Kakao, Primadona Sulteng Yang Semakin Ditinggalkan Petaninya

4 min read
0
75

Kakao, siapa yang tidak kenal dengan buah satu ini? Buah yang selain nikmat tapi juga kaya manfaat bagi kesehatan. Biji kakao mengandung lemak jenuh tunggal yang sangat baik untuk kesehatan.

Oleh : Hadziq Shubhan

Selain itu, Kakao juga dapat membantu mengurangi stress. Hal ini karena kandungan senyawa flavanol pada bubuk kakao yang mampu menstabilkan serotonin, yakni zat kimia dalam tubuh yang berperan mengendalikan emosi.

Indonesia sebagai negara penghasil kakao ketiga dan sebagai salah satu negara pengekspor kakao di dunia. Provinsi produsen kakao terbesar di Indonesia yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sumatera Barat.

Menurut data yang dirilis oleh BPS, Sulawesi Tengah produsen kakao terbesar diantara provinsi lainnya dengan kontribusi terhadap total produksi kakao pada tahun 2017 sebesar 19,05 persen.

Kakao sendiri selama ini merupakan komoditas ekspor andalan bagi Sulawesi Tengah, namun selama lima tahun terakhir ini produksi kakao di Sulawesi Tengah mengalami penurunan. Pada tahun 2014 produksi kakao di Sulteng sebesar 161,5 ribu ton sedangkan pada tahun 2018 hanya 100,7 ribu ton.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah semakin berkurangnya luas lahan tanaman kakao. Hal ini dapat dilihat dari data yang dirilis BPS, pada tahun 2014 luas lahan tanaman kakao yaitu 291,4 ribu hektar berkurang di tahun 2018 menjadi 283,3 ribu hektar, berarti mengalami penurunan luas lahan 8,1 ribu hektar.

Kebanyakan penurunan luas lahan ini dikarenakan petani kakao mengalihfungsikan lahan tanaman kakao menjadi tanaman lain atau menjadi pemukiman. Penurunan produksi kakao di Sulawesi Tengah tidak hanya disebabkan oleh penurunan luas lahan tanam kakao tapi juga disebabkan olehnya banyaknya usia tanaman kakao yang tua,rusak atau mandul sehingga tanaman tidak mampu berbuah lagi.

Tercatat menurut publikasi yang dikeluarkan oleh bps, tanaman kakao yang sudah tidak menghasilkan pada tahun 2016 di Provinsi Sulawesi Tengah seluas 53.330 hektar dan pada tahun 2017 luasnya meningkat menjadi 101482 hektar.

Sementara itu, harga referensi biji kakao pada Oktober 2019 sebesar USD 2.272,74/MT. Harga ini lebih rendah dari bulan sebelumnya USD 2.306,46/MT atau turun 1,46 persen. Hal ini berdampak pada penurunan HPE biji kakao pada Oktober 2019 menjadi USD 1.991/MT, turun 1,63 persen dari periode sebelumnya.

Keadaan seperti ini, seharusnya menjadi perhatian lebih pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Karena pada tahun 2017 hampir seluruh lahan tanaman kakao di Provinsi Sulawesi Tengah berupa perkebunan rakyat yaitu sekitar 99,99 persen.

Pemerintah segera mempercepat Gerakan Nasional (Gernas) Revitalisasi lahan tanaman kakao di Sulteng untuk menyelamatkan lahan tanaman kakao yang selama lima tahun terakhir mengalami penurunan produktivitas. Selain itu, pemerintah perlu menyuluhkan tentang budidaya tanaman kakao kepada petani kakao agar dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas dari tanaman dan biji kakao.

Penulis adalah Mahasiswa Polstat STIS di Jakarta

Load More Related Articles
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

NDB: Tiga Sektor Utama Pembangunan Perekonomian Sulteng

Membangun suatu daerah adalah membangun perekonomianya. Tentu, dalam aspek perekonomian, m…