Rainforest Alliance Serahkan Dokumen Pengelolaan Danau Poso ke Sekprov Sulteng

7 min read
0
194

Manager Cocoa Program Rainforest Alliance, Hasrun Hafid saat menyerahkan dokumen pengelolaan Danau Poso Kepada Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sulteng, Hidayat Lamakarate di ruang kerjanya, Kamis (19/9/2019). FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.com – PT Rainforest Alliance yang merupakan organisasi nirlaba internasional yang bekerja untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan memastikan mata pencaharian berkelanjutan dengan mengubah praktik penggunaan lahan, praktik bisnis dan prilaku konsumen, menyerahkan dokumen pengelolaan Danau Poso kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).



Penyerahan dokumen itu, diserahkan langsung Manager Cocoa Program Rainforest Alliance Hasrun Hafid kepada Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sulteng Hidayat Lamakarate di ruang kerjanya, Kamis (19/9/2019).

Hasrun Hafid menjelaskan, dokumen yang mereka serahkan itu adalah hasil kerja dan kajian Rainforest Alliance terkait pentingnya pengelolaan Danau Poso yang lestari selama kurang lebih 16 bulan. Rainforest Alliance telah bekerja di lima desa di Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso yang berbatasan langsung dengan Danau Poso yakni Desa Panjo, Bancea, Beo, Pendolo dan Pasir Putih.

Suasana Workshoop pengelolaan Danau Poso di ruang kerja Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sulteng, Kamis (19/9/2019). FOTO : IST

“Danau Poso tidak hanya memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat sekitarnya, tapi juga dunia. Danau Poso adalah salah satu spot wisata dunia yang harus kita jaga dan kelola secara lestari agar tidak menimbulkan kerusakan yang pada akhirnya merugikan Sulawesi Tengah,” ujar Hasrun Hafid dihadapan Sekprov usai menyerahkan dokumen.

Menurutnya ada beberapa msalah besar yang bisa mengancam kelestarian Danau Poso yakni adanya bahan kimia dari pertanian yang mengalir langsung ke danau, sampah rumah tangga yang juga langsung mengalir ke danau, limbah dan pembangunan hotel-hotel dan berbagai ancaman lingkungan lainnya. Semua itu, jika dibiarkan akan merusak kelestarian Danau Poso yang menjadi kebanggaan warga Poso dan Sulteng secara umum.

“Saya pernah bawa teman makan di salah satu warung di dekat danau, dia tidak mau makan. Saya tanya kenapa tidak mau makan..? dia jawab, dia malas makan karena melihat ada popok bayi yang mengalir langsung ke danau. Hal – hal kecil begini, harus benar – benar kita perhatikan agar Danau Poso ini tetap mendapat perhatian dunia,” katanya.



Untuk itu kata Hasrun Hafid, Rainforest Alliance saat ini sedang mengembangan projek di lima desa sekitar danau dengan konsep pengelolaan Danau Poso terpadu yang menjaga kelestarian ekosistem dan lingkungan, namun bernilai ekonomis bagi warga sehingga bisa mengatasi masalah sosial yang timbul. Dengan demikian, Danau Poso akan tetap lestari dimasa yang akan datang.

“Kita mendorong peningkatan ekonomi dengan penguatan koperasi masyarakat. Kami juga mendorong agar ada pembuatan bak sampah, karena sumber utama sampah domestik adalah sampah masyarakat, sehingga tidak berdampak ke Danau Poso,” katanya.

Saat ini kata Hasrun Hafid, kerusakan Danau Poso masih tergolong sangat ringan. Namun jika tidak ada upaya prefentif dari semua pihak, maka akan menimbulkan dampak kerusakan yang lebih besar.

Sekprov Sulteng, Hidayat Lamakarate selaku ketua Panitia Kerja (Pokja) Pengelolaan Danau Poso dalam kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada Rainforest Alliance yang sangat konsen terhadap pengelolaan Danau Poso yang lestari.

“Saat ini Pemerintah Provinsi lagi melakukan evaluasi kondisi pertanian dan perkebunan di Sulteng, karena banyak yang tidak bisa terserap ke pasar luar. Harapan kita, pengelolaan pertanian di sekitar Danau Poso yang didampingi Rainforest Alliance dapat menjadi contoh pertanian di daerah lain,” ujar Hidayat dalam kesempatan itu.

Hidayat mengaku, Pemerintah Provinsi Sulteng siap mensuport kegiatan pengelolaan Danau Poso yang lestari. Namun yang terpenting kata Hidayat, kegiatan itu harus benar-benar bisa berdampak ekonomi bagi para petani.

“Jangan sampai setelah ditinggalkan Rainforest Alliance, pasar sudah tidak ada. Jangan sampai pertaniannya berhasil, namun tidak membawa dampak ekonomi bagi para petani karena sudah tidak ada pasar,” terang Hidayat.

Selama ini lanjut Hidayat, banyak petani yang mengelu setelah hasil pertaniannya berhasil, malah mereka mengalami kerugian. Sebab, hasil panen tidak menutupi biaya yang dikeluarkan mulai dari membuka lahan, menanam hingga panen.

Olehnya, Hidayat sangat berharap pengelolaan lahan pertanian di sekitar Danau Poso benar-benar berdampak ekonomi bagi para petani di desa sekitar danau.

“Semua kita harus berfikir bersama untuk mencari pasar, agar hasil petanian di sekitar Danau Poso membawa dampak ekonomi bagi para petani,” tutupnya

Setelah penyerahan dokumen pengelolaan Danau Poso, kegiatan dilanjutkan dengan workshoop yang diikuti untuk Pemerintah Kabupaten Poso, Dinas Perikanan Poso, Dinas Pertanian, Camat Pamona Selatan, serta beberapa pemerhati lingkungan di Danau Poso. FUL

Load More Related Articles
Load More In Sulteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Tim Menkopolhukam Minta Segera Rampungkan Data Penerima Stimulan dan Lahan Huntap

Suasana rapat Tim Menkopolhukam yang dipimpin Kolonel Sutikno di Ruang Polibu Kantor Guber…