Malangnya Nasib Orang Gila..!! Sakit Tak Punya Biaya, Sembuh Tak Diterima Keluarga

6 min read
0
169

Fakir miskin dan anak – anak terlantar dipelihara oleh negara” demikianlah bunyi pasal 34 ayat (1) Undang – Undang Dasar 1945. Namun bagaimana dengan orang gila, siapa yang akan memelihara mereka, karena tidak disebutkan secara eksplisit dalam undang – undang.

Oleh : Mahful Haruna

Berbicara masalah orang gila, mungkin masih tabuh bagi sebagian besar masyarakat. Apalagi jika berkaitan dengan biaya perawatan bagi orang gila jika mengalami sakit yang mengharuskan dia untuk dirawat. Jika sakitnya hanya masalah kejiwaan, sudah sejak dulu ditangani pihak Rumah Sakit (RS) Madani Mamboro.




Namun bagaimana jika dia mengalami sakit badan seperti masyarakat pada umumnya seperti luka akibat jatuh atau ditabrak kendaraan, sakit demam, malaria, demam berdara atau berbagai jenis penyakit yang diderita masyarakat pada umumnya. Dari mana anggarannya serta siapa yang akan membiayai pengobatannya.

Setelah sembuh, kemana orang – orang gila ini kembali, karena pada umumnya masyarakat yang memiliki keluarga yang sakit jiwa setelah diantar ke RS Madani, sudah tidak dijenguk –jenguk lagi dan tidak ditahu lagi seperti apa kondisinya setelah diantar ke RS Madani.

Masalah inilah yang menjadi salah satu pembahasan antara Komisi IV DPRD Sulteng bersama Direktur RS Madani saat rapat komisi di ruang sidang utama DPRD Sulteng, Jumat (15/11/2019).

Direktur RS Madani, dr. Nirmansyah Parampasi dalam kesempatan itu menyampaikan, salah satu kendala yang meraka alami dalam penanganan pasien jiwa adalah tidak adanya rumah singgah yang bisa menampung para pasien jiwa setelah sembuh dari sakitnya.

“Biasanya kalau ada masyarakat yang punya sudara mengalami sakit jiwa, ketika sudah sembuh mereka tidak mau lagi terima. Sementara BPJS hanya melayani maksimal 46 hari, lebih dari itu tidak ditanggung lagi,” ujar Direktur RS Madani didepan Anggota Komisi IV DPRD Sulteng.




Direktur RS Madani berharap, kiranya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng memiliki rumah singgah untuk menampung sementara para pasien jiwa setelah 46 hari di rawat di RS Madani, sehingga orang-orang yang tidak diterima lagi keluarganya itu bisa dititip di rumah singgah itu.

Nanti setelah dua minggu, pasien bisa kembali lagi ka RS Madani, karena aturan BPJS bisa dilayani lagi setelah 2 minggu di luar rumah sakit. Jika ada rumah singgah, tidak terlalu beban bagi rumah sakit.

“Jujur saja, pasien jiwa itu kita kasih makanan sisa dari yang sudah habis dibagi ke yang lain, tapi bukan makanan sisa dari yang sudah habis dimakan pasien lain,” ujarnya.

Pasien jiwa kata dr. Nirmasyah, biaya makan sesuai pagu sebesar Rp45.000 untuk 3 kali makan per satu pasien, itupun diluar obat.

Selama ini kata dr. Nirmansyah, pihak RS Madani yang terpaksa menanggung obat-obat dan biaya makannya pasin jiwa setelah hari ke-46, karena tidak ditanggung lagi oleh BPJS Kesehatan.

Menanggapi hal ini, Anggota DPRD Sulteng dari Partai Hanura, Ismail Junus nampak sangat serius menanggapi masalah orang gila ini. Politisi Hanura ini bahkan mengaku akan meminta Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulteng, untuk meminjamkan sementara salah satu panti sosial yang berada dibawah naungan Dinas Sosial untuk dijadikan rumah singgah bagi orang – orang gila, sehingga bisa diploting anggaran untuk biaya makan orang – orang gila itu.

“Kita harus pikirkan juga nasib orang – orang gila ini, karena mereka biasanya tidak diterima lagi oleh keluarganya,” ujarnya miris.

Dengan dibahasnya nasib orang gila di komisi IV DPRD Sulteng, bisa membawa angin segar bagi orang – orang gila dan mendapatkan jaminan hidup dan tempat yang layak bagi mereka.




Semoga Pemprov Sulteng benar – benar serius memikirkan nasib orang – orang gila di Sulteng dengan menampung mereka di rumah singgah, karena bagaimana pun mereka adalah manusia yang juga butuh makan dan sehat untuk bisa bertahan hidup.

Jika nasib orang – orang gila tidak dipikirkan oleh pemerintah, lalu siapa lagi yang akan memikirkan mereka, sementara keluarganya sudah tak peduli lagi dengan nasib mereka, padahal orang gila juga manusia. Wassalam..!!

Load More Related Articles
Load More In Sulteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Asal Usul Nama Rusdy Mastura

Sore itu di tepian Pantai Kayamanya, Kabupaten Poso. Pria berkulit gelap dengan senyum yan…