasus dan cerai gugat sebesar 1.544 kasus. Jumlah tersebut berdasarkan laporan dari PTA berasal dari kabupaten/kota di Sulteng.

Adapun jumlah cerai talak dari berbagai kabupaten/kota sebagai berikut Kota Palu 103 kasus, Kabupaten Luwuk 85 kasus, Poso 9 kasus, Tolitoli 47 kasus, Donggala 31 kasus, Buol 20 kasus, Bungku 42 kasus, Banggai 23 kasus, Parigi Moutong 64 kasus, dan Ampana 32 kasus.

Selanjutnya, cerai gugat yaitu di Kota Palu 355 kasus, Kabupaten Luwuk 220 kasus, Poso 49 kasus, Toli-toli169 kasus, Donggala 143 kasus, Buol 61 kasus, Bungku 131 kasus, Banggai 85 kasus, Parigi Moutong 232 kasus, Ampana 99 kasus.

“Cerai itu ada dua jenis yang pertama cerai gugat dimana istri yang melakukan gugatan dan ada juga cerai talak yaitu suami yang mengajukan permohonan cerai talak,”ungkap Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Sulteng, Tarsi saat ditemui di ruang kerjanya, kantor PTA Sulteng belum lama ini.

Dia menerangkan, sebenarnya perceraian, tiap tahun terus meningkat di samping jumlah penduduk yang bertambah, banyak yang melangsungkan pernikahan dan juga banyak yang melakukan perceraian dengan faktor penyebabnya berbeda-beda.

“Ada yang kekurangan ekonomi yang mengakibatkan pasangan itu bercerai, ada juga dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang juga dapat menyebabkan perceraian,” terangnya.

“Bahkan ada juga karena campur tangan dari pihak ketiga, baik yang datang dari orang tua, mertua, saudara atau terjadinya perselingkuhan. Nah, perselingkuhan itu juga masuk dalam campur tangan pihak ketiga,” tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *