Sebuah Skenario Untuk Mengecilkan Jenderal Gatot

10 min read
1
743

Nama Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo seketika tenar dan jadi perbincangan khalayak luas ketika kiprahnya selama menjadi Panglima TNI menuai simpati masyarakat luas.

Oleh : Mahful Haruna (Wartawan sultengnews.com)

Berbagai manuver yang dilakukan Jenderal Gatot Nurmantyo, berhasil menyita perhatian publik sehingga membuat namanya makin tenar dan BESAR. Sebut saja beberapa diantara manuver yang dia lakukan yakni puisi yang menggetarkan di Rapimnas Golkar yang seketika itu menjadi viral di media sosial, perintah nonton bareng Film Gerakan 30 September (G 30 S PKI) yang merupakan sejarah kelam bangsa ini, penyataan didepan para purnawirawan soal 5.000 pucuk senjata yang masuk secara ilegal ke Indonesia sehingga memaksa Mankopolhukam Wiranto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian harus menggelar konfrensi pers menjelaskan 5.000 pucuk senjata itu.

Manuver Jenderal Gatot yang lebih menyita perhatian dan simpati publik adalah keberpihakannya kepada umat islam dan kedekatannya dengan ulama. Hal ini sangat terlihat jelas dari pidato – pidatonya dalam setiap kesempatan yang tak sungkan – sungkan menyebut bahwa ulama dan umat Islam sangat berperan penting atas kemerdekaan Indonesia. Bahkan Janderal Gatot tak pernah sungkan menyebutkan betapa besar peran Jenderal Sudirman dan Bung Tomo yang menjadi penyulut api perlawanan atas penjajahan sehingga manjadi semangat untuk mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan.

Keberpihakannya kepada umat Islam, juga terlihat dari sikapnya atas aksi umat Islam 212 yang disinyalir beberapa kalangan bermuatan politik untuk menjatuhkan penguasah yang sah saat ini. Jenderal Gatot bahkan dengan lantang menyebut, bahwa Umat Islam tidak akan mungkin mengkhianati negara Indonesia yang telah direbut dengan darah dan air mata agar bisa merdeka.

Kiprah dan perannya selama menjadi Panglima TNI, berhasil menyita perhatian publik dan menuai simpati masyarakat luas, sehingga tak heran beberapa Partai Politik (Parpol) bahkan menggadang – gadang namanya untuk maju sebagai Calon Wakil Presiden pada Pemilihan Presiden tahun 2019 mendatang. Salah satu Parpol yang secara terang – terangan telah mengusulkan nama Jenderal Gatot berduet dengan Jokowi pada Pilpres 2019 adalah Partai Nasdem. Bahkan beberapa partai lain seperti Golkar, juga disinyalir melirik Jenderal Gatot untuk diduetkan dengan Jokowi.

Yang lebih menarik lagi, beredar rumor di media sosial bahwa Prabowo bersama Gerindra akan menduetkan Jenderal Gatot dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk maju sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden pada Pilpres 2019 mendatang. Sekali lagi, ini hanyalah rumor sehingga tak bisa dipertanggungjawabkan informasinya. Namun jika ini benar, Gatot didorong menjadi Calon Presiden pada Pilpres 2019 mendatang, tentu peta politik nasional akan semakin menarik untuk diikuti.

Ada juga rumor yang berkembang bahwa Jenderal Gatot akan dipasangkan dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. Belum jelas siapa nanti yang akan menjadi Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) dari kedua tokoh ini. Namun rumor menyebutkan, Janderal Gatot yang menjadi Capresnya dan Zulkifli Hasan Cawapresnya. Namun sekali lagi, ini juga Cuma rumor dikalangan masyarakat.

Namun seiring berjalannya waktu dan Jenderal Gatot tak lagi menjabat Panglima TNI, namanya seakan sengaja diredupkan sehingga panggung politik dan kepemimpinan nasional seakan tak pantas lagi bagi dia. Nama Jenderal Gatot yang begitu populer dikalangan masyarakat saat dirinya masih menjadi panglima TNI, tiba – tiba saja meredup dan berdasarkan hasil survei beberapa lembaga survei, nama Jenderal Gatot hanya berada dikisaran 5 sampai 6 persen jika mencalonkan sebagai Presiden. Hasil survei itu kalah dari Agus Harimurti Yudhoyono yang mencapai 7 persen dalam survei beberapa lembaga survei kredibel.

