Ketum PAN Sebut Tiga Poin Jadi Ancaman NKRI

6 min read
0
430

Keterangan Foto :

Ketua Umum PAN yang juga ketua MPR RI, Zulkifli Hasan saat menyampaikan sambutan dalam acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PAN di Hotel The Sha, Selasa (19/12/2017). FOTO : MAHFUL/SN

PALU, SULTENGNEWS.com – Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga ketua MPR RI, Zulkifli Hasan menekankan tiga poin yang kini mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (RKRI).

Hal itu ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PAN di Hotel The Sha, Kota Palu pada Selasa (19/12/2017). 

Ketua PAN Kota Palu, Ivan Dj Nouk bersama Anggota DPRD Kota Palu, Ir Tamsil saat mengikuti pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PAN Sulteng di Hotel The Sha, Selasa (19/12/2017). FOTO : MAHFUL/SN

Pertama, masalah kesenjangan sosial antara kaya dan miskin. Banyak yang kaya raya, tapi banyak juga yang tidak punya apa – apa atau miskin. Data – data menunjukan, satu persen orang menguasai 60 persen tanah. Apalagi tambang – tambang, juga dikuasai segelintir orang saja. Selanjutnya, kesenjangan antara pusat dan daerah. Di Jakarta, pembangunan infrastruktur sangat berkembang. Sementara di wilayah lain sangat ketinggalan.

“Di Jakarta, apa saja ada. Bogor, Bandung Surabaya semua lebih bagus. Rumah sakit, sekolah dan sarana infrastruktur lainnya semua lebih bagus,” ujar Zulkifli Hasan.

Sementara di Sulteng, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang masuk hanya berkisar Rp2 Triliun saja. Bandingkan dengan Bogor 10 Triliun, Surabaya Rp11 Triliun.

“Kalau begini terus, kapan ngejarnya. Saya saja protes, masa orang sini diam aja. Orang maluku protes, katanya mereka punya 1.000 pulau, tapi dapatnya cuma Rp2 Triliun, kapan bisa ngjar sama Jawa, padahal kita NKRI tapi kenapa beda,” protes Zulkifli dalam sabutannya.

Masalah kesenjangan antar Jawa luar Jawa, antar pusat dan daerah, antar orang per orang, terus menghantui keutuhuan bangsa ini. Jumlah uang, cuma dikuasai satu persen orang. Jika kesenjangan ini terus terjadi, presiden mengatakan ini bahaya, bisa melahirkan kecemburuan sosial. Apalagi kalau kecemburuan itu, mengarah pada etnis tertentu sangat bahaya.

Kedua, masalah korupsi. Dalam satu bulan saja, KPK berhasil melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap enam Kepala Daerah di Indonesia. Masalah korupsi ini kata Zulkifli Hasan, juga menjadi ancaman serius Indonesia, sehingga dia meminta kader – kader PAN agar tidak terserang penyakit korupsi ini.

Ketiga, banyak salah paham antara satu dengan yang lain, sehingga saling menista. Jika ketemu, kalau bukan kelompoknya tidak akur. Saling menista, saling menghujat, saling curiga. Jika bukan kelompoknya, maka menjadi lawan.

“Oleh karena itu, saya mengatakan merah putih kita sudah koyak dengan macam – macam persoalan. Bahkan masalah pilkada saja, sudah bisa saling hujat menghujat bahkan sampai jatuh korban,” katanya.

Padahal kata ketua MPR RI ini, masalah pilkada hanya masalah biasa saja setiap tiap lima tahun ada. Dalam pilkada ada yang menang dan ada yang kalah. Seharusnya yang dilakukan adalah adu konsep atau adu gagasan, bukan malah saling mancaci maki yang pada akhirnya menimbulkan korban jiwa.

“Di kampung saya dulu, gara – gara pilkada sembilan orang mati, karena politiknya belah bambu. Bawa – bawa suku, bawa – bawa agama, kan bahaya. Kita mengalami distras, karena itu saya minta PAN menjadi pelopor untuk menjahit kembali merah putih. PAN menjadi pelopor teman – teman yang lain, jangan ribut terus,” tekannya.

Zulkifli Hasan juga berpesan, agar semua partai harus mengedepankan dulu Indonesia baru bicara partai. Dengan demikian, maka akan terjadi kesamaan pandangan dan terjadilah persatuan.

“Saya baru pulang dari Rusia. Orang Rusia kalau ditanya partai marah, mereka bilang kami orang Rusia. Partai itu, urusan internal kami masing – masing,” ujarnya.

Ketua MPR RI ini berpesan, agar sesama anak bangsa harus saling menghormati satu sama lain, karena sebangsa dan setanah air. Begitu juga soal agama, harus saling menghormati dan saling menghargai.

“Itu yang saya sebut menjahit kembali merah putih. Saya minta PAN jangan menggunakan isu sara, jangan pake isu suku. Kita adu konsep adu gagsan. Karena partai – partai, teman semua, fastabiqul khairaat berlomba – lomba untuk kebaikan,” tutupnya. FUL

Load More Related Articles
Load More In Politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Muharram Nurdin Kembali Pimpin PDIP Sulteng

PALU, SULTENGNEWS.com – Wakil Ketua DPRD Sulteng, Muharram Nurdin kembali terpilih m…