2020, Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Sulteng Terus Meningkat

oleh -
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulteng (DP3A), Ihsan Basir, SH,LLM

PALU, SULTENGNEWS.COM – Februari sampai Juni 2020, tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulteng (DP3A), Ihsan Basir, SH,LLM saat ditemui sultengnews.com di ruang kerjanya, Senin (20/07/2020).

Dia menerangkan, data kekerasan terhadap perempuan dan anak pada Februari berjumlah 67 kasus, kemudian di bulan April ada 123 kasus meningkat dua kali lipat dan selanjutnya pada bulan Juni naik sebanyak 174 kasus.

“Data kekerasan terhadap perempuan dan anak pada Februari 2020 sebanyak 67 kasus, sekitar 17 diantaranya anak yang mengalami tindakan kekerasan,” terangnya.

Pada April naik sebanyak 123 kasus atau naiknya dua kali lipat, kemudian pada Juni ada 174 kasus.

“Jadi, kekerasan terhadap perempuan dan anak, justru meningkatkan di masa pandemi covid-19,” tambahnya..

Menurutnya, dari diskusi yang dilakukan dengan pemerhati anak, pemerhati perempuan, aktivis dan NGO, kekerasan terhadap perempuan dan anak karena mereka menetap di rumah. Yang tadinya jarang bersama di rumah, tapi kali ini hampir setiap saat berada di rumah, tentu saja intensitas pertemuan itu memicu konflik.

Dia menjelaskan, orang tua yang tidak terbiasa memberikan pengajaran tekhnis kepada anak-anak, ini biasanya membuat orang tua stres dan melakukan tindakan kekerasan kepada anak.

“Jadi kita juga terus berupaya untuk menekan angka kekerasan kepada perempuan dan anak melalui komunikasi informasi dan edukasi,” jelasnya.

Dia juga mengungkapkan, pelaku kekerasan 80 persen itu dilakukan laki-laki, sehingga pihaknya membuat suatu strategi yang berbeda dari sebelumnya yakni dengan melibatkan laki-laki dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Kalau dulu tresingnya kepada korban. Kalau sekarang kepada pelaku dengan memberdayakan dalam konteks yang positif dengan memberikan sosialisasi bahwa laki-laki punya kewajiban untuk melindungi perempuan dan anak. Jadi fokusnya, lebih kepada laki-laki dalam pencegahan terhadap perempuan dan anak,” tandasnya. DAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *