Ketua MPR RI Sarankan Warga Sulteng Bekerja di Tambang Morowali

4 min read
0
1,059

Keterangan Foto :

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan memberikan keterangan soal tembang di Morowali saat dicegat Wartawan usai membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PAN Sulteng di Hotel The Sha, Selasa (19/12/2017). FOTO : MAHFUL/SN

PALU, SULTENGNEWS.com – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Zulkifli Hasan mengaku sangat terkejut mendengar kabar bahwa perusahaan tambang di Kabupaten Morowali banyak mempekerjakan tenaga kerja asal Tiongkok.

“Saya dengar banyak orang Sulteng belum dapat pekerjaan, tapi yang kerja ditambang – tambang di Morowali hanya orang Tiongkok. Sudah nikelnya diambil, yang kerja dia juga, trus kita dapat apa..? Dapat lingkungan yang buruk, kok nggak protes. Ada wartawan disini, tulis ini di halaman satu,” kata Zulkifli Hasan Lantang.

Padahal lanjutnya, sila ketiga itu, Negara bersumpah melindungi segenap tumpah dara Indonesia. Olehnya, Zulkifli berharap sebisa mungkin orang – orang Sulteng lah yang harus bekerja di tambang – tambang di Morowali itu.

“Kan masih ada orang Sulteng belum kerja, ya harus orang sini dulu yang kerja. Pemuda – pemuda harus kerja pak Sekda. Jangan dari jauh, itu akan melahirkan kecemburuan dan kesenjangan dan melahirkan sosial distras, bahaya,” ujar Zulkifli Hasan saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PAN Sulteng di Hotel The Sha, Selasa (19/12/2017).

Menurut Zulkifli Hasan, dahulu kesadaran kebangsaan warga Indonesia belum tumbuh, sehingga mudah diporak – porandakan oleh Belanda yang menjajah Indonesia hingga 300 tahun lamanya. Barulah abad ke-20, kesadaran berbangsa intens didiskusikan.

“Dulu kita kurang ilmu, karena Belanda menjajah membuat kita bodoh. Inggris menjajah orang dikasih pelajaran, sehingga pintar. Dimana – mana negara bekas jajahan inggris, pasti pintar. Tapi Belanda tidak karena mereka pedagang, sehingga tidak mau ada orang pinter takut saingan,” terang Zulkifli Hasan.

Dikatakan, karena Belanja datang menjajah dengan semangat berdagang, maka mereka tidak mau ada orang Indonesia yang pintar, sehingga semua menjadi bodoh, karena kalau pintar bisa menjadi saingan. Sementara Inggris menjajah namun dengan industri, sehingga negara yang dijajah diajar agar pintar, makanya negara – negara bekas jajahan Inggris pasti maju – maju semua.

Dikatakan, ratusan tahun nyala api kebangsaan tidak ada, sehingga rakyat Indonesia gampang diadu domba dan berantem. Saat itu, selalu saja ada adu domba seperti Muhammadiyah dan NU diadu – adu, suku juga, raja – raja diadu – adu. Barulah abad ke 20, kesadaran berbangsa itu tumbuh. Dimulai dari lahirnya Serikat Dagang Islam (DSI) tahun 1905, Budi Utomo 1708, disusul Muhammadiah, Nahdatul Ulama (NU), Kwani (Kongres Wanita) dan Sumpah Pemuda tahun 1928.

Belajar dari sejarah itulah, sehingga Zulkifli Hasan sangat menekankan pentingnya cinta tanah air, sehingga memiliki kepedulian terhadap masalah – masalah yang terjadi di daerah masing – masing dan Indonesia secara umum.

“Saya minta kader – kader PAN, memahami masalah di daerahnya masing – masing, sehingga muncul kesadaran lalu timbul empati untuk memperjuangkan kepentingan rakyat,” ujarnya. FUL

Load More Related Articles
Load More In Sulteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Masykur Usulkan Pemda Segera Bangun Pabrik Semen di Morowali

PALU, SULTENGNEWS.com – Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Provinsi (Deprov) Sulawesi T…