Pemerhati Buaya Asal Australia Kesulitan Tangkap Buaya Berkalung Ban

4 min read

Pemerhati buaya asal Australia, Matt Wright saat memancing buaya berkalung ban dengan seekor ayam di bantaran sungai Palu. FOTO : MISTAHUL AFDAL/SULTENGNEWS.COM

PALU, SULTENGNEWS.COM – Sudah hampir sepekan pemerhati buaya asal Australia, Matt Wright dan rekannya Chris Wilson berupaya menyelamatkan Buaya Berkalung Ban. Namun hingga kini, masih kesulitan menangkap buaya tersebut.




Beberapa cara sudah dilakukan oleh Matt Wright dan Chris Wilson, namun belum juga membuahkan hasil.

Matt Wright menyampaikan, salah satu kesulitan yang diakibatkan adalah masyarakat yang menonton terlalu ramai di bibir sungai.

Masyarakat sangat antusias menonton proses penangkapan buaya berkalung ban di sungai Palu. FOTO : MIFTAHUL AFDAL/SULTENGNEWS.COM

“Kesulitannya masih sama akibat dari keramaian masyarakat menonton dan kebisingan dari masyarakat itu sendiri,” sebutnya.

Matt Wright bersama Satuan Tugas Penyelamatan Hewan Liar Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah telah menerbangkan umpan bebek mati yang diikat dengan tali sekitar 10 meter pada drone.

Saat umpan bebek mati di dekatkan tepat di hadapan buaya dengan panjang kurang lebih 4 meter itu, umpan tidak sama sekali disentuh dan tak berlangsung lama buaya berkalung ban menghilang kembali.




Matt Wright mengatakan, harapannya umpan bebek dimakan buaya, karena di umpan diikatkan pelampung, sehingga keberadaan buaya berkalung ban bisa diketahui dan bisa diikuti dengan perahu.

“Harapan saya tadi umpan di makan buaya, sebab diumpan diikatkan tali yang ada pelampung. Dengan begitu, kita bisa tau keberadaan buaya tersebut, tinggal diikuti dengan perahu,”ujarnya.

Setelah gagal dengan metode umpan, maka Matt Wright menjelaskan, akan memakai sebuah alat yang disebut harpun.

“Harpun yang dipakai tidak menyakiti buaya, hanya masuk sedikit di bagian telinga dan tidak terlalu banyak tekanan. Jika berhasil dengan harpun, maka buaya akan kita angkut ke perahu dan dibawah kedaratan,” jelasnya.

Senada dengan hal itu, Ketua Tim Satgas Penyelamatan Satwa Liar BKSDA Sulteng, Haruna menuturkan, dekatnya masyarakat dengan buaya menjadi hambatan dalam proses penyelamatan, pasalnya, pada saat kepala buaya muncul masyarakat ramai berteriak.




“Karena begitu muncul kepala buaya berkalung ban, teriakan masyarakat begitu riuh, itu dia itu dia masalahnya,” tandasnya.

Dengan demikian, buaya yang sebelumnya ditengkap dan tersebar luas ke media sosial bukanlah buaya berkalung ban yang kini telah terkenal hingga ke manca negara. Namun buaya lain yang juga berada di teluk Palu. DAL

Load More Related Articles
Load More In Palu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Ekspedisi Celebes 360 MBI Bandung Jelajah Sulawesi Singgah di Palu

Kepolres Palu, AKBP H.Moch Sholeh, SIK.SH.MH yang saat berbincang hangat dengan tim eksped…