Akhirnya Jenderal Gatot Tak Tergoda Jadi Calon Gubernur

oleh -

Setelah namanya kian santer disebut – sebuat akan menjadi salah satu bakal calon kuat Gubernur Jawa Tengah pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Tengah 2018, akhirnya Jenderal Gatot menentukan sikpanya.

Oleh : Mahful Haruna (wartawan sultengnews.com) 

“Ya saya ucapkan terima kasih atas pernyataan tersebut, untuk Jawa Tengah. Tapi mohon maaf bahwa saya punya cita – cita sejak masuk tentara. Saya ingin menuntaskan tugas saya sebagai prajurit sampai purna tugas,” ujar Jenderal Gatot Nurmantyo seperti yang dilansir detik.com, Kamis (4/1/2018).

Demikian pernyataan tegas Jenderal Gatot kepada media online nasional detik.com, menanggapi godaan partai politik yang memintanya maju sebagai Calon Gubernur (Cagub) Jawa Tengah pada Pilkada 2018.

Pernyataan Jenderal Gatot yang menyebutkan bahwa dia punya cita – cita, seakan menegaskan kesiapan dirinya maju ke panggung politik nasional. Memang Janderal Gatot tidak menyebut secara eksplisit bahwa dirinya siap maju sebagai calon pemimpin nasional atau Calon Presiden. Namun pernyataan bahwa dirinya punya cita – cita, menunjukan bahwa cita – cita itu tentulah lebih tinggi dari prestasi terakhirnya sebagai Panglima TNI.

Cita – cita yang disebut Jenderal Gatot menuntaskan tugas sebagai prajurit hingga purna tugas, sesungguhnya bukanlah cita – cita. Sebab tanpa dicita – citakan pun, jika sudah waktunya purnah tugas maka akan berakhir dengan sendirinya. Cita – cita, sesungguhnya adalah sebuah jenjang karir yang lebih tinggi dan hendak dicapai dari yang kita dapatkan saat ini.

Jika jabatan Panglima TNI adalah salah satu cita – cita Jenderal Gatot saat masuk jadi prajurit TNI, maka hal itu sudah dia capai. Namun jika purna tugas dianggap juga sebagai cita – cita, maka sesungguhnya hal itu bukanlah sebuah cita – cita, tapi sebuah pengabdian tulus untuk bangsa dan negara. Bagi saya, cita – cita yang dimaksud Jenderal Gatot adalah sebuah karir tinggi yang lebih dari jabatan Panglima TNI yakni menjadi Presiden Republik Indonesia.

Bagi warga negara Indonesia, bercita – cita menjadi presiden bukanlah sesuatu yang dilarang. Jika anak – anak sekolah dasar saja berani menyebut cita – citanya menjadi presiden, apalagi seorang Jenderal sekelas Gatot Nurmantyo. Hanya saja, karena figurnya telah menjadi tokoh nasional, tentu saja Jenderal Gatot tidak akan gegabah mengumbar cita – citanya itu, karena dia sangat sadar dengan sitasi politik nasional saat ini.

Maju sebagai Calon Presiden, berbeda dengan maju sebagai kepala daerah baik gubernur, bupati dan walikota. Sebab maju sebagai Calon Presiden, berdasarkan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemiihan Umum sangat jelas disebutkan harus mendapat dukungan dari Partai Politik (Parpol) minimal 20 persen dari perolehan kursi Parpol di DPR RI. Sementara menjadi kepala daerah seperti gubernur, bupati dan walikota, boleh maju melalui jalur idependen alias tanpa dukungan partai politik.

Dengan syarat dukungan yang begitu berat itu, Jenderal Gatot tentu harus berhitung secara matang Parpol – Parpol mana saja yang bisa mengusungnya sebagai Calon Wakil Presiden atau sebagai Calon Presiden. Sebab beberapa partai yang memiliki kursi di DPR RI seperti Golkar, Hanura, Nasdem dan PPP sudah menyatakan dukungan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk maju lagi sebagai Calon Presiden pada Pemilu 2019 mendatang. PDI Perjuangan meski belum menyatakan dukungannya, namun sudah bisa dipastikan akan mendukung Jokowi.

Dengan demikian, peluang Gatot tinggal mendekati beberapa partai lainnya yang belum menyatakan dukungan untuk Calon Presiden seperti Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Demokrat dan Partai Gerindra. Namun untuk bisa mendapatkan dukungan dari lima partai ini, tidaklah mudah bagi Jenderal Gatot. Sebab masing – masing partai telah memiliki figurnya masing – masing seperti PAN ada Zulkifli Hasan, Gerindra ada Prabowo Subianto, PKB ada Muhaiman Iskandar dan Demokrat ada Agus Harimurti Yudhoyono. Sementara PKS, meski belum ada figur yang muncul sebagai Calon Presiden, namun kedekatan PKS dengan Gerindra bisa jadi membuat partai ini akan memilih Calon Presiden yang didukung Gerindra.

Dengan peta politik nasional seperti yang tergambar di atas, tentu menjadi pekerjaan berat bagi Jenderal Gatot untuk bisa merebut simpati para pengurus dan pimpinan Parpol agar mau mengusungnya sebagai Calon Presiden. Apalagi Golkar dan Nasdem yang sebelumnya disebut – sebut bakal menduetkan Janderal Gatot dengan Presiden Jokowi, kini seperti mengurungkan niatnya. Dibawah kepemimpinan Ketua Umum (Ketum) baru Erlangga Hartarto, Golkar seperti partai yang baru lahir dengan mencoba melupakan masa – masa kelamnya dengan ketum sebelumnya Setya Novanto.

Bahkan beberapa keputusan yang diambil ketum sebelumnya dianulir, salah satunya adalah dukungan Golkar yang telah diberikan kepada Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, kini dicabut dan dialihkan kepada Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedy Mulyadi. Situasi terakhir politik Golkar ini, tentu makin memupuskan prediksi bahwa Golkar bakal menduetkan Jenderal Gatot dengan Presiden Jokowi.

Saat ini, semua parpol tengah merapatkan barisan dan menggalang kekuatan untuk mengikuti pesta demokrasi Pilkada serentak 2018 dengan mengusung masing – masing calon kepala daerah yang diprediksi bakal mendokrak suara pada Pemilu 2019. Pilkada serentang 2018 ini, juga bisa menjadi star awal untuk memanaskan mesin partai sebelum pertarungan yang sesungguhnya yakni Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) serentak 2019.

Kini, peluang Jenderal Gatot untuk bisa maju sebagai Calon Wakil Presiden atau Calon Presiden, sangat tergantung kepada kemampuannya melakukan komunikasi politik kepada semua parpol yang saat ini tengah konsentrasi pada Pilkada serentak 2018. Jika Jenderal Gatot mampu melakukan manuver – manuver yang membuat parpol simpati kepadanya, maka langkah politik Janderal Gatot bisa mulus. Namun jika Jenderal Gatot frontal dan membuat parpol tidak simpati kepadanya, maka langka politik Jenderal Gatot berhenti sampai pada Panglima TNI. Jika pun memaksakan untuk tetap ke panggung politik nasional, maka pilihannya hanya satu yakni masuk dan bergabung dengan parpol yang ada saat ini. Mampukah Jenderal Gatot mewujudkan cita – cita tertinginya..? menarik untuk disimak.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *