Pilgub Sulteng 2020; Seteru Dikasus Yahdi Basma

4 min read
0
739

Kasus Hoax yang menyeret satu anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Yahdi Basma (YB), sejak 5 Juli 2019 berubah menjadi papan catur politik Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2020.

Oleh: Adi Prianto

Seteru pemenang Pemilihan Legeslatif (Pileg) 2019 dengan incumbent, semua orang menduga dan enggan menyebutkan, seteru ini adalah tarung antara partai NasDem dan Partai Gerindra menjelang Pilgub Sulteng 2020.

Kasus YB ditarik menjadi arena tempur karena satu hal krusial, bakal calon yang selama ini digadang-gadang, dipersiapkan, dan bahkan akan didukung penuh oleh Partai Gerindra, dikerjain melalui hukum karena kasus yang puluhan tahun silam tiba-tiba ada kembali. Terlepas kasus hukum itu terbukti atau ada secara hukum tertulis, yang dikerjain tidak memiliki saluran-saluran resmi untuk counter dengan asumsi ruang legal sempit akibat pembelahan dan koalisi Partai berbeda di Pilpres kemarin. Pilihan satu-satunya adalah kasus YB, sehingga narasi yang muncul dimedia pasca 5 Juli 2019 yakni  “ …ada bahasa sesumbar dari pimpinannya akan menghukum, jika terbukti bersalah, itu hanya lips service. Sudahlah kita juga sama-sama mengerti, apalagi dia sebagai calon gubernur akan datang “.

Keadaan seperti ini, kasus YB tidak hanya jadi arena tempur, juga merubah menjadi alat negosiasi dan meja kompromi—pada konteks politik elektoral– sesama elit dan petinggi partai, dan menjadi tanda tanya besar posisi YB sendiri, dikorbankan atau rela menjadi korban?.

Pilgub Sulteng 2020, walau tahapan yang dikehendaki oleh peraturan perundang-undangan belum dimulai, fase genitnya memprovokasi para elit dan pelaku politik mempercepat tahapannya. Salah satunya adalah memperkecil rivalitas, kalau perlu terjadi melawan kotak kosong.

Perangkap dan jebakan politik menjelang Pilgub Sulteng 2020 tidak serta merta meletakan posisi Polda Sulteng sebagai penyidik kasus YB menjadi dilematis, Kapolda dan jajarannya bisa saja mengatakan bahwa mereka tidak bisa diintervensi oleh siapapun, tetapi posisi netral mereka akan menentukan perubahan plot menjelang Pilgub Sulteng 2020, menjadi kejutan atau mengalir apa adanya seperti plot cerita di awal.

Kasus YB berkontribusi besar menciptakan dua kanal politik menjelang Pilgub Sulteng 2020, menghancurkan idealisasi dari bapak Rusdi Mastura yang menggabungkan dua kutub berbeda menjadi satu Pasangan Calon (Paslon), Ahmad Ali-Hidayat Lamakarate. Harapan demikian terlalu dini untuk diwujudkan sekarang, ia berayun pada dua kehendak; keinginan menjadi Gubernur benar-benar sudah terbuka berdasarkan syarat-syaratnya dan proses pengamanan kekuasaan setelah tidak menjabat sebagai Gubernur.

Karena sudah terbelah menjadi dua kutub, pimpinan partai politik enggan mendorong dan menciptakan pilihan ketiga, posisi politik wait and see menciptakan Pilgub Sulteng 2020 menjadi konflik yang sangat keras dan jauh dari tarung gagasan.

Penulis adalah Ketua PRD Suawesi Tengah

 

Load More Related Articles
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Bangkit Dari Bencana Dengan Agribisnis

Agribisnis menurut Bungaran Saragih (2010) merupakan suatu konsep pertanian yang menginteg…