Bahkan jika dipasangkan dengan Jokowi sebagai Calon Wakil Presiden, nama Gatot juga kalah dari Agus Harimurti Yudhoyono. Hasil survei yang dilakukan Indo Baromater terhadap 1.200 responden di 34 Provinsi di Indonesia pada 15 – 23 November 2017 lalu, nama Gatot hanya berada pada kisaran 15,9 Persen. Sementara nama Agus berada pada 17,1 persen atau lebih tinggi dari Gatot.

Dengan survei yang kurang mendukung itu, nama Janderal Gatot kian hari kian redup, sehingga panggung politik dan kepemimpinan nasional seakan tak layak lagi bagi dia. Akibatnya, sejumlah parpol lalu mewacanakan untuk mendukung Jenderal Gatot maju sebagai Calon Gubernur (Cagub) Jawa Tengah pada Pilkada 2018 ini. Beberapa Parpol yang mulai mempertimbangkan Jenderal Gatot menjadi Cagub Jawa Tengah diantaranya Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrat. Bahkan mantan Menteri ESDM Sudirman Said juga merayu Jenderal Gatot untuk maju meramaikan pesta demokrasi di Jawa Tengah melalui Pilkada serentak 2018 ini.

Dengan ramainya pemberitaan bahwa Janderal Gatot berpeluang besar bisa menjadi Gubernur Jawa Tengah jika ikut bertarung dalam Pilkada 2018, membuat namanya kian hari kian kecil. Ditambah lagi beberapa partai mulai mewacanakan nama Jenderal Gatot maju menjadi Cagub Jawa Tengah semakin meredupkan namanya. Perubahan peta politik nasional, seakan – akan sebuah skenario besar untuk membuat nama Jenderal Gatot terus meredup dan tidak lagi bersinar untuk menjadi penantang Jokowi pada Pilpres 2019.

Jika Jenderal Gatot menerima tawaran untuk maju sebagai Cagub Jawa Tengah, maka sudah bisa dipastikan tidak akan ada lagi penantang kuat Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang. Artinya, siapapun yang menjadi pendamping Jokowi nanti tidak masalah lagi, karena tidak ada penantang tangguh.

Namun situasinya berbeda, jika Gagot menolak menjadi Cagub Jawa Tengah dan menyatakan sikap maju ke panggung politik nasional sebagai Calon Presiden. Memang harus diakui, tantangan terberat Jenderal Gatot adalah merebut simpati partai. Sebab, sebagian besar Parpol saat ini telah menyatakan dukungan kepada Presiden Jokowi. Sebut saja Nasdem, Hanura, Golkar dan PPP sudah jauh – jauh hari menyatakan dukungan kepada Jokowi. PDI Perjuangan meski belum menyatakan dukungannya untuk Calon Presiden, namun hampir pasti mendukung Jokowi.

Dengan demikian, peluang Jenderal Gatot untuk bisa mendapatkan dukungan Parpol tinggal Gerindra, PKS dan PAN. Sementara Demokrat, sepertinya agak sulit karena Partai Besutan Susilo Bambang Yudhoyono ini sudah menyiapkan bitangnya yakni Agus Harimurti Yudhoyono.

Kini, pilihan ada pada Jenderal Gatot apakah mengalah dengan skenario menjadikanya tokoh di daerah dan memilih memimpin Jawa Tengah atau tetap bersinar di pentas politik nasional dengan peluang memimpin Indonesia.***

Load More Related Articles
Load More In Politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Update Real Count C1 KPU 24 April, Data Masuk 25,92 Persen, Bandingkan Suara Jokowi – Amin VS Prabowo – Sandi

JAKARTA, SULTENGNEWS.com – Update hasil Real Count C1 KPU dari Sistem…