Penganan Transisi Darurat dan Pemulihan Perlu Pendekatan Padat Karya

4 min read
0
144

Anggota DPRD Provinsi Sulteng, Nasution Camang saat berdialog dengan warga pengungsi Dusun Kadongo, Kelurahan Panau, Kecamatan Tawaeli saat melakukan reses di daerah itu. FOTO : IST

PALU, SULTENGNEWS.com – Anggota DPRD Provinsi Sulteng, Nasution Camang menegaskan, untuk membantu percepatan pemulihan ekonomi rumah tangga masyarakat miskin, terutama Nelayan Kecil di Kota Palu, maka penanganan tahap transisi darurat dan pemulihan pasca gempa, tsunami dan likufakasi Palu, Sigi dan Donggala (PASIGALA), mestilah menggunakan pendekatan program pada karya.

Penegasan ini, disampaikannya menanggapi keluhan dan harapan sejumlah warga nelayan dalam kegiatan kunjungan reses di titik pengungsian Kadongo, Kelurahan Panau, Kecamatan Tawaeli (13/11/2018).

Menurutnya, masyarakat nelayan di pesisir Teluk Palu, termasuk yang paling terpuruk pasca gempa, tsunami dan likuifkasi. Mereka tidak saja kehilangan anggota keluarga, rumah dan harta benda lainnya, tapi juga kehilangan kehilangan mata pencaharian.

“Perahu dan alat tangkap mereka rusak dan hilang, tak bisa lagi melaut. Bahkan kalaupun bisa melaut, warga kota Palu juga masih enggan mengkonsumsi ikan dari teluk Palu. Jadi, begitulah kondisi yang dialami oleh tidak kurang dari 200-an KK nelayan di Panau dan Pantoloan Boya,” jelas legislator fraksi NasDem itu.

Khusus di posko pengungsian Kadongo saja, menurut Ibu Heni, Anggota LPM Kelurahan Panau, ada 119 KK yang sebahagian besarnya nelayan disamping sebagai Buruh Harian Lepas. “Mereka rata-rata hanya nelayan kecil, mau tangkap ikan perahu sudah hancur dan orang Palu juga belum mau makan ikan teluk palu. Jadi mohon pemerintah carikan solusi,” pintanya.

Bagi Pak Nursyam, salah seorang warga RT 7 (Kadongo) Kelurahan Panau, pekerjaan Hunian Sementara (Huntara) mestinya merekrut tenaga kerja lokal setempat.

“Di sini (Kadongo, red) PUPR ada bangun Huntara, mestinya warga di sini saja yang dipekerjakan, tidak usah dari luar supaya ada sumber pendapatan, sehingga kami tidak lagi hanya bergantung pada bantuan logistik dari luar,” sarannya.

Menanggapi keluhan dan saran warga, Nasution Camang menyampaikan respon positif dan meminta Pemerintah Provinsi Sulteng dan Pemerintah Kota Palu sebaiknya menggunakan pendekatan program padat karya dalam penanganan transisi darurat dan pemulihan pasca gempa, tsunami dan likuifaksi Pasigala.

“Saya kira pembangunan Huntara, Huntap, rehabilitasi infrastruktur bisa menggunakan pendekatan Padat Karya Tunai, sebagaimana dilakukan oleh PUPR di Desa-Desa,” katanya.

Pendekatan Padat karya tunai ini, kata Camang tidak saja membuat penanganan transisi darurat dan pemulihan pasca bencana lebih partisipatif, lebih dari itu menjadi sabuk pengaman ekonomi keluarga korban yang kehilangan mata pencaharian. Secara psikologis, masyarakat perlahan-pelahan bisa melupakan situasi traumatis karena mulai memiliki pekerjaan alternatif meski hanya sementara, ketimbang mereka nganggur di tenda-tenda pengungsian.

“Kondisi ini dikhawatirkan akan membuat psikologi mereka seterusnya sebagai pengungsi, sehingga sulit untuk bangkit,” pungkas Nasution.*/FUL

Load More Related Articles
Load More In Politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Update Real Count C1 KPU 24 April, Data Masuk 25,92 Persen, Bandingkan Suara Jokowi – Amin VS Prabowo – Sandi

JAKARTA, SULTENGNEWS.com – Update hasil Real Count C1 KPU dari Sistem…