Inilah Beberapa Masalah Baru Muncul di Lokasi Pengungsian

5 min read
0
150




Para pembicara dalam kegiatan dialog yang dilaksanakan Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama UNICEF di salah satu Hotel di Kota Palu, Kamis (8/8/2019). FOTO : JABIR MOH. YAMIN

PALU, SULTENGNEWS.com – Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama UNICEF, banyak menerima laporan munculnya beberapa masalah baru di lokasi pengungsian korban bencana di Sulawesi Tengah (Sulteng) khususnya di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala).

Hal itu dikemukakan Kepala Kantor UNICEF Sulawesi-Maluku, Hengky Widjaja saat menyampaikan sambutan pada acara dialog yang diprakarsai Wahana Visi Indonesia di salah satu hotel di Kota Palu, Kamis (8/8/2019).

Menurut Hengky Wadjaja, beberapa masalah baru yang muncul dan harus segera mendapatkan perhatian diantaranya, banyaknya anak-anak yang putus sekolah, pernikahan di bawah umur dan pelecehan seksual.

“Maka dari itu, kita perlu bahu membahu terus memantau proses pemulihan para korban bencana, serta memetik pembelajaran dalam berbagai kegiatan yang telah dilakukan terhadap respon bencana,” ujar Hengky Wadjaja.

Hal-Hal Yang Telah Dilakukan UNICEF dan WVI

UNICEF sendiri kata Hengky, sudah melakukan respon bencana Sulteng dari awal terjadinya bencana pada 28 September 2018 lalu, hingga saat ini atau 11 bulan pasca terjadinya bencana.

“UNICEF bertugas untuk memobilisasi konsultan perlindungan anak dan berupaya mempertemukan anak-anak yang terpisah dari orang tuanya akibat bencana. Sebanyak 47 anak berhasil dipertemukan dengan orang tuanya,” terang Hengky Widjaja.

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan UNICEF bersama WVI diantaranya; menyediakan tim untuk psikososial untuk anak-anak, melakukan respon tanggap darurat meliputi WASH, pendidikan dan perlindungan anak, melakukan kegiatan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan yang bekerjasama dengan WVI, program kesehatan di penampungan pengungsi dan huntara, program kesehatan di sekolah-sekolah, serta beberapa program kegiatan lainnya.

“Terbentuknya tagar #Sulteng Bangkit, serta terbentuknya kerjasama multi pihak seperti dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, LSM, Perguruan Tinggi serta pihak lain baik secara internasional maupun lokal juga merupakan bentuk kerja-kerja UNICEF bersama WVI,” jelasnya.

General Manager Zona Sulawesi dan Maluku Utara, Radika Pinto dalam sambutanya sekaligus membuka acara ini mengatakan, kegiatan ini terjadi karena kerjasama semua pihak.

“Tujuan acara ini, untuk melihat pembelajran- pembelajaran yang penting dari respon tanggap darurat yang bisa dikembangkan,” ucapnya.

Dikatakan, dalam cluster WASH saat ini, UNICEF dan WVI bertugas untuk mengkoordinir Pokja AMPL yang terdiri dari 40 lembaga di dalamnya. Hingga April 2019, telah dibangun 7.800 MCK, lebih dari 11.400 hygiene promotion yang sudah dilakukan.

Dalam kegiatan itu, ada enam standar pelayanan saat terjadinya bencana yakni promosi kesehatan, pasokan air bersih, pengolahan tinja, pengendalian vekrtor, pengendalian sampah atau limbah padat dan wabah penyakit.

Sekretaris Provisi (Sekprov), Hidayat Lamakarate saat menyampaikan materinya mengatakan, kehidupan masyarakat secara umum sudah kembali normal. Namun penanganan bencana sesungguhnya harus secara keseluruhan.

Masyarakat di pengugnsian memang belum nyaman, karena masih banyak keluarga yang tinggal disana, namun sudah diminta ke pemerintah kabupaten/kota untuk inventarisasi guna melihat apakah pengungsi benar- benar tidak memiliki rumah atau justru sebalinya.

“Bisa dikatakan bentuk bencana yang kemarin ialah “paket lengkap” yaitu gempa, tsunami, liquifaksi, longsor dan banjir bandang, dan respon kita ialah panik dan tidak siap, padahal kita tinggal di rawan bencana, maka dari itu pembelajran yang paling penting adalah harus disiapkan stok dan persediaan di rumah masing-masing karena kita tidak tahu siklus ini berulang di tahun keberapa,” katanya. JMY

Load More Related Articles
Load More In Palu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga...

Penderita HIV/AIDS di Kota Palu Meningkat Setiap Tahun

PALU, SULTENGNEWS.com – Penyakit HIV/AIDS di Kota Palu sejak tahun 2002 selalu menun…