Mahasiswa Unisa Teliti Budaya Warga Wombo

7 min read
0
224

PALU, SULTENGNEWS.com – Sebanyak 11 mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Alkhairaat Palu telah melakukan penelitian di Desa Wombo Kalonggo, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada hari Sabtu dan Minggu (18-19/11/2017).

Dengan tujuan untuk mengetahui sistem perkembangan budaya, sosial, dan ekonomi di desa itu, sekaligus untuk menyandingkan antara teori dan realitas di masyarakat dengan mata kuliah sosiologi ekonomi yang mereka terima selama ini di dalam kampus.

Berdasarkan hasil penelitian selama dua hari itu, ke-11 mahasiswa ini menemukan jika watak masyarakat desa itu sangat terbuka dan mudah bercengkrama dengan pendatang (tamu) dari daerah lain. Serta dalam penyelesaian konflik masih menggunakan sistem kekeluargaan.

Dalam sistem ini ada siklus-siklus dalam penyelesaian konflik, berawal dari RT, jika di tingkat ini belum menemukan titik penyelesaian akan dilanjutkan ke Kepala Dusun, jika pun di tingkat ini tidak menemukan penyelesaian akan dilanjut Kepala Desa. Jika ditingkat ini juga belum ada penyelesaian, akan dilanjutkan ke tingkat Kepala Adat, hingga ke kecamatan, jika masih juga belum ada penyelesaian, barulah kasus tersebut dibawah ke kepolisian.

Hal ini bertujuan, agar tidak semua konflik yang terjadi di desa itu harus diselesaikan di kantor polisi, sebab jika sampai ditangani kepolisian kerap merenggangkan ikatan silaturrahmi atau kekeluargaan kedua belah pihak. Berbeda jika diselesaikan ditingkat kekeluargaan. Kasus tersebut dapat terselesaikan tanpa harus melukai perasaan salah satu pihak.

Begitu juga dengan toleransi di desa ini, begitu sangat tinggi meskipun penduduk di desa ini mayoritas Muslim, namun penduduk non muslim diberi kebebasan menjalankan keyakinan agama mereka masing-masing. “Di desa ini toleransi warganya sangat tinggi, warga hidup berdampingan tanpa melihat perbedaan agama, suku dan budaya,” tutur salah satu peserta peneliti desa itu, Didik Prasetiawan. Selasa (21/11/2017).

Untuk memastikan kondisi kesehatan masyarakat desa ini terjamin, pemerintah setempat telah mendirikan Polindes. Poltekes ini kata Didik telah dimanfatkan dengan baik oleh warga setempat. “Menurut pengakuan warga, Polindes yang dibangun itu sangat membantu warga bidang kesehatan,” tambahnya.

Di desa ini juga kata Didik, telah didirikan sejumlah lembaga sebagai wadah untuk menampung pemuda desa ini untuk belajar berorganisasi sekaligus wadah untuk menyalurkan bakat-bakat pemuda yang ada di desa ini, diantaranya Risma, Karang Taruna, PKK, Wipala, dan WIA. Begitu juga terkait kebudayaan, mereka berhasil menghimpun informasi jika di desa ini masih menjaga dengan baik tradisi leluhur mereka, salah satunya adalah Balia, tradisi ini merupakan cara pengobatan tradisional yang digunakan para leluhur suku Kaili.

Kini tradisi tersebut masih terus terjaga dengan baik, oleh Suku Kaili etnis Rai yang   mendiami desa ini, terutama jika ada penyakit yang diderita oleh warga desa yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Begitu juga dengan tradisi tola’bala dimana tradisi ini dilakukan saat ada musibah yang dialami desa ini.

“Jika ada musibah yang dialami Desa Wombo Kalonggo, seperti banjir dan sebagainya, warga akan dikumpul di rumah adat untuk dilakukan prosesi tola’bala, dengan harapan segala hal-hal buruk tidak menimpa desa ini,”jelas Didik Prasetiawan.

Tradisi lain yang juga masih terus terjaga di desa ini yakni tradisi Manaju, yakni tradisi prosesi upacara pernikahan yang biasanya hanya dilakukan oleh warga yang masih berdarah bangsawan atau madika, namun seiring perkembangan zaman, kini Manaju juga telah dapat dilakukan oleh masyarakat pada umumnya.

Terkait kondisi prekonomian masyarakat desa ini, Didik menuturkan jika masyarakatnya sebagian besar  perprofesi petani sawah, coklat, kelapa, cengkeh, dan buruh bawang goreng. Begitu juga dengan wanita di desa ini, tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, karena sebagain telah ikut membantu suami mereka menjadi buruh bawang goreng, hal ini dapat membantu untuk mengepul dapur mereka.

“Ini sangat membantu suami-suami mereka, karena ada bisnis rumahan dibangun oleh ibu-ibu rumah tangga, namun sangat disayangkan, karena tidak didukung oleh infrastruktur jalan yang memadai,”jelasnya.

Olehnya itu kata Didik, pemerintah sepatutnya dapat memperhatikan pembangunan infrastruktur desa ini, baik terkait jalan dan juga termasuk air bersih serta pembanguann bendungan. Adapun yang terlibat dalam penelitian itu, selain Didik Prasetiawan juga ada Safrin, Faisal I Awali, Rahmat Mille, Muh. Rizal Husen, Selma Elvira Patiara, Kherunnisa, Safitra Ramadhana, Hasrani, Afrita, dan Susi Yanti. AMD

Load More Related Articles
Load More In Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Sambuat Tahun Baru Islam, TK Aisyiyah 1 Baolan Zikir Bersama

TOLITOLI, SULTENGNEWS.com – Dalam rangka menyambut dan memeriahkan Tahun Baru Islam,